Samarinda, IAI News — Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Samarinda (STIKSAM) menggelar Workshop Pendidikan Tinggi bertajuk “Digital Health Innovation : Peluang dan Tantangan SDM Kesehatan Masa Depan” di Aula Lantai 6 STIKSAM, Rabu (24/6). Kegiatan yang berkolaborasi dengan Ketua Komisi X DPR RI, Dr. Ir. Hetifah Sjaifudian, serta Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) ini menjadi forum strategis untuk membahas penguatan sumber daya manusia (SDM) kesehatan dalam menghadapi era transformasi digital.
Workshop yang diinisiasi oleh Ketua Komisi X DPR RI, Dr. Ir. Hetifah Sjaifudian, ini terselenggara melalui kolaborasi dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) serta STIKSAM. Kegiatan tersebut menjadi forum strategis yang mempertemukan akademisi, pemangku kebijakan, dan institusi pendidikan tinggi kesehatan untuk membahas penguatan sumber daya manusia (SDM) kesehatan dalam menghadapi era transformasi digital.
Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Yayasan Kagama Kalimantan Timur, Dr. M. Ir. Fitriansyah, yang juga menjadi narasumber; Ketua STIKSAM, apt. Supomo, M.Si.; Prof. Dr. Haviluddin, dosen Universitas Mulawarman (Unmul), sebagai narasumber; serta perwakilan dari berbagai perguruan tinggi kesehatan, di antaranya STIKES Dirgahayu, STIKES Mutiara Mahakam, ITKES Wiyata Husada, Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT), dan Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Kalimantan Timur. Kehadiran berbagai institusi tersebut mencerminkan komitmen bersama dalam mempersiapkan SDM kesehatan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Dalam sambutannya, Hetifah Sjaifudian menegaskan bahwa transformasi digital merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari transformasi sistem kesehatan nasional. Menurutnya, meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan kesehatan harus diimbangi dengan inovasi yang mampu memperluas akses sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan.
“Transformasi kesehatan tidak bisa dipisahkan dari transformasi digital. Inovasi digital bukan hanya sekadar aplikasi, melainkan menjadi landasan untuk mengubah model layanan sekaligus meningkatkan kompetensi sumber daya manusia,” tegas Hetifah.
Ia menambahkan bahwa pemanfaatan teknologi digital di sektor kesehatan bertujuan untuk meningkatkan mutu pelayanan, memperluas akses layanan, meningkatkan efisiensi, serta menjamin keselamatan pasien.
Pada kesempatan yang sama, Fitriansyah memaparkan bahwa perkembangan teknologi, seperti Internet of Things (IoT) dan Artificial Intelligence (AI), telah mengubah lanskap pelayanan kesehatan secara global. Menurutnya, penerapan AI dan machine learning kini telah dimanfaatkan dalam proses pembelajaran diagnostik dengan tingkat akurasi lebih dari 94 persen dalam membantu mendiagnosis berbagai penyakit.
Meski demikian, Fitriansyah mengingatkan bahwa peningkatan kompetensi digital masih menjadi tantangan, khususnya bagi tenaga pendidik di bidang kesehatan. Selain itu, pemerataan distribusi tenaga kesehatan di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) juga masih memerlukan perhatian bersama.
Sementara itu, Ketua STIKSAM, apt. Supomo, M.Si., menyampaikan apresiasi atas dukungan dan perhatian Hetifah terhadap pengembangan pendidikan tinggi kesehatan di Kalimantan Timur. Menurutnya, workshop ini memberikan wawasan yang sangat relevan bagi mahasiswa sebagai bekal menghadapi dunia kerja yang semakin terdigitalisasi.
“Kegiatan ini menjadi langkah awal yang penting dalam mendukung transformasi kesehatan di Kalimantan Timur,” ujar Supomo.
Melalui kegiatan ini, diharapkan terbangun sinergi yang semakin kuat antara pemerintah, perguruan tinggi, dan para pemangku kepentingan dalam menyiapkan SDM kesehatan yang unggul, adaptif, dan mampu menjawab tantangan transformasi digital di masa depan.













