Informasi
Hubungi Redaksi IAINews melalui email : humas@iai.id
Floating Left Ads
Floating Right Ads
banner 950x90

Sebelum Tubuh Bisa Sembuh, Pikiran Kita yang Harus Diyakinkan Lebih Dahulu

Penulis: apt. Aulia Rahim, M.Farm (Tim Media Nasional IAI/PD IAI Kalimantan SelatanEditor: apt. Dra Tresnawati
banner 120x600
banner 468x60

DI SEBUAH rumah sakit kecil di pinggiran kota, Ny. Z, seorang perempuan berusia 42 tahun, duduk termenung di bangsal perawatan. Sejak enam bulan lalu, ia didiagnosis mengidap kanker payudara stadium awal. Saat pertama kali mendengar vonis itu, dunia seolah runtuh di hadapannya. Ia merasa putus asa dan penuh ketakutan. Hari-harinya dipenuhi kalimat seperti, “Aku tidak akan sanggup melewati ini,” atau “Hidupku sudah berakhir.”

Iklan ×

Namun, semua mulai berubah ketika Ny. Z bertemu seorang perawat yang dikenal sabar dan penuh perhatian. Suatu sore, ketika Ny. Z terlihat murung, sang perawat mendekat dan berkata pelan, “Bu Ny. Z, saya percaya Ibu kuat. Setiap hari, katakan pada diri sendiri: ‘Aku bisa melewati ini. Tubuhku sedang berjuang untuk sembuh.’ Mari kita coba, ya?”

Awalnya Ny. Z merasa aneh. Bagaimana mungkin kata-kata bisa mengubah kondisinya? Tapi ia memutuskan untuk mencoba, karena tak ada yang bisa ia lakukan selain berjuang. Setiap pagi sebelum memulai hari, ia mulai berbicara pada dirinya sendiri di depan cermin: “Aku berhak sehat. Aku sedang sembuh. Aku kuat dan tidak sendirian.”

Hari demi hari, ada sesuatu yang berbeda. Ia mulai merasa lebih bersemangat mengikuti sesi kemoterapi, lebih sabar saat efek samping muncul, dan lebih tenang ketika rasa sakit datang. Dokter yang merawatnya bahkan mencatat perkembangan yang cukup signifikan pada kondisi fisiknya. Bukan karena kata-kata itu menyembuhkan penyakitnya secara langsung, tetapi karena pikirannya yang lebih positif membuat tubuhnya merespon pengobatan dengan lebih baik.

Baca Juga  Rutinkan Minum Obat dan Jaga Pola Hidup Sehat

Menurut penelitian medis, kondisi psikologis pasien memiliki pengaruh besar pada proses penyembuhan. Pikiran yang dipenuhi kecemasan dan ketakutan bisa memperburuk rasa sakit, sedangkan pikiran yang positif dapat membantu tubuh menjadi lebih rileks dan fokus untuk pulih. Diksi positif yang mengandung kata-kata penuh harapan menjadi jembatan yang menghubungkan pikiran dan tubuh.

Ny. Z kemudian mulai membagikan pengalamannya kepada pasien lain di ruang tunggu rumah sakit. Ia membuat kebiasaan sederhana: setiap kali bertemu pasien lain yang terlihat sedih, ia akan menyapa dengan senyum dan mengatakan, “Hari ini kita selangkah lebih dekat dengan sembuh.” Banyak pasien yang terinspirasi dan mulai melakukan hal serupa. Lambat laun, ruang perawatan yang dulunya terasa berat menjadi lebih hangat dan penuh semangat.

Baca Juga  Kampung ASK ME DAGUSIBU: Pentingnya Kolaborasi dalam Penguatan Kontribusi dan Citra Apoteker di Masyarakat

Kini, setelah enam bulan menjalani pengobatan, Ny. Z dinyatakan berhasil melewati masa kritisnya. Meski masih perlu pengawasan medis, ia merasa jauh lebih kuat, bukan hanya fisiknya, tetapi juga mentalnya. Ia percaya, kata-kata yang ia ucapkan pada dirinya sendiri adalah bagian dari obat yang tak tertulis dalam resep dokter.

Cerita Ny. Z menunjukkan bahwa kesembuhan bukan hanya tentang obat dan tindakan medis. Ada peran penting dari pikiran dan kata-kata yang kita pilih setiap hari. Bagi siapa pun yang sedang berjuang melawan penyakit, cobalah memulai hari dengan satu kalimat sederhana, seperti “Aku sedang sembuh,” atau “Tubuhku kuat dan mampu bertahan.” Kata-kata itu mungkin tampak kecil, tapi bisa menjadi langkah besar menuju kesembuhan.***

banner 325x300
```

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

banner 950x90