MAKASSAR, IAI News — Tantangan dunia kefarmasian yang semakin dinamis menuntut para praktisinya untuk terus bertransformasi. Tidak hanya dituntut andal dalam pelayanan klinis dan manajerial, apoteker Indonesia kini juga didorong menguasai keterampilan komunikasi publik sebagai seorang pendidik maupun instruktur. Menjawab kebutuhan tersebut, LPK (Lentera Pelatihan Kesehatan) Makassar menghadirkan program eksklusif bertajuk “PHARMATRAINER (Certified Trainer)”.
Program ini dirancang khusus untuk membantu para apoteker naik level menjadi trainer yang profesional, kompeten, dan percaya diri saat tampil di depan publik. Melalui pelatihan berbasis kompetensi ini, peserta tidak hanya dibekali teknik penyampaian materi yang efektif dan menarik, tetapi juga berkesempatan meraih gelar nonakademik Certified Trainer (CT) yang dapat membuka peluang pengembangan karier sekaligus sumber pendapatan baru di bidang pelatihan profesional.
Para apoteker yang mengikuti pelatihan ini akan memperoleh ekosistem pembelajaran yang komprehensif. Mereka dipersiapkan agar mampu menyusun dan menyampaikan materi pelatihan berbasis kompetensi secara profesional, membangun kepercayaan diri saat berbicara di depan publik, serta menguasai teknik penyampaian (delivery skill) yang interaktif sehingga materi yang kompleks dapat dipahami dengan lebih mudah. Setelah dinyatakan kompeten, peserta juga berhak menyandang gelar nonakademik Certified Trainer (CT) yang dibuktikan dengan sertifikat kompetensi.
Untuk memberikan fleksibilitas bagi para profesional yang memiliki kesibukan tinggi, seluruh rangkaian kegiatan diselenggarakan secara full online melalui Zoom Meeting. Program diawali dengan Bimbingan Teknis (Bimtek) intensif yang berlangsung pada 7–9 Juni 2026, pukul 13.00–16.00 WIB, kemudian dilanjutkan dengan Uji Kompetensi (Ujikom) dan Sertifikasi pada Sabtu, 20 Juni 2026, mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai.
Program Pharmatrainer mengacu pada standar pelatihan kerja berbasis kompetensi dengan target pencapaian sembilan unit kompetensi Kualifikasi 3. Selama mengikuti bimtek, peserta akan dibekali kemampuan mengidentifikasi standar kompetensi dan kualifikasi kerja, menyusun perencanaan pelatihan secara sistematis, melaksanakan pelatihan tatap muka (face-to-face) dengan teknik komunikasi yang efektif, mengelola bahan ajar dan peralatan pelatihan secara profesional, menerapkan prinsip Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di lingkungan pelatihan, serta melakukan evaluasi kompetensi peserta, baik secara individu maupun melalui metode on-the-job evaluation.
Dengan mengikuti program ini, apoteker tidak hanya memperoleh sertifikat kompetensi, tetapi juga memiliki bekal untuk berkiprah sebagai trainer, pembicara, dosen tamu, mentor, maupun konsultan di bidang kefarmasian. Kemampuan menyampaikan materi ilmiah secara komunikatif dan mudah dipahami diharapkan mampu meningkatkan daya saing sekaligus memperkuat posisi profesi apoteker di berbagai bidang.
Program ini menjadi peluang bagi para apoteker yang ingin mengembangkan kompetensi di luar praktik kefarmasian konvensional. Melalui pelatihan yang terstruktur dan berbasis kompetensi, peserta diharapkan mampu menjadi Pharmatrainer profesional yang siap berkontribusi dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia kefarmasian di Indonesia.













