Informasi
Hubungi Redaksi IAINews melalui email : humas@iai.id
Floating Left Ads
Floating Right Ads
banner 950x90

‘Bimaristan’, Jejak Sejarah Peradaban Islam; Cikal Bakal Lahirnya Rumah Sakit

banner 120x600
banner 468x60

KISAH tentang ‘Bimaristan’ dimulai dengan kedatangan delapan orang dari Urainah  ke Madinah dan menyatakan keislaman dan keimanan mereka di masa Rasulullah SAW.

Satu ketika, mereka menderita sakit (gangguan limpa). Atas perintah Rasullah Saw. mereka akhirnya dirawat di suatu tempat khusus (perawatan), yaitu satu kawasan penggembalaan ternak milik Baitul Mal di Dzi Jidr arah Quba’, tidak jauh dari unta-unta Baitul Mal yang digembalakan di sana.

Iklan ×

Selama masa perawatan,  mereka disediakan susu unta untuk dikonsumsi, hingga akhirnya mereka kembali pulih dan sehat.

Ketika Raja Mesir, Muqauqis, menghadiahkan seorang dokter kepada Rasullullah S.A.W., beliau kemudian menugaskan dokter tersebut untuk melayani masyarakat tanpa dipungut biaya.

Seiring perjalanan waktu, atas kepentingan dakwah dan jihad, serta semakin bertambah dan luasnya wilayah Islam, maka perhatian terhadap urusan kesehatan dan pengadaan fasilitas penunjang lainnya menjadi hal yang sangat penting.

Diceritakan bahwa terdapat tenda berjalan atau bangunan semi permanen untuk keperluan medis yang mengikuti pasukan Rasulullah S.A.W. kemanapun pergi.

Adalah Rufaidah binti Sa’ad al Aslamiyah, dialah perempuan pertama yang meminta kepada Rasulullah S.A.W. untuk ikut serta dalam peperangan, guna melakukan tindakan  pengobatan dan perawatan kepada para sahabat yang terluka di medan jihad.

Rufaidah bekerja di samping masjid Nabawi dengan mendirikan pusat kesehatan (sejenis tenda pengobatan).

Ketika masa perang datang, Rufaidah mampu menghimpun dan mengorganisir kalangan perempuan untuk menjadi pelayan pengobatan disaat perang, termasuk diantaranya perang Badar, Khaibar,dan perang Khandaq.

Rasulullah Saw. pernah memerintahkan untuk mengevakuasi Sa’ad ibn Mu’adz yang terkena panah pada lengannya saat perang Khandaq berlangsung ke tenda rufaidah agar diberi pertolongan.

Pada peristiwa tersebut Rasulullah SAW. menemui pasukan yang terluka di tenda Rufaidah beberapa kali dalam sehari. Keberadaan tenda tersebut terkenal luas di kalangan pasukan kaum muslimin dengan nama “khaimah Rufaidah”.

Keberadaan tenda pengobatan berjalan yang sangat sederhana tersebut terus berlangsung hingga masa sahabat.

Adapun sistem penggajian bagi mereka yang terlibat berjalan sebagaimana gaji para tentara yang dibayar sesuai tingkatan dan keahlian, pembiayaannya diambil dari kas Baitul Mal.

Baca Juga  The Silent Killer Merebut Tahta Kematian Dunia: 1,23 Juta Jiwa Melayang Akibat Tuberkulosis pada 2024

Sebagaimana yang berlangsung di masa Khalifah Umar bin al-Kaththab, beliau menetapkan pembiayaan bagi para penderita lepra di Syam dari kas Baitul Mal.

Demikian seterusnya, di era Bani Umayyah, masa kepemimpinan Khalifah al Walid- bin Abdul Malik pada tahun 710 M, pola penanganan kesehatan sudah mulai dilakukan secara terorganisir.

Diawali dengan pembangunan ‘Bimaristan’ di kota Damaskus, Suriah untuk pengobatan para penderita lepra serta kebutaan. Tenaga dokter dan tenaga perawat mendapatkan gaji yang juga diambil dari kas Baitul Mal.

