Informasi
Hubungi Redaksi IAINews melalui email : humas@iai.id
Floating Left Ads
Floating Right Ads
banner 950x90

Merawat Kewarasan

Penulis: apt. Aulia Yahya, S.Farm (Tim Media Nasional IAI/PD IAI Sulawesi Selatan)Editor: apt. Dra Tresnawati
banner 120x600
banner 468x60

KETIDAKMAMPUAN dalam membedakan mana yang nyata dan mana yang imanjinasi merupakan satu tanda terjadinya gangguan mental.  Jamak orang menyebutnya sebagai “gangguan jiwa“.

Adapun terhadap orang yang mengalaminya  disebut sebagai “orang gila“ atau ‘tak waras’, yang dalam istilah mediknya disebut skizofrenia, sebagai suatu kondisi dimana si pasien mengalami gangguan mental, sehingga tidak memiliki kemampuan untuk berpikir, mengingat, ataupun memahami masalah tertentu.

Iklan ×

Meski demikian, perwujudan gejala suatu gangguan jiwa dan intensitas keparahannya bisa sangat bervariasi.

Gangguan jiwa tidak serta merta merupakan gangguan jiwa berat seperti skizofrenia. Depresi, stres dan kecemasan juga merupakan bagian dari gangguan kejiwaan itu sendiri.

Pengobatan terhadap pasien gangguan jiwa pun cukup beragam, terapi obat biasanya disesuaikan dengan gangguan spesifik yang masing masing dialami oleh si pasien.

Mulai dari obat antidepresan, obat antikecemasan, obat penstabil mood, hingga obat anti psikotik.

Berdasarkan data dari Kemenkes terkait prevalensi gangguan jiwa berat atau skizofrenia, mencapai angka 400.000 pasien.

Untuk mereka yang mengalami gejala depresi dan gangguan kejiwaan (usia diatas 15 tahun) berkisar diangka 14 juta orang Indonesia.

Baca Juga  Bawang Merah Baik, Tak Sejahat Yang di Cerita

Waras itu Nikmat, Maka Rawatlah

Lawan kata dari “gila” adalah “waras”, yang menurut KBBI diartikan sebagai sembuh jasmani, sehat rohani (mental, ingatan).

Maka, bersyukurlah kita yang masih diberikan oleh Allah nikmat berupa akal yang sehat. Bahwa dengan akal yang sehat itu kita masih dapat membedakan mana yang baik mana yang buruk, mana perilaku yang terpuji mana perilaku yang tercela.

Bukankah perilaku yang baik dapat ditunjukkan oleh sifat dan gerak gerik kehidupan seseorang sehari-hari! Baik sebagai makhluk individu ataupun selaku makhluk sosial, yang tiada henti dari berperilaku.

Orang yang kehilangan akal sehat bisa dipastikan akan melakukan tindak perilaku yang keluar dari patron kewajaran berperilaku. Penyebabnya bisa beragam. Bisa karena faktor genetik (mutasi gen), struktur kimia otak (neurotransmitter), maupun pengaruh eksternal (lingkungan).

Istilah lingkungan sebagai penyebab skizofrenia disini dapat dimaknai seperti pengaruh lingkungan sosial, gizi, hormonal, bahan kimia dalam rahim ibu selama kehamilan, dinamika sosial, paparan virus, penggunaan vitamin, pengguna narkoba, konsumsi miras, dan termasuk pengalaman stres seseorang.

Baca Juga  Mengenal Lebih Dalam Sejarah Tuberkulosis: Dari Phthisis hingga Penemuan Modern

Diketahui, stres berat dapat mempengaruhi susunan otak yang berpotensi memicu ketidakseimbangan materi otak.

Contoh kasus pada otak penderita post-traumatic stress disorder (PTSD) misalnya, ditemukan adanya perubahan rasio porsi materi putih (white matter) dengan materi abu-abu (gray matter) otak.

Materi putih tersusun dari selubung saraf myelin yang berguna untuk penyampaian informasi, sedangkan materi abu-abu terdiri dari glia yang berguna dalam memproses dan menyimpan informasi.

PTSD merupakan kondisi dimana individu bersangkutan mengalami stres  berat akibat trauma di masa lalu.

Pada pasien PTSD, materi putih otak lebih banyak daripada materi abu-abunya. Sedikitnya jumlah neuron saat otak mengalami stres berat menyebabkan penurunan kemampuan memproses informasi sehingga komunikasi antar sel otak menjadi terganggu dan tidak efektif.

Di sisi lain, otak saat sedang stres juga merespon ketakutan lebih cepat dari biasanya dan menyebabkan mekanisme pada otak untuk menenangkan diri menjadi terganggu.

Maka, sudah semestinya orang yang menderita Skizofrenia diurus dengan baik, dirawat dan diobati secara maksimal, sehingga besar harapan suatu saat akan waras kembali.

Baca Juga  Serba Serbi Penggolongan Darah Pada Manusia

Waras atau Gila kah kita ?

Sebuah adagium Arab berbunyi; Al Jununun Fununun, gila itu bermacam macam. Sebagai sebuah ilustrasi untuk menakar tingkat kewarasan atau kegilaan kita, mari simak bersama sebuah penjelasan hadits berikut ini :

Imam Muslim meriwayatkan hadits bahwa suatu hari Rasulullah melewati sekelompok sahabat yang sedang berkumpul. Rasul bertanya ada apa gerangan?

Salah satu sahabat menjawab “ya Rasul, ini ada orang gila yang sedang mengamuk, karena itu kami kumpul disini”.

Rasul kemudian bersabda, “orang ini tidak gila. Ia sedang mendapat musibah”. Lalu beliau bertanya, “tahukah kalian siapakah orang yang benar-benar gila?”.

Rasul menjelasakan, “orang gila adalah orang yang berjalan dengan sombong, yang memandang orang dengan pandangan yang merendahkan, yang membusungkan dada, berharap akan surga sambil berbuat maksiat kepada-Nya, yang kejelekannya membuat orang lain tidak aman dan kebaikannya tidak pernah diharapkan.

Naudzubillahi min dzalik. Semoga kita terhindar dari kegilaan yang demikian.***

banner 325x300
```

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

banner 950x90