Mahasiswa farmasi sering kali terjebak dalam labirin senyawa kimia serta dunia hewan uji yang dingin. Mereka mahir menghitung dosis mikrogram namun sering kali mendadak kaku saat berhadapan dengan air mata serta keluhan pasien. Fenomena “mati rasa” profesi ini menjadi sorotan utama dalam kuliah spesial bertajuk “When Words Heal” di Universitas Bali Internasional (UNBI), Selasa, 5 Mei 2026. Romo Sukir Satrija Djati hadir bukan untuk memberikan ceramah teknis yang membosankan, melainkan untuk mengguncang kesadaran ratusan mahasiswa melalui sebuah “dynamic story telling”.
Manifesto DENGAR dalam Dekapan Filosofi Bali
Inti dari pencerahan hari itu terletak pada metode DENGAR yang telah diakulturasi dengan kearifan lokal Hindu-Bali yang sangat luhur. Romo Sukir menekankan bahwa seorang apoteker harus mampu Diamkan (mendiamkan) Ego (D) sebagai implementasi dari Tri Kaya Parisudha. Pikiran yang gaduh tidak akan pernah bisa benar-benar mendengar keluhan pasien secara jernih. Empati (E) diwujudkan melalui nilai Tat Twam Asi yang menyadarkan mahasiswa bahwa pasien adalah cerminan dari diri mereka sendiri. Prinsip ini menuntut kehadiran apoteker sebagai manusia seutuhnya yang tidak menghakimi penderitaan orang lain.

Menangkap Makna di Balik Gejala
Upaya Nangkap (menangkap) Kebutuhan (N) secara mendalam merupakan perwujudan dari konsep Rwa Bhineda. Apoteker harus sadar bahwa gejala klinis yang terlihat sering kali hanyalah puncak gunung es dari masalah psikologis yang tersembunyi. Gunakan (penggunaan) Bahasa Sederhana (G) dalam memberikan edukasi obat selaras dengan ajaran Dharma Wacana. Kebenaran ilmu farmasi yang tidak dipahami oleh pasien mustahil akan melahirkan kesembuhan yang paripurna. Ilmu harus membumi agar mampu menyentuh relung pemahaman masyarakat yang paling mendasar.

Kasih Sayang sebagai Senyawa Penyembuh
Pemberian Afirmasi (A) yang melandasi interaksi dengan pasien bersumber dari nilai Catur Paramita-Maitri. Rasa aman serta penerimaan yang tulus sering kali menjadi kebutuhan utama pasien sebelum mereka menerima solusi medis secara teknis. Keseluruhan proses ini ditutup dengan Respon Jelas (R) yang bertanggung jawab sebagai bentuk nyata dari Karma Yoga. Setiap kata yang diucapkan oleh seorang apoteker merupakan bagian dari tanggung jawab moral serta profesional kepada Tuhan dan sesama.
Pencerahan di Auditorium UNBI
Acara yang dipandu oleh Dr. apt. I Gusti Ayu Rai Widowati, M.Kes ini berlangsung sangat dinamis di auditorium kampus UNBI. Ratusan mahasiswa S1 Farmasi serta Profesi Apoteker tampak terhanyut dalam gaya penyampaian Romo Sukir yang unik serta atraktif. Gelak tawa sering kali pecah saat Romo menyentil realitas mahasiswa yang lebih akrab dengan tikus lab daripada air mata manusia. Namun, suasana seketika berubah menjadi khidmat saat seluruh peserta manggut-manggut mengamini fakta bahwa cara berbicara seorang apoteker adalah bagian dari obat itu sendiri.

Bukan Sekadar Penyerah Obat
Kesembuhan sejati ternyata tidak hanya berasal dari dalam botol obat, melainkan mengalir dari ketulusan kata-kata yang menyembuhkan. Romo Sukir berhasil meyakinkan para calon apoteker Bali bahwa budaya mereka adalah kurikulum terbaik dalam membangun sikap altruistik. Identitas apoteker sejati akan terpancar saat mereka mampu memadukan kecerdasan logika dengan kelembutan rasa. Kuliah hari itu menjadi saksi lahirnya generasi baru apoteker yang siap melayani dengan hati di bawah naungan cahaya kebijaksanaan Dewata.













