DALAM pandangan Islam, semesta alam beserta semua isinya dianggap sebagai ayat kauniyah, yang merupakan kebesaran dan keagungan Allah SWT yang bisa dianalisis dan dimengerti maknanya secara mendalam oleh manusia.
Penelusuran tentang agen antikanker yang berasal dari kekayaan alam laut, terutama terkait pengobatan kanker payudara, tidak hanya melalui kegiatan ilmiah biasa.
Ini juga mencerminkan sebuah penyelidikan yang memiliki landasan kedalaman filosofis dan teologis yang sangat berbeda.

Dalam kajian ini, tentu untuk mempermudah pemahaman secara terstruktur maka terdapat tiga aspek yang menjelaskan pandangan filsafat Islam berkaitan dengan penelitian agen antikanker payudara dari sumber daya laut.
Tiga aspek tersebut adalah potensi obat kanker dari sumber daya laut (ilmu modern), pendekatan filsafat ilmu Islam terhadap alam dan pengetahuan, serta integrasi etika, tujuan, dan metodologi dalam penelitian obat dari laut.
Dalam filsafat Islam, alam dipandang sebagai suatu anugerah dan amanah dari Sang Pencipta yang harus dikelola dengan kebijaksanaan (khalifah fil ardh).
Laut dengan seluruh keanekaragaman hayatinya berfungsi sebagai ruang eksperimen alami yang menyimpan kemungkinan pengetahuan yang tak terhingga.
Salah satunya adalah menggali zat aktif anti-kanker dari spons, karang, mikroalga, atau organisme laut lainnya adalah langkah untuk mengungkap rahasia dan kegunaan yang telah Allah sediakan.
Ini sejalan dengan semangat QS. Al-Baqarah: 164 yang mendorong manusia untuk merenungkan penciptaan langit, bumi, dan lautan serta segala isinya sebagai tanda bagi orang yang berakal.
Berdasarakan filsafat Islam dari kajian ontologisnya, epistemologi dan aksiologi harus dikaji dengan baik dan benar tetapi pada dasarnya, berdasarkan Ayat Al-Qur’an QS. An-Nahl [16] : 14 yang artinya “Dan Dialah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur”.
Dijelaskan pada ayat al-Qur’an tersebut mengenai pemanfaatan sumber daya alam (SDA) laut sebagai obat pada dasarnya memperbolehkan dan bahkan menganjurkan, asalkan memenuhi prinsip-prinsip syariah seperti kemaslahatan (kebaikan umum), keberlanjutan, kehalalan, dan ketiadaan kerusakan.
Kemudian, bagaimana integrasi ilmu filsafat Islam dalam konteks sumber daya laut sebagai obat kanker dari aspek ontology, epistemologi, dan aksiologinya?
Pertama, Ontologi (Hakikat Realitas), dalam filsafat Islam dijelaskan bahwa laut beserta isinya adalah milik Allah, diberikan untuk manusia agar bisa memanfaatkan dengan baik dan tanggung jawab.
Keberadaan senyawa antikanker di laut bukanlah kebetulan, tetapi bagian dari desain ilahiah yang dapat dipelajari, di teliti dengan epistemologi yang baik dengan tanggung jawab.
Penyakit kanker dipandang sebagai ujian, tetapi Islam juga mendorong untuk berobat. Sesuai Hadits Rasulullah SAW: “Berobatlah, karena Allah telah menetapkan obat bagi setiap penyakit yang diturunkan-Nya, kecuali satu penyakit (pikun).” (HR. At-Tirmidzi).
Kedua, Epistemologi (Cara Memperoleh Pengetahuan), eksplorasi sumber daya laut untuk dijadikan sebagai sumber obat harus melalui metode ilmiah yang teliti (tajribi/observasi, eksperimen) sehingga Maqashid Syariah tercapai dengan baik dan proses tersebut sejalan dengan tradisi ilmuwan Muslim klasik (Ibnu Sina, Al-Biruni).
Sumber pengetahuan tidak hanya bersifat empiris, tetapi juga terinspirasi dari petunjuk Al-Qur’an tentang laut : “Dan Dialah yang menundukkan lautan (untukmu) agar kamu dapat memakan darinya daging yang segar (ikan) dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai..” (QS. An-Nahl: 14). Berdasarkan Ayat ini bisa ditafsirkan secara global bahwa laut memberi manfaat material dan kesehatan.
Ketiga, Aksiologi (Nilai dan Etika), konsep utama aksiologi riset adalah menyelidiki hakikat nilai baik bersifat intrinsik maupun ekstrinsik dan etika dalam ilmu pengetahuan, termasuk nilai moral, keindahan (estetika), dan kegunaan praktis.
Jika dilihat dari sudut pandang syar’i terdapat nila-nilai ibadah berupa meneliti obat dari laut sebagai bentuk syukur dan pengabdian kepada Allah, kemudian nilai etika ditinjau dari sikap periset untuk tidak merusak ekosistem laut, bersifat adil dalam pemanfaatan dan tidak memonopoli pengetahuan.
Dari sudut pandang nilai social, obat harus diarahkan untuk kemaslahatan umum, bukan sekadar komersialisasi dan Holistik : Pengobatan kanker tidak hanya fisik, tetapi juga spiritual (doa, tawakkal, dukungan psikologis).
Bagaimana tantangan dan solusi riset dalam pandangan perspektif islam? Salah satu bentuk tantangan adalah bersifat modern yaitu kerusakan ekosistem laut dan mahalnya riset dan obat kanker.
Bentuk tantangan tersebut dapat dijelaskan solusi dalam perspektif islam yaitu memiliki prinsip mizan (keseimbangan) dan hifzh al-bi’ah (pelestarian lingkungan) sebagai bagian dari maqashid Syariah dan kita mengetahui bahwa negara Indonesia adalah negara/komunitas muslim didorong berinvestasi dalam riset untuk umat, bukan untuk keuntungan kapitalistik semata.***













