Informasi
Hubungi Redaksi IAINews melalui email : humas@iai.id
Floating Left Ads
Floating Right Ads
banner 950x90

Bakal Jadi Penyebab Kematian Tiga Besar di 2030, Apoteker Punya Peran Penting Perangi PPOK

banner 120x600
banner 468x60

JAKARTA, IAINews –  Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) diperkirakan akan menjadi penyebab utama kematian ketiga di seluruh dunia pada tahun 2030. Menurut data WHO saat ini tercatat lebih dari 3 juta orang meninggal setiap tahun akibat PPOK.

Kondisi ini menjadi catatan penting, upaya pencegahan dan pengelolaan yang efektif. Dalam hal ini apoteker memiliki peran penting dalam upaya memerangi PPOK di Indonesia.

Iklan ×

‘’PPOK merupakan salah satu tantangan kesehatan global yang semakin mendapat perhatian saat ini,’’ terang apt. Drs Pujianto, Direktur Utama PT Pharma Tekno Solusi (PharmaQ) dalam keterangannya kepada IAINews.

PharmaQ kembali mendapat mandat untuk menggelar webinar nasional Ikatan Apoteker Indonesia bertajuk ‘’Right Device sebagai Aspek Penting dalam Keberhasilan Terapi PPOK’’.

Bekerjasama dengan Badiklat IAI (Badan Pendidikan dan Latihan) serta PT Anugerah Pharmindo Lestari (APL) webinar akan diselenggarakan pada Sabtu, 11 Juli 2026 mulai pukul 09.00 – 12.00 WIB secara daring melalui Zoom.

PPOK adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kelompok penyakit par kronik yang melibatkan gejala utama seperti sesak nafas, batuk kronis dan peningkatan produksi dahak.

Baca Juga  Resmi! Program Studi Profesi Apoteker UNJA Hadir untuk Wujudkan Apoteker Profesional!

Dua bentuk paling umum dari PPK adalah bronkitis kronik dan emfisema, meskipun seringkali keduanya terjadai bersamaan.

Penyakit ini berkembang secara progresif dan dapat menyebabkan oenurunan kualitas hidup yang signifikan.

Menurut apt. Pujianto, pengelolaan PPOK melibatkan pendekatan beragam yang mencakup perubahan gaya hidup, terapi farmakologi dan rahabilitas paru.

‘’Merokok merupakan salah satu faktor risiko utama, dan penghentian merokoh adalah langkah kunci perubahan gaya hidup dalam menghentikan progesivitas penyakit,’’ tuturnya.

Terapi farmakologi melibatkan bronkodilator dan kortikosteroid untuk mengendalikan gejala. Selain itu, rehabilitasi paru dan program olahraga juga terbukti membantu memperbaiki kualitas hidup pasien.

Dalam webinar ini, narasumber akan menjelaskan secara rinci langkah-langkah yang akan diambil untuk memahami lebih lanjut tentang PPOK, termasuk penelitian epidemiologi, pengembangan metode diagnosis yang lebih baik, dan perbaikan bersama pakar di bidangnya.

Webinar ini juga akan melibatkan peserta dalam pembahasan topik menarik dan terupdate.

‘’Upaya ini diharapkan dapat membantu mengurangi beban global PPOK dan meningkatkan kualitas hidup individu yang terkena dampaknya,’’ papar apt. Pujianto.

Baca Juga  5 Alasan Kenapa Mesti Ikut Rakernas dan PIT IAI 2025 di Makassar Agustus Mendatang

Webinar akan menghadirkan narasumber Dr. dr. Irawaty Djaharuddin, Sp.P(K), MHPE, FISR, seorang dokter spesialis penyakit dalam dari Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin-RS Wahidin Sudirohusono, Makassar.

‘’Dalam webinar ini saya akan membawakan topik ‘Inhaler Tepat, terapi Optimal : Perspektif Klinis sesuai Profil Pasien’,’’ ungkap dr Irawaty.

Dalam sesi pertama tersebut, dr. Retno Ariza akan membahas diagnosis PPOK memerlukan evaluasi media yang cermat. Pemeriksaan fisik, tes fungsi paru dan gambaran radiologi digunakan untuk mengonfirmasi diagnosis.

‘’Saya juga akan membahas tes fungsi paru yang meliputi spirometri, yang mengukur kapasitas paru dan aliran udara. Selain itu, kriteria diagnosis juga mencakup riwayat gejala pernafasan yang kronis, seperti batuk, produksi dahak, dan sesak nafas,’’ papar dr. Irawaty.

Selain itu, sesi pertama ini juga akan membahas terapi farmakologi melibatkan bronkodilator dan kortikosteroid untuk mengendalikan gejala PPOK.

Di sesi kedua akan hadir apt. Indri Mulyani Bunyamin, S.Farm, MARS, Kepala Seksi Kefarmasian Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta.

‘’Di sesi kedua ini saya akan membawakan materi mengenai ‘Peran Krusial Apoteker dalam Menjamin Keberhasilan Terapi PPOK, terang apt. Indri Mulyani yang juga pernah menduduki jabatan sebagai Kepala Seksi Pelayanan Penunjang, RSUD Kebayoran Lama, Jakarta ini.

Baca Juga  Sisi Lain Neuro-Marketing: Ketika Janji Tak Terpenuhi

Apt. Indri Mulyani akan menyampaikan pembahasan mengenai peran apoteker dalam mengedukasi pasien PPOK dan bagaimana pasien dapat mematuhi terapi yang diberikan.

Mantan Ketua Hisfarkesmas (Himpunan Semintar Farmasi Kesehatan Masyarakat) PP IAI ini juga akan membahas seputar PIO (Pelayanan Informasi Obat), konseling dan monitoring yang penting dilakukan oleh apoteker dalam memastikan pasien mendapatkan terapi yang tepat serta cara menggunakan inhaler dengan tepat.

Webinar yang diharapkan akan diikuti oleh sekitar 1.000 apoteker dari seluruh Indonesia ini akan dipandu oleh apt. Latifah Mahaya Sarifah, S.Si, M.Si, dari Universitas Mahasaraswati Denpasar.

Dari webinar ini diharapkan akan terbentuk kolaborasi multi-stakeholder untuk berkontribusi dalam mengatasi masalah PPOK di Indonesia, melalui peningkatan pemahaman Farmasi (Apoteker dan Tenaga Vokasi) terkait strategi efektif dalam optimalisasi terapi di era JKN sesuai GOLD (Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease).***

banner 325x300
```

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

banner 950x90