MAKASSAR, IAI News — Indonesia sebagai negara yang rawan bencana membutuhkan kesiapsiagaan yang matang serta kolaborasi lintas sektor dalam upaya pengurangan risiko bencana. Menjawab tantangan tersebut, sinergi kemanusiaan yang strategis terwujud melalui Seminar Kebencanaan Nasional yang digelar di Gedung IPTEKS Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar.
Mengusung tema “Relawan Kemanusiaan dalam Pengurangan Risiko Bencana di Indonesia”, kegiatan yang berlangsung pada Kamis (11/6/2026) ini menjadi ruang diskusi yang interaktif dan edukatif sejak pukul 09.00 WITA hingga selesai. Tidak hanya berfokus pada pembahasan teoritis, seminar ini juga dirangkaikan dengan aksi nyata kemanusiaan melalui kegiatan donor darah bertajuk “Setetes Darah Anda, Menyelamatkan Sesama.”
Kegiatan Seminar Kebencanaan dibuka oleh moderator Ibu Maya Alkhaerat
Seminar yang dipandu oleh Maya Alkhaerat selaku moderator menghadirkan tiga narasumber berkompeten dari berbagai instansi. Ketiganya mengulas secara komprehensif tentang mitigasi bencana, peta risiko, hingga manajemen penyelamatan dari berbagai perspektif.
Peta Risiko dan Kesiapsiagaan Sulawesi Selatan
Sesi materi pertama dibuka oleh Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Sulawesi Selatan, Dr. Amson Padolo, S.Sos., M.Si. Melalui materi berjudul “BPBD: Indeks Risiko Bencana Sulawesi Selatan Tahun 2026”, beliau memaparkan data penting mengenai wilayah-wilayah rawan bencana serta strategi kebijakan pemerintah daerah dalam menekan angka risiko bencana di Sulawesi Selatan.
Perspektif akademik dan saintifik kemudian disampaikan oleh Kepala Pusat Studi Kebencanaan Universitas Hasanuddin, Ilham Alimuddin, S.T., M.GIS., Ph.D. Dalam paparannya yang berjudul “Pusat Studi Kebencanaan: Kegempaan di Sulawesi dan Upaya Mitigasinya”, ia menjelaskan kondisi tektonik Pulau Sulawesi serta pentingnya mitigasi berbasis riset geospasial untuk meminimalkan dampak terhadap korban jiwa maupun kerusakan infrastruktur.
Sesi seminar ditutup oleh perwakilan Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar (Basarnas), Nurfajri Mursalin, S.I.Kom. Melalui materi “Kantor SAR: Penanganan Bencana Alam dan Peran Potensi Organisasi SAR Mahasiswa”, ia menegaskan pentingnya keterlibatan pemuda dan mahasiswa sebagai potensi SAR yang terlatih dan responsif dalam situasi tanggap darurat.
Kolaborasi Lintas Sektor dan Aksi Nyata Kemanusiaan
Kegiatan ini tidak hanya menjadi wadah transfer pengetahuan, tetapi juga momentum memperkuat jejaring relawan kemanusiaan. Salah satu elemen penting yang turut berkolaborasi aktif adalah Apoteker Tanggap Bencana (ATB) PD IAI Sulawesi Selatan.
Kehadiran ATB Sulsel mempertegas bahwa penanggulangan bencana dari sektor kesehatan, khususnya manajemen logistik obat, edukasi kesehatan, serta pemulihan trauma pascabencana, merupakan bagian yang sangat krusial dalam rantai penyelamatan korban.

Tim ATB Sulsel pada kegiatan ini diwakili oleh apt. Yuri Pratiwi Utami, apt. Fajrinah, dan apt. Rusmin. Keterlibatan para apoteker ini menjadi bukti nyata bahwa profesi apoteker memiliki peran strategis dalam mendukung respons kebencanaan yang cepat, tepat, dan terintegrasi.
Sejalan dengan jalannya seminar, antusiasme peserta juga terlihat pada kegiatan donor darah. Ratusan kantong darah berhasil dikumpulkan dari peserta, mahasiswa, dan relawan yang hadir. Aksi ini menjadi implementasi nyata dari semangat kerelawanan, membuktikan bahwa kepedulian terhadap sesama dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana namun berdampak besar.
Melalui sinergi antara pemerintah (BPBD), akademisi (Pusat Studi Kebencanaan Unhas), otoritas penyelamat (Basarnas), organisasi profesi (ATB PD IAI Sulsel), dan mahasiswa, seminar ini diharapkan mampu melahirkan rekomendasi strategis serta memperkuat barisan relawan kemanusiaan yang tangguh di Indonesia, khususnya di Sulawesi Selatan.













