Informasi
Hubungi Redaksi IAINews melalui email : humas@iai.id
Floating Left Ads
Floating Right Ads
banner 950x90

Radiofarmaka : Saat Nuklir Menjadi Penyelamat Nyawa

Penulis: apt. Cahyani Purnasari, S.Si, M.Si (TMN IAI)Editor: apt. Busman Nur
banner 120x600
banner 468x60

IAI News — Apa yang akan kamu pikirkan jika mendengar kata “nuklir”? Mayoritas orang pasti akan memikirkan bom, perang, kerusakan alam, bahkan senjata pemusnah massal. Jika mengingat sejarah penggunaan nuklir atau mungkin setelah menonton film “Oppenheimer”, yang terlintas saat memikirkan kata nuklir sering kali hanyalah riwayat yang kelam. Tapi tahukah kamu bahwa kini nuklir bisa menyelamatkan banyak orang?

Perjalanan pemanfaatan nuklir di bidang medis ini dimulai dari sebuah ketidaksengajaan, jauh sebelum teknologi modern ada. Pada tahun 1857, seorang kapten Perancis, Claude Felix Abel Niepce de Saint Victor, secara tidak sengaja menemukan bahwa garam uranium bisa menghasilkan jejak cahaya pada pelat foto. Meski awalnya dianggap sebagai eksperimen biasa, penemuan ini menjadi benih yang memicu rasa penasaran ilmuwan lain. Puluhan tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1896, Antoine Henri Becquerel melanjutkan pemecahan teka-teki tersebut dan berhasil membuktikan bahwa ada energi tersembunyi yang dipancarkan secara alami oleh atom-atom tertentu, khususnya uranium. Fenomena ini kini dikenal sebagai radioaktivitas.

Iklan ×
Radiofarmaka FDG (F-18)

Estafet ilmu ini mencapai puncaknya melalui riset pasangan legendaris, Pierre dan Marie Curie. Jasa para penemu ini membuat nama mereka diabadikan menjadi satuan resmi untuk mengukur radioaktivitas atom di seluruh dunia, yaitu “Becquerel” (Bq) dan “Curie” (Ci).

Berawal dari pengamatan garam uranium, nuklir kini tidak lagi hanya menjadi objek penelitian di laboratorium, tetapi berevolusi menjadi alat medis yang sangat presisi. Pernahkah terbayang bahwa setetes cairan berisi atom radioaktif bisa menjadi “mercusuar” yang menandai sel kanker yang tersembunyi jauh di dalam jaringan tubuh?

Baca Juga  Bukan Sekadar Label, Halal Kini Bagian dari Standar Mutu

Dalam dunia medis, khususnya kedokteran dan farmasi nuklir, istilah radiofarmaka kini semakin sering dijumpai di berbagai artikel maupun berita. Jadi sebenarnya siapa si “radiofarmaka” ini? Radiofarmaka, atau dikenal juga dengan istilah radiopharmaceutical, merupakan sebutan untuk “obat pintar” yang dirancang untuk mencari lokasi penyakit atau penyebab penyakit tertentu di dalam tubuh dengan bantuan isotop radioaktif atau radioisotop.

Obat pintar ini bekerja seperti penanda GPS yang memberikan isyarat berupa “lampu kecil” (isotop radioaktif) yang menempel pada suatu “kendaraan” atau “pembawa” (molekul obat) yang tahu persis ke mana harus pergi di dalam tubuh. Radiofarmaka kini digunakan dengan dua tujuan, yaitu melihat fungsi organ (diagnostik) atau menghancurkan sel kanker (terapi) tanpa pembedahan besar.

Dalam proses diagnosis menggunakan radiofarmaka, misalnya fluordeoksiglukosa (FDG), zat ini diinjeksikan ke dalam tubuh untuk mendeteksi beberapa kondisi, seperti keberadaan sel kanker, kesehatan organ seperti otak dan jantung, serta adanya inflamasi di dalam tubuh. Hal ini dapat dilakukan karena radiofarmaka FDG merupakan gabungan antara radioisotop Fluor-18 (F-18) dan analog glukosa (molekul obat pembawa).