‘Bimaristan’ atau ‘Maristan’ sendiri merupakan serapan dari bahasa Persia. ‘Bimar’ berarti penyakit, dan ‘stan’ berarti lokasi atau tempat.

Meskipun pengorganisasian ‘Bimaristan’ ini baru tahap awal dan belum sempurna, namun konstribusinya sangatlah besar. Kelak kemudian dikenal dengan istilah modernnya disebut sebagai  ‘Rumah Sakit’ atau ‘al-Mustasyfa’.

Hingga tibalah di era Abbasiyah, Rumah Sakit Islam benar-benar terwujud keberadaanya. Khalifah Harun al Rasyid yang sangat popular pada masa kejayaan Khilafah Abbasiyah memiliki Rumah Sakit Modern dengan bangunan megah di Baghdad sekitar tahun 786 M.

Pelayanan Rumah Sakit Islam Modern tersebut sudah mencakup kesehatan jiwa, kebidanan dan kandungan.  Khalifah Harun al Rasyid juga membangun Baitul Hikmah, yang berfungsi sebagai pusat penelitian penyakit, perpustakaan, dan observatorium.

Rumah Sakit lainnya yang sangat terkenal adalah Rumah Sakit al-A’dudi.  Muhammad ibn Zakariya al-Razi dipercaya A’du al Dawlah ibn Buwayh pada tahun 981 M untuk membangun Rumah Sakit al-A’dudi tersebut.

Konsep pembangunan dan pemilihan lokasi beberapa Rumah Sakit di Baghdad merupakan ide brilian dari ar-Razi, dokter Muslim terkemuka yang dikenal oleh Barat dengan nama Razes.

Demi memilih lokasi terbaik untuk bangunannya, sebuah eksperimen dilakukan untuk mengetahui kondisi kebersihan lingkungannya.

Ar-Razi menempatkan empat buah daging mentah selama satu malam di beberapa penjuru, tempat daging yang paling segar dipilih sebagai tempat berdirinya Rumah Sakit.

Pada masa itu, ar-Razi sudah menggunakan obat sirup untuk pasiennya. Selain itu, konsep diet dari dapur Rumah Sakit, pengaturan udara dan suhu ruangan pasien, ruang isolasi penyakit menular, serta upaya pencegahan suatu penyakit juga merupakan buah pemikiran al-Razi.

Baca Juga  Momen Idul Adha, Pesan Ketua PD IAI Sulawesi Selatan : Jaga Kebersamaan, Sukseskan Rakernas dan PIT 2025

Rumah Sakit ini kemudian berkembang menjadi pusat pengobatan dengan berbagai macam penambahan struktur organisasi.

Dalam prosesnya ditambahkan tenaga medis dan staf serta memberikan tambahan fasilitas lain seperti gudang obat, dapur makanan, serta perahu ‘ambulance’.

Perahu ‘ambulance’ disediakan dalam jumlah banyak dan disediakan untuk orang miskin. Ini semua menjadi cikal bakal melahirkan Rumah Sakit lainnya di seluruh wilayah Khilafah Islam.

Selanjutnya di sekitaran tahun 1156 M, Imam Nuruddin Zanki membangun Rumah Sakit al Nuri. Dalam sejarah perkembangan Rumah Sakit, Rumah Sakit inilah yang pertama kali di dunia menggunakan rekam medis pasien.

Di Rumah Sakit ini pula pertama kalinya operasional Rumah Sakit berlangsung 24 jam dengan kata lain berfungsi sebagai Unit Gawat Darurat pertama di dunia.

Saat itu, fakultas kedokteran berkembang pesat dengan perpustakaan terlengkap. Rumah sakit ini banyak terinspirasi oleh karya Ibnu Sina yang literaturnya hingga 450 buku yang disalin ulang dan dikembangkan pada fakultas kedokteran tersebut.

Sementara itu, pada tahun 1190 M, di kawasan Afrika Utara tepatnya di Maroko terdapat Rumah Sakit Marakesh yang dibangun oleh al-Manshur Ya’qub ibn Yusuf.

