Denpasar, IAINews – Pendidikan profesi apoteker sejatinya merupakan sebuah seni meracik karakter kemanusiaan yang melampaui sekat dinding ruang kelas perkuliahan. Mutu kelulusan seorang calon apoteker tidak ditentukan oleh keunggulan institusi kampus semata melainkan hasil perkalian dari sinergi kurikulum, kompetensi preseptor, serta budaya lingkungan kerja nyata. Kesadaran mendalam ini mendorong jajaran dosen Program Studi Profesi Apoteker (PSPA) Universitas Bali Internasional (UNBI) melakukan kunjungan ke berbagai wahana Praktik Kerja Profesi Apoteker (PKPA).

Ikhtiar ini diwujudkan melalui lawatan silaturahmi oleh Dr. apt. I Gusti Ayu Rai Widowati, M.Kes., apt. Ida Bagus Nyoman Maharjana, M.A.R.S., serta apt. Ida Ayu Manik Partha Sutema, M.Farm. Delegasi akademisi UNBI menyambangi tiga pilar ekosistem praktik yang berbeda karakter, yaitu Damar Nubio Aestetik (DNALAB), Nadis Herbal, dan Puskesmas Ubud 2.
Harmonisasi Paras Paros dalam Rumah Belajar
Implementasi kunjungan berkala ini mengadopsi nilai luhur filosofi Bali Paras Paros Sarpanaya, yang bermakna saling memberi, saling menerima, dan berjalan beriringan dalam kesetaraan. PSPA UNBI hadir di garis depan bukan demi pemenuhan formalitas administrasi melainkan untuk merawat ekosistem pembelajaran profesi secara utuh. Kunjungan yang dipimpin oleh para dosen senior ini didukung penuh oleh keterlibatan aktif mahasiswa dalam menjaga jalinan silaturahmi dengan pemilik wahana serta preseptor. Kehadiran fisik dari pihak kampus memberikan enam lapisan manfaat yang sangat krusial bagi keberlanjutan mutu pendidikan kefarmasian:
- Manfaat bagi PSPA (Menjaga Kurikulum Tetap Hidup): Kunjungan rutin ini menghindarkan institusi pendidikan dari jebakan cangkang akademik (academic bubble). Kampus dapat menyerap tren praktik terkini, tantangan nyata di lapangan, serta perubahan regulasi secara aktual. Hal ini memastikan kurikulum tidak hanya benar secara teori melainkan berguna secara praktik.

- Manfaat bagi Wahana (Menjadi Mitra Sejati): Kehadiran berkala menghapus stigma negatif bahwa kampus hanya datang saat ingin menitipkan mahasiswa. Wahana praktik kini merasa diposisikan sebagai rekan pendidik (co-educator). Identitas tempat praktik bergeser secara psikologis menjadi sebuah rumah belajar profesi yang dihormati.
- Manfaat bagi Preseptor (Tumbuh Menjadi Pendidik Klinik): Interaksi langsung dengan dosen memicu munculnya refleksi pedagogi dalam diri pembimbing lapangan. Preseptor tidak lagi sekadar menjadi praktisi yang memberikan instruksi, melainkan berevolusi menjadi seorang clinician educator yang mahir memberikan umpan balik secara empati.

- Manfaat bagi Mahasiswa (Membangun Kenyamanan Psikologis): Mahasiswa profesi sering kali gagap menghadapi perbedaan kultur antara ruang kelas yang idealis dengan lapangan kerja yang menuntut efisiensi. Kehadiran dosen memberikan rasa aman secara psikologis (psychological safety) bahwa mereka tidak berjalan sendirian. Rasa aman ini memicu keberanian mahasiswa untuk belajar secara lebih adaptif serta reflektif.

- Manfaat bagi Sistem (Membentuk Sistem Kesehatan Pembelajar): Kolaborasi ini memutus rantai saling menyalahkan antara institusi pendidikan dengan dunia kerja. Siklus emas tercipta saat kampus mengirim mahasiswa, wahana memberi pengalaman, prodi mendengarkan masukan, lalu kurikulum diperbaiki demi kualitas mahasiswa angkatan berikutnya.
- Manfaat bagi Profesi Apoteker Indonesia (Membangun Identitas Luhur): Karakter apoteker masa depan sangat dipengaruhi oleh cara mereka diperlakukan saat menjalani masa bimbingan. Lingkungan PKPA yang menjunjung tinggi rasa hormat, disiplin sehat, dan kehangatan akan mewariskan budaya profesionalisme yang serupa kepada generasi berikutnya.
Mewariskan Jati Diri Kehormatan Profesi
Kunjungan terbaik dosen UNBI tidak diukur dari ketebalan berkas notulensi hasil audit melainkan dari munculnya kesepahaman emosional dalam menghadapi tantangan profesi bersama. Hubungan harmonis yang dibangun di Damar Nubio Aestetik, Nadis Herbal, dan Puskesmas Ubud 2 merupakan wujud investasi amal jariyah pendidikan yang sangat indah.

Kolaborasi aktif ini memastikan bahwa lulusan PSPA UNBI kelak tumbuh menjadi tenaga kesehatan yang adaptif, reflektif, serta nyaman dalam melayani masyarakat. Perjalanan panjang mencetak penyembuh yang berintegritas tinggi dimulai dari langkah nyata kampus yang senantiasa hadir menemani proses tumbuh kembang mahasiswanya.













