JAKARTA, IAINews – Obat PPOK semakin mudah diakses melalui program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Namun, ada persoalan yang sering luput dari perhatian: obat yang tersedia belum tentu efektif jika pasien tidak mampu menggunakannya dengan benar.

Pada terapi inhalasi, persoalannya bahkan bisa sesederhana pasien salah menarik napas, salah menekan alat, atau memilih perangkat inhaler yang tidak sesuai dengan kemampuan inspirasi.
“Obat inhaler yang paling mahal adalah obat yang tidak bisa diinhalasi,” kata Dr. dr. Alfian Nur Rosyid, Sp.P(K) dalam Epic Webinar Series yang membahas PPOK, ‘Tantangan PPOK di Era JKN melalui Akses dan Ketersediaan Obat.
Webinar diselenggarakan atas kerjasama Ikatan Apoteker Indonesia bersama PT Pharma Tekno Solusi (PharmaQ), Badiklat IAI, Kemenkes RI dengan dukungan dari PT Anugrah Pharmindo Lestari (APL) dan Respimat Soft Mist Inhaler, pada Sabtu, 12 September 2026 mulai pukul 09.00 – 12.00 WIB.
Dipandu apt. Indri Mulyani Bunyamin, S.Farm, MARS juga menghadirkan apt Fitri Nurhayatai, S.Si, M.Farm sebagai pembicara.
Pernyataan itu menggambarkan tantangan baru tata laksana penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). Di era ketika akses obat semakin diperluas, perhatian tidak cukup berhenti pada pertanyaan apakah obat tersedia di rumah sakit atau ditanggung JKN.
Pertanyaan berikutnya jauh lebih penting: apakah pasien benar-benar mendapatkan obat tersebut ke dalam paru?
Sesak yang Mengubah Kehidupan
Menurut dr. Alfian Nur Rosyid, PPOK bukan sekadar penyakit yang membuat seseorang sesak.
Pada tahap awal, pasien mungkin masih mampu berjalan cukup jauh. Namun, secara perlahan kemampuan tersebut menurun. Jalan dua kilometer menjadi satu kilometer. Naik dua lantai menjadi satu lantai. Bahkan aktivitas sederhana seperti membawa barang, pergi ke pasar atau menggendong cucu dapat memicu sesak.
Menurut Alfian Nur Rosyid, keterbatasan aliran udara saat ekspirasi menyebabkan terjadinya hiperinflasi paru. Kondisi tersebut membuat pasien semakin sulit bernapas.
Masalah kemudian berkembang menjadi lingkaran yang sulit diputus.
Karena sesak, pasien mengurangi aktivitas. Karena semakin jarang bergerak, kebugaran dan kekuatan otot menurun. Kondisi fisik memburuk, aktivitas semakin terbatas, kualitas hidup turun dan akhirnya pasien semakin bergantung pada orang lain.
PPOK pun bukan hanya persoalan paru. Pasien dapat memiliki hipertensi, penyakit jantung, diabetes, osteoporosis, gangguan saluran cerna, hingga depresi.
Kompleksitas ini membuat terapi harus semakin personal.
Jangan Semua PPOK Diberi Obat yang Sama
Salah satu pesan penting dr. Alfian Nur Rosyid adalah bahwa PPOK merupakan penyakit yang heterogen.
Dua pasien sama-sama didiagnosis PPOK tidak otomatis membutuhkan terapi yang sama.
Diagnosis harus ditegakkan secara tepat, antara lain melalui spirometri setelah pemberian bronkodilator. Setelah itu pasien dikategorikan berdasarkan gejala dan riwayat eksaserbasi.
Dari sinilah pilihan terapi ditentukan.
Bronkodilator menjadi fondasi penting terapi karena bekerja membuka saluran napas. Kelompok obat seperti LAMA dan LABA dapat digunakan sesuai karakteristik pasien dan kelompok penyakitnya.
Sebaliknya, kortikosteroid inhalasi atau ICS tidak otomatis diperlukan oleh semua pasien PPOK.
Alfian Nur Rosyid mengingatkan, ICS memiliki tempat pada kelompok pasien tertentu, tetapi penggunaannya harus memiliki alasan klinis. Penggunaan yang tidak tepat dapat meningkatkan risiko efek samping, termasuk pneumonia.
Ini menjadi semakin penting karena pasien PPOK di Indonesia kerap memiliki berbagai penyakit penyerta. Alfian menyebut riwayat tuberkulosis, penyakit kardiovaskular, osteoporosis dan diabetes sebagai kondisi yang perlu diperhatikan.
Dengan kata lain, lebih banyak obat tidak selalu berarti terapi lebih baik.
Ketika Inhaler Menjadi Masalah
Persoalan berikutnya justru terjadi setelah resep diberikan.
Teknik penggunaan inhaler yang salah masih banyak ditemukan. Dr. Alfian Nur Rosyid menyebut dalam paparannya, kesalahan teknik bahkan dapat terjadi pada sekitar 50 persen pasien.
Kesalahan itu bermacam-macam.
Pada metered dose inhaler (MDI), pasien harus mampu mengoordinasikan saat menekan alat dengan saat menarik napas. Pada dry powder inhaler (DPI), pasien harus mempunyai kemampuan inspirasi yang cukup kuat agar obat dapat masuk ke paru.
Sementara itu, soft mist inhaler (SMI) menghasilkan kabut obat secara perlahan sehingga kebutuhan inspirasi dan koordinasinya berbeda.
Kesalahan penggunaan dapat membuat obat justru tertinggal di rongga mulut dan saluran napas bagian atas.