Saat itu Marakesh merupakan Rumah Sakit besar nan indah. Halamannya dipenuhi bunga dan pepohonan yang menghasilkan beraneka jenis buah-buahan untuk dikonsumsi.

Tak kalah hebat, di tahun 1285 M, Sultan Qalaun al-Mashur membangun rumah sakit yang sangat mewah di Kairo (al Fustat), popular dengan nama Rumah Sakit Qalawun.

Rumah sakit ini terkenal dengan kualitas akurasi dan pengorganisasiannya. Mampu menampung lebih dari empat ribu pasien setiap harinya.

Sistem yang dibangun termasuk perawatan (penyakit umum, bedah, patah tulang, demam, penyakit mata, dlsb) dan memberi makan pasien di bangsal serta mendidik perawat dan dokter sejak usia muda dengan proses seleksi.

Di penggalan tahun1366 M, di Andalusia terdapat rumah sakit yang juga terkenal, yakni Rumah Sakit Granada, satu dari sekian banyak rumah sakit yang ada di masa itu. Tercatat, di ibu kota Cordoba saja ada lebih dari lima puluh rumah sakit lainnya dengan kualitas yang hampir merata.

Baca Juga  Gubernur Sulawesi Selatan Resmikan Program ‘Andalan Sehati’, Upaya Meningkatkan Derajat Kesehatan Masyarakat

Berlanjut kisah di era Muhammad al Fatih di kisaran tahun 1453  M, perhatian sang Khalifah terhadap keberadaan rumah sakit sangat mengesankan.

Al Fatih mewakafkan sebagian besar hartanya untuk membangun fasilitas publik termasuk rumah sakit. Ada beberapa rumah sakit terkenal saat itu, diantaranya Darusy Syifa, Darul ‘Afiyah dan Darush Shihah.

Untuk memberikan pelayan yang prima kepada warga, Muhammad al Fatih menerapkan beberapa kebijakan untuk rumah sakit. Rumah sakit tidak boleh memungut bayaran sedikitpun dari pasien. Hal ini berlaku bagi siapa saja tanpa melihat latar belakang pasien.

Dalam proses rekrutmen pegawai rumah sakit khususnya bagi juru masak, disyaratkan  memahami segala bentuk makanan yang cocok dengan kondisi pasien dari sisi kandungan protein, vitamin dan gizinya.

Para dokter wajib mengunjungi pasien dua kali dalam sehari dan melarang dokter untuk memberikan obat tertentu kepada pasien kecuali setelah melakukan diagnose yang detail.

Di setiap Rumah Sakit ada dua orang dokter umum dan ditambah dengan tenaga spesialis di bidangnya seperti ahli penyakit dalam, ahli bedah, ahli farmasi, sejumlah perawat dan pengawas keamanan. al Fatih mensyaratkan pada semua yang bertugas di Rumah Sakit untuk memiliki sifat qana’ah, rasa asih dan kemanusiaan.

Demikianlah adanya. Di masa peradaban pemerintahan Islam, ‘Bimaristan’ tak hanya menjadi pusat pengobatan, tetapi juga berfungsi sebagai kampus, tempat menimba ilmu dan riset di bidang kesehatan. Sebuah tempat dimana pendidikan para tenaga kesehatan yang profesional berlangsung.

Dari kisah ini kita memahami bahwa Islam mempunyai sejarah yang kuat dalam membangun dunia. Keberadaan ‘Bimaristan’ menjadi bukti rekaman sejarah tentang betapa tingginya peradaban Islam.

Fakta ini sekaligus memberikan gambaran kemajuan negara Khilafah dalam mengembangkan sains dan teknologi di bidang kesehatan, mendahului peradaban Barat.

Sistem pengobatan dan pelayanan warga negara dilaksanakan secara manusiawi berdasarkan bimbingan Ilahi. Hal ini karena Islam sangat memperhatikan urusan kesehatan manusia.***

banner 325x300
```

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

banner 950x90