Baca Juga  Belanja Gembira Bersama Apoteker, Senyum 48 Anak Yatim Warnai Ramadan di Cilegon

Analog glukosa dari FDG tersebut akan dibawa oleh aliran darah ke daerah yang membutuhkan glukosa, mengikuti alur fisiologis tubuh. Sel-sel kanker adalah “pencuri ulung” yang sangat lapar akan energi. Karena radiofarmaka FDG mengandung gula, sel kanker akan berebut untuk “memakannya” tanpa sadar bahwa gula tersebut berisi “lampu pelacak” atau tracer yang akan menunjukkan keberadaan mereka kepada dokter.

Radiofarmaka yang telah masuk ke dalam sel selanjutnya akan memancarkan radiasi yang dapat menembus tubuh dan ditangkap oleh kamera radiasi khusus pada alat seperti PET-scan dan SPECT. Melalui cara ini, dokter bisa melihat bagaimana jantung berdenyut atau bagaimana ginjal bekerja secara real time lewat pancaran radiasi tersebut.

Jadi, apakah setelah diinjeksikan radiofarmaka kita akan menjadi superhero seperti Hulk dan Spider-Man? Jawabannya jelas tidak. Sama seperti obat pada umumnya, radiofarmaka juga memiliki waktu paruh atau half-life. Namun, untuk radiofarmaka, umurnya sangat pendek dan sering disebut dengan istilah radioactive decay atau peluruhan radioaktif. Ibarat baterai yang akan habis sendiri dalam hitungan jam dan kemudian keluar dari tubuh melalui urine atau keringat. Untuk FDG, waktu paruh peluruhannya sekitar 1 jam 50 menit. Selain itu, dosis isotop yang digunakan dalam radiofarmaka sangat kecil dan diawasi ketat oleh apoteker spesialis nuklir.

Baca Juga  Apoteker Bengkulu Utara Turun ke Jalan, Bagikan Takjil dan Edukasi Kesehatan Lewat Program “Apoteker Berkurma”

Teknologi kedokteran nuklir ini memberikan harapan hidup yang jauh lebih besar karena dapat mendeteksi penyakit jauh sebelum muncul gejala atau manifestasi yang berat. Berbagai jenis kanker yang sulit terdeteksi pada fase awal kini dapat lebih mudah ditemukan melalui pemanfaatan radiofarmaka untuk diagnosis. Pemanfaatannya dalam membunuh sel kanker juga sangat besar karena mampu menyerang sel kanker secara akurat tanpa merusak terlalu banyak sel sehat di sekitarnya.

Kini, pemanfaatan nuklir dalam dunia farmasi dan kedokteran menjadi bukti kemajuan peradaban manusia dalam melawan penyakit yang dulunya sulit disembuhkan.

Jadi, jangan takut lagi jika mendengar kata nuklir atau radiasi di dunia kesehatan. Teknologi di bidang ini justru berpotensi meningkatkan kesempatan pemulihan kondisi pasien secara lebih optimal. Harapannya, kecanggihan teknologi kedokteran nuklir ini tidak hanya menjadi milik warga di Pulau Jawa saja. Masyarakat di seluruh wilayah Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, berhak mendapatkan akses diagnosis yang cepat dan tepat melalui layanan pemanfaatan radiofarmaka demi tingkat kesembuhan yang lebih baik.

Kemajuan di bidang kesehatan, khususnya farmasi, semakin melesat. Jangan biarkan ketidaktahuan menghambat kesembuhan. Jika ada keraguan akibat belum familiar dengan terapi obat yang dijalani, jangan ragu untuk menyapa dan berdiskusi dengan apoteker di layanan kefarmasian terdekat.

banner 325x300
```

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

banner 950x90