Alfian bahkan memberikan ilustrasi mengenai pasien yang menggunakan inhaler dengan cara yang sama sekali keliru. Ketika ditanya bagaimana menggunakan obatnya, pasien memperagakan menyemprotkan obat ke dada dan leher karena mengira bagian tersebut merupakan lokasi rasa sesak.
Pasien tentu tidak mendapatkan manfaat optimal.
“Diagnosisnya sudah oke, obatnya sudah oke, tapi cara penggunaannya salah,” ujar Alfian.
Di titik inilah apoteker memiliki peran yang tidak kalah penting dibandingkan sekadar menyerahkan obat.
Apoteker Bukan Sekadar Menyerahkan Inhaler
Era JKN memungkinkan pasien memperoleh obat kronis secara berkelanjutan. Namun, terapi kronis juga berarti pasien harus mampu menggunakan obat tersebut secara konsisten dalam jangka panjang.
Pasien PPOK stabil tidak selalu bertemu dokter setiap bulan. Ada kondisi ketika pasien hanya datang mengambil obat.
Dalam situasi tersebut, apoteker dapat menjadi salah satu garda penting untuk memastikan terapi tetap berjalan sebagaimana mestinya.
Pasien dapat diminta memperagakan cara menggunakan inhaler. Apoteker kemudian dapat melihat apakah alat sudah diaktifkan dengan benar, apakah pasien menarik napas dengan tepat, serta apakah teknik tersebut sesuai dengan jenis perangkat yang digunakan.
Bila salah, pasien tidak cukup hanya diberi tahu secara lisan.
Teknik perlu diperagakan dan pasien diminta mempraktikkannya kembali.
Dengan demikian, pelayanan kefarmasian tidak berhenti pada “ini obatnya, Pak”, tetapi berkembang menjadi “mari kita pastikan obat ini benar-benar dapat Bapak gunakan.”
Salah Device, Obat Bagus Pun Percuma
Pemilihan perangkat inhalasi juga tidak dapat disamaratakan.
Pasien PPOK dengan emfisema dan hiperinflasi dapat memiliki kemampuan inspirasi yang rendah. Jika pasien tersebut menggunakan DPI yang membutuhkan inspirasi kuat, obat belum tentu terdeposit secara optimal di paru.
Alfian menyebut konsep suboptimal peak inspiratory flow (PIF) sebagai salah satu hal yang perlu diperhatikan. Dalam paparannya, sekitar 52 persen pasien disebut memiliki peak inspiratory flow yang rendah.
Karena itu, pada pasien tertentu, mengganti perangkat dapat menjadi solusi ketika gejala masih menetap meskipun pilihan molekul obat sudah tepat.
SMI seperti Respimat menjadi salah satu pilihan yang dibahas karena menghasilkan kabut obat secara perlahan dan tidak terlalu bergantung pada kemampuan pasien melakukan inspirasi yang sangat kuat.
Dengan demikian, mengganti inhaler bukan berarti obat sebelumnya tidak bagus.
Bisa jadi pasiennya yang tidak cocok dengan perangkat tersebut.
JKN Membuka Akses, Tetapi Sistem Harus Menjamin Efektivitas
Menurut Alfian, ketersediaan tiotropium serta kombinasi tiotropium dan olodaterol dalam skema JKN menjadi peluang untuk memperluas akses terapi PPOK.
Namun, ketersediaan obat harus berjalan bersama dengan ketersediaan edukasi.
Jangan sampai sistem berhasil memastikan obat sampai ke tangan pasien, tetapi gagal memastikan obat tersebut masuk ke paru.
Ini menjadi tantangan yang semakin relevan karena PPOK adalah penyakit kronis. Terapi tidak dilakukan hanya selama beberapa hari, tetapi membutuhkan pengelolaan jangka panjang.
Pasien juga perlu dievaluasi secara berkala. Bila masih sesak, tenaga kesehatan tidak serta-merta menambah obat. Teknik inhaler, kepatuhan, pilihan perangkat, penyakit penyerta, aktivitas fisik dan faktor nonfarmakologis harus diperiksa kembali.
Prinsipnya adalah right patient, right molecule, right device.
Pasien yang tepat harus memperoleh obat yang tepat melalui perangkat yang juga tepat.
Jangan Biarkan Pedoman Berhenti di Atas Kertas
Alfian menekankan pentingnya mengikuti pedoman GOLD dalam tata laksana PPOK. Namun, pedoman tidak akan memberikan manfaat jika tidak diterjemahkan menjadi keputusan klinis yang sesuai dengan kondisi setiap pasien.
“GOLD lebih dari sekadar pedoman,” ujarnya.
Pernyataan tersebut penting karena PPOK tidak bisa dikelola dengan pendekatan satu resep untuk semua pasien.
Ada pasien yang membutuhkan bronkodilator tunggal. Ada yang membutuhkan kombinasi LAMA-LABA. Ada kelompok tertentu yang memerlukan ICS dan terapi kombinasi yang lebih kompleks.
Ada pula pasien yang sebenarnya tidak membutuhkan ICS tetapi tetap mendapatkannya karena faktor ketersediaan obat, kebiasaan peresepan, atau belum optimalnya evaluasi terapi.
Karena itu, optimalisasi terapi PPOK di era JKN bukan hanya persoalan berapa banyak obat yang dapat disediakan, tetapi seberapa tepat obat tersebut dipilih, digunakan dan dipantau.
Pada akhirnya, keberhasilan pengobatan PPOK tidak ditentukan oleh resep semata.
Obat harus mencapai targetnya.
Dan untuk obat inhalasi, target itu adalah paru.
“Obat inhaler yang paling mahal adalah yang tidak bisa diinhalasi.”
Kalimat tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa dalam pengelolaan penyakit kronis, akses obat adalah awal dari terapi, bukan akhir.***













