JAKARTA, IAINews – Akne vulgaris atau jerawat adalah salah satu kondisi dermatologis paling umum dijumpai di Indonesia. Apoteker perlu mengetahui teknologi terkini dalam mengatasi akne vulgaris, yakni acne patch.

Prevalensi akne vulgaris di kalangan usia remaja dan dewasa muda sangat signifikan. Berdasarkan data global, akne vulgaris menempati peringkat ke-11 penyakit paling umum di dunia.
Estimasi penderita akne vulgaris adalah 85 persen individu berusia 12 – 25 tahun mengalami setidaknya satu episode akne dalam hidupnya.
‘’Di Indonesia, kondisi ini tidak hanya berdampak pada kualitas hidup secara fisik, tetapi juga menimbulkan dampak psikososial yang bermakna,’’ ungkap apt. Dra Tresnawati, Direktur Operasional PT Pharma Tekno Solusi (PharmaQ) kepada IAINews.
‘’Gangguan psikososial itu termasuk penurunan rasa percaya diri, kecemasan, hingga gangguan aktivitas sosial dan produktivitas,’’ lanjut apt. Tresnawati.
Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan di bidang dermatologi dan teknologi farmasi, pilihan tatalaksana akne vulgaris telah mengelami evolusi signifikan.
Jika dahulu penanganan akne di tingkat swamedikasi hanya mengandalkan krim atau gel topikal konvensional, kini telah hadir inovasi berupa acne patch.
Acne patch dirancang berbasis teknologi hydrocolloid yang terbukti secara klinis mampu menciptakan lingkungan penyembuhan luka yang optimal, menyerap eksudat, melindungai lesi aktif dari kontaminasi.
Dengan acne patch dapat mencegah kebiasaan memencet yang memperburuk prognosis.
Berbagai varian patch aktif kini tersedia dengan kandungan bahan aktif spesifik, seperti asam salisilat, tea tree oil, niacinamid, hingga centellah asiatica, yang disesuaikan dengan stadium lesi.
Sementara itu, dalam sistem kesehatan Indonesia, apoteker memiliki peran strategis sebagai garda terdepan dalam pelayanan swamedikasi.
‘’Apoteker komunitas seringkali menjadi kontak pertama pasien yang mencari solusi untuk keluhan akne ringan hingga sedang, sebelum atau bahkan tanpa berkonsultasi dengan dokter spesialis,’’ tutur apt. Tresnawati.
Oleh karena itu, kemampuan apoteker dalam melakukan asesmen pasien secara terstruktur, mengidentifikasi tanpa bahaya yang memerlukan rujukan, serta memberikan rekomendasi berbasis bukti menjadi krusial dalam menentukan outcome pasien.
‘’Sayangnya, perkembangan teknologi produk topikal yang sangat pesat tidak selalu diikuti oleh pemutakhiran pengetahuan di kalangan tenaga farmasi,’’ lanjut apt. Tresnawati.
Banyaj apoteker yang belum sepenuhnya memahami mekanisme kerja, indikasi klinis, serta cara konseling yang tepat untuk produk-produk inovatif seperti acne patch.
Kesenjangan pengetahuan ini berpotensi mengurangi efektivitas layanan farmasi dan kepuasan pasien.
‘’Atas dasar tersebut, Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) bekerjasama dengan Daewoong Pharmaceutical Indonesia, PharmaQ dan Badiklat IAI menyelenggarakan kegiatan ilmiah berupa webinar nasional mengenai tatalaksana akne vulgaris,’’ lanjut apt. Tresnawati.
Webinar nasional bertema ‘Smart Skincare, Smarter Counseling : Acne Management & Drug Delivery Innovation in Community Pharmacy’ ini digelar untuk meningkatkan kompetensi apoteker dalam memahami patofisiologi akne dan konseling berbasis bukti di apotek komunitas.
‘’Kegiatan ini diharapkan dapat berkontribusi pada peningkatan kualitas pelayanan kefarmasian dan luaran klinis pasien akne di seluruh Indonesia,’’ paparnya.
Webinar yang diselenggarakan pada Minggu, 30 Agustus 2026 mulai pukul 09.00 – 12.00 melalui zoom ini akan menghadirkan dr Kardiana Purnama Dewi, Sp. DVE, FINSDV, FAADV dari RS Pondok Indah – Puri Indah, Jakarta dan apt. Dra Shellu Taurhesia, Ph.D, FACP dari Fakultas Farmasi Universitas Pancasila, Jakarta dengan moderator apt. Irfan Mustofa, S.Farm dari PT Daewoong Indonesia.
‘’Di sesi pertama saya akan membahas beberapa hal mengenai epidemiologi akne vulgaris, anatomi dan jenis kulit, etiologi dan patofisiologi akne vulgaris dan jenis lesi akne vulgaris,’’ tutur dr. Kardiana Purnama Dewi.
Selain itu, dr. Kardiana Purnama Dewi juga akan menyampaikan topik mengenai peran kulit sehat dalam penyembuhan akne, kekurangan terapi krim/salep pada akne, terapi adjuvan akne : acne patch dan penggunaan terapi topikal acne patch.
Sementara di sesi kedua, apt. Shelly Taurhesia topik mengenai assemen pasien dengan WWHAM dan ASMETHOD, pasien akne: swamedikasi vs rujukan, teknologi acne patch sebagai terapi adjuvan akne, cara memilih acne patch sesuai tipe akne dan konseling pada pasien akne.
Dibuka dengan pre-test, seperti biasa webinar kali ini akan ditutup dengan post-test bagi peserta untuk mendapatkan SKP sesuai ketentuan.***













