Informasi
Hubungi Redaksi IAINews melalui email : humas@iai.id
Floating Left Ads
Floating Right Ads
banner 950x90

Kesemutan Tak Selalu Sepele, Apoteker Diminta Lebih Jeli Mendeteksi Neuropati Perifer

banner 120x600
banner 468x60

JAKARTA, IAINews — Kesemutan kerap dianggap sebagai keluhan sederhana. Duduk terlalu lama, salah posisi tidur, atau terlalu banyak beraktivitas sering disebut sebagai penyebabnya. Padahal, sensasi seperti ditusuk jarum, terbakar, kebas, atau seperti tersengat listrik yang berulang dapat menjadi tanda adanya gangguan pada saraf perifer.

 

Iklan ×

‘’Masalahnya, tidak semua pasien datang ke apotek dengan mengatakan dirinya mengalami neuropati. Sebagian hanya mengeluhkan kaki pegal, sulit tidur, nyeri, atau merasa tidak nyaman ketika berjalan,’’ ungkap Dr. apt. Lusy Noviani, MM dalam webinar ‘Komunikasi Efektif dalm Manajemen Neuropati Perifer, Srategi Terapi Vitamin Neurotropik’ hari ini, Sabtu, 5 September 2026.

Webinar yang diikuti oleh lebih dari 600 peserta ini diselenggarakan oleh Ikatan Apoteker Indonesia bekerjasama dengan PT Pharma Tekno Solusi (PharmaQ), Badiklat IAI, Kemenkes RI dengan dukungan penuh dari P&G Health.

Dipandu oleh apt. Dwi Arymbhi Sanjaya, Dr. apt. Lusy Noviani menjelaskan, berkaitan dengan keluhan ini, tenaga kefarmasian dinilai memiliki posisi strategis untuk mengenali kemungkinan neuropati perifer sejak awal, terutama ketika pasien datang untuk membeli obat atau suplemen secara mandiri.

Dalam webinar ini, Dr. apt. Lusy Noviani staf pengajar Universitas Atmajaya Jakarta ini menekankan pentingnya mengubah pola pelayanan dari sekadar menunggu keluhan pasien menjadi lebih proaktif dalam menggali informasi.

“Jangan menunggu pasien mengeluh,” menjadi salah satu pesan penting dalam pendekatan tersebut.

Tentang Neuropati Perifer

Neuropati perifer merupakan gangguan pada saraf di luar otak dan sumsum tulang belakang. Pada neuropati perifer diabetik, misalnya, keluhan dapat berupa rasa terbakar, kesemutan, nyeri seperti tertusuk atau tersengat listrik, hingga mati rasa. Gangguan pada saraf sensorik juga dapat menyebabkan masalah keseimbangan dan perubahan cara berjalan.

Yang membuat kondisi ini berbahaya adalah sebagian pasien tidak merasakan gejala yang jelas. American Diabetes Association mencatat bahwa hingga sekitar separuh kasus neuropati perifer diabetik dapat bersifat asimtomatik. Pasien baru mengakui adanya kebas atau sensasi abnormal ketika ditanya secara spesifik.

Baca Juga  FGD Identifikasi Kebutuhan Peraturan Perundang-Undangan di Bidang Obat dan NPPZA Tahun 2024

Artinya, pertanyaan sederhana di balik meja apotek dapat menjadi pintu masuk deteksi dini.

Jangan Berhenti pada Keluhan ‘Pegal’

 

Salah satu tantangan dalam pelayanan kefarmasian adalah membedakan keluhan yang kemungkinan berkaitan dengan otot dari keluhan yang mengarah pada gangguan saraf.

Nyeri otot umumnya lebih berkaitan dengan aktivitas, rasa pegal, kaku, atau kram. Sebaliknya, keluhan neuropatik lebih khas berupa rasa terbakar, kesemutan, kebas, sensasi tertusuk, atau seperti tersetrum. Keluhan tersebut juga dapat memburuk pada malam hari.

Namun, pola tersebut tidak boleh digunakan sebagai alat diagnosis tunggal.

Tenaga kefarmasian dapat menggunakan pendekatan sederhana: AWARE, ASK, ASSESS, ACTION.

Pertama, aware, menyadari pasien yang memiliki faktor risiko. Kedua, ask, aktif menanyakan gejala. Ketiga, assess, melakukan penilaian atau skrining sesuai kompetensi dan prosedur. Keempat, action, menentukan langkah berikutnya, termasuk edukasi, rekomendasi penanganan yang sesuai, atau rujukan.

Pertanyaan awal pun tidak harus rumit.

Apakah pasien sering mengalami kebas atau kesemutan? Apakah terasa seperti terbakar atau tertusuk? Apakah keluhan tersebut mengganggu berjalan atau keseimbangan?

Jika jawabannya mengarah pada neuropati, pemeriksaan lebih lanjut dapat dipertimbangkan. Salah satu pendekatan skrining yang dibahas adalah ACT (Ask sCreening Tools), yang mengarahkan pasien untuk mengenali gejala seperti rasa terbakar, kesemutan, sensasi tersetrum, kebas, serta sensasi abnormal lainnya. Skrining tetap harus dipahami sebagai alat penyaring, bukan pengganti diagnosis dokter.

Siapa yang Perlu Diwaspadai?

