Jakarta, IAINews – Perkembangan ilmu kefarmasian dalam menangani isu kesehatan reproduksi dan estetika terus menunjukkan kemajuan signifikan. Hal ini tercermin dalam webinar nasional yang mengulas solusi terkini terkait jerawat hormonal dan pencegahan kehamilan, yang diselenggarakan oleh LPK Bintang Edukasi Medika bekerja sama dengan Mitra Farma Indonesia pada Selasa, 10 Maret 2026.
Webinar bertajuk “Dual Action Therapy: Jerawat Hormonal dan Cegah Kehamilan dengan Cyproterone Acetate” ini mendapat dukungan dari Elzha by DKT Indonesia dan diikuti lebih dari 1.000 peserta, terdiri dari apoteker dan tenaga vokasi farmasi dari berbagai daerah di Indonesia.
Kegiatan yang berlangsung secara daring ini menghadirkan sejumlah narasumber kompeten, yakni apt. Hasdiana Sudar, S.Si., M.Sc., apt. Tati Rahmawati, S.Si., dan apt. Iwan Tantrawan, S.Si., M.Farm. Diskusi ilmiah difokuskan pada pemanfaatan cyproterone acetate sebagai terapi ganda yang tidak hanya berfungsi sebagai kontrasepsi, tetapi juga efektif dalam mengatasi jerawat hormonal.
Materi yang disampaikan mencakup mekanisme hormon androgen dalam memicu produksi sebum berlebih sebagai penyebab jerawat, sekaligus membahas efektivitas terapi dalam memberikan perlindungan kehamilan. Selain itu, sesi konseling pasien di apotek menjadi perhatian utama, mengingat peran apoteker yang semakin strategis dalam pelayanan kefarmasian.
Pemateri utama, apt. Hasdiana Sudar, menjelaskan bahwa cyproterone acetate memiliki sifat anti-androgen yang mampu menekan produksi sebum berlebih, sehingga efektif dalam menangani jerawat hormonal pada wanita.
“Bagi pasien wanita usia produktif yang memiliki jerawat persisten sekaligus membutuhkan proteksi kehamilan, terapi ganda ini menawarkan efisiensi dan efikasi yang tinggi. Namun, peran apoteker sangat krusial dalam memastikan kepatuhan penggunaan serta edukasi efek samping,” ujarnya.

Ia juga memaparkan aspek patofisiologi jerawat hormonal serta pendekatan farmakoterapi yang dapat diterapkan dalam praktik klinis.
Sementara itu, apt. Tati Rahmawati menekankan pentingnya komunikasi efektif dalam praktik pelayanan kefarmasian. Menurutnya, masih banyak pasien yang belum memahami penggunaan kontrasepsi untuk indikasi jerawat, sehingga membutuhkan edukasi yang tepat dari apoteker.
“Apoteker tidak hanya menyerahkan obat, tetapi juga memastikan pasien memahami cara penggunaan, jadwal konsumsi, serta manfaat terapi secara menyeluruh,” jelasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya skrining riwayat pasien, pengelolaan efek samping, serta edukasi penyimpanan obat guna menjaga stabilitas sediaan.

Pada sesi akhir, apt. Iwan Tantrawan membahas aspek product knowledge terkait kombinasi cyproterone acetate dan ethinylestradiol dalam produk Elzsa. Ia menjelaskan bahwa kombinasi tersebut efektif dalam mengatasi manifestasi klinis akibat kelebihan hormon androgen, sekaligus memberikan perlindungan kontrasepsi.
“Pemahaman produk tidak hanya sebatas komposisi, tetapi bagaimana solusi ini dapat meningkatkan kualitas hidup dan kepercayaan diri pasien,” ungkapnya.

Antusiasme peserta terlihat dari aktifnya sesi diskusi yang mengangkat berbagai kasus nyata di lapangan. Hal ini menunjukkan tingginya kebutuhan tenaga kefarmasian terhadap pembaruan informasi klinis yang aplikatif.
Tingginya partisipasi juga mencerminkan meningkatnya kesadaran akan pentingnya pengembangan profesional berkelanjutan (continuous professional development/CPD) bagi apoteker. Dukungan dari industri farmasi dinilai berperan penting dalam memperkuat kapasitas tenaga kesehatan.
Melalui kegiatan ini, diharapkan apoteker dan tenaga vokasi farmasi dapat semakin optimal dalam memberikan edukasi kepada masyarakat, khususnya perempuan yang menghadapi jerawat hormonal sekaligus membutuhkan perlindungan kontrasepsi. (TMN)