Kelompok berisiko perlu mendapat perhatian lebih. Diabetes merupakan salah satu faktor utama. Selain itu, usia lanjut, penyakit kronis, gangguan ginjal, konsumsi alkohol, penggunaan obat tertentu yang bersifat neurotoksik, serta kekurangan nutrisi dapat berkaitan dengan neuropati.

Baca Juga  IAI Rayakan 70 Tahun Pengabdian: “Melangkah, Terus Berfaedah dan Berkiprah”

Pedoman ADA 2026 merekomendasikan pemeriksaan neuropati perifer diabetik sejak diagnosis diabetes tipe 2 dan lima tahun setelah diagnosis diabetes tipe 1, kemudian dilakukan setidaknya setiap tahun. Pemeriksaan dapat mencakup penilaian sensasi, refleks, vibrasi, serta penggunaan monofilamen 10 gram untuk menilai hilangnya sensasi protektif.

Perhatian khusus juga diperlukan pada pasien yang menggunakan metformin dalam jangka panjang. Obat ini berkaitan dengan penurunan kadar vitamin B12 pada sebagian pasien. Karena itu, pemeriksaan kadar B12 secara berkala dapat dipertimbangkan, terutama bila muncul anemia atau neuropati perifer.

Hal ini penting karena tidak semua kesemutan berarti pasien membutuhkan vitamin B. Penyebabnya harus dipertimbangkan terlebih dahulu.

 

Vitamin B Bukan Sekadar Suplemen

Dalam webinar tersebut, vitamin B1, B6, dan B12 dibahas karena ketiganya berperan dalam berbagai proses metabolisme dan fungsi sistem saraf.

Kombinasi ketiga vitamin tersebut juga dikaitkan dengan sejumlah penelitian mengenai fungsi saraf dan gejala neuropatik. Beberapa penelitian eksperimental menunjukkan adanya efek pada pertumbuhan neurit dan konektivitas sel saraf.

Namun, temuan laboratorium semacam itu perlu ditempatkan pada konteks yang tepat. Peningkatan pertumbuhan neurit dalam penelitian sel tidak otomatis berarti pasien akan mengalami perbaikan gejala dengan besaran yang sama.

Pesan yang lebih penting bagi apoteker adalah membedakan suplemen nutrisi biasa dengan terapi yang diberikan dalam konteks kondisi klinis tertentu.

‘Dosis lebih tinggi’ juga tidak boleh dimaknai sebagai semakin tinggi semakin baik. Pemilihan dosis harus mempertimbangkan indikasi, kebutuhan pasien, formulasi, lama penggunaan, serta keamanan.

Terlebih, vitamin B6 bukan tanpa risiko. Konsumsi B6 dalam dosis tinggi atau dalam jangka panjang justru dapat menyebabkan kerusakan saraf dan neuropati. Karena itu, penggunaan produk dengan kandungan B6 tinggi perlu memperhatikan dosis total dari seluruh sumber yang dikonsumsi pasien.

Baca Juga  300 Apoteker Bersatu di PITDA dan Pharmacy Expo 2025 Lampung: Tingkatkan Kompetensi Hingga Pengabdian Masyarakat

Konseling, Bukan Sekadar Menjual

‘’Di sinilah peran apoteker menjadi penting,’’ tandas apt. Lusy Noviani.

Pasien yang datang membeli vitamin atau obat tidak cukup hanya diberi penjelasan mengenai nama produk. Apoteker perlu menggali obat lain yang digunakan, penyakit penyerta, kemungkinan interaksi, lama keluhan, serta tanda bahaya yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.

‘’Pasien juga perlu memahami bahwa manfaat terapi tidak semata-mata diukur dari harga obat,’’ lanjut apt. Lusy Noviani.

Biaya sebenarnya dapat mencakup kualitas tidur yang terganggu, aktivitas yang menurun, produktivitas yang berkurang, bahkan risiko jatuh ketika gangguan saraf menyebabkan keseimbangan memburuk.

Karena itu, komunikasi dengan pasien sebaiknya bukan berupa nasihat satu arah. Apoteker perlu membantu pasien memahami pilihan dan menimbang manfaat serta risikonya.

Termasuk ketika pasien mengkhawatirkan efek samping.

Setiap terapi memiliki manfaat dan risiko. Jika setelah menggunakan suatu obat atau produk muncul keluhan yang menetap, memburuk, atau mengganggu aktivitas, pasien sebaiknya berkonsultasi kembali dengan tenaga kesehatan. Jangan mengubah dosis atau menghentikan terapi secara sembarangan.

‘’Pada akhirnya, tantangan terbesar bukan sekadar menyediakan obat atau vitamin di apotek. Tantangannya adalah memastikan pasien tidak melewatkan sinyal penting dari tubuhnya,’’ lanjut apt. Lusy Noviani.

Kesemutan yang sesekali muncul mungkin memang sederhana. Namun, kesemutan yang berulang, disertai kebas, rasa terbakar, nyeri seperti tersetrum, gangguan berjalan, atau kehilangan keseimbangan tidak layak selalu dianggap sepele.

Di titik itulah apoteker dapat memainkan peran yang lebih besar: bukan menggantikan dokter dalam mendiagnosis, melainkan menjadi salah satu pintu pertama yang membantu pasien mengenali bahwa keluhan yang tampak sederhana mungkin membutuhkan perhatian lebih serius.***.

banner 325x300
```

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

banner 950x90