Informasi
Hubungi Redaksi IAINews melalui email : humas@iai.id
Floating Left Ads
Floating Right Ads
banner 950x90

Integritas di Balik Mortar: Seni Menjaga Kejujuran dalam Sebutir Obat

Penulis: apt. Yulianto, M.P.HEditor: apt. Yulianto, M.P.H
banner 120x600
banner 468x60

Timbangan yang Tidak Boleh Berdusta Ketelitian merupakan napas utama dalam dunia farmasi. Apoteker memahami bahwa selisih satu miligram zat aktif bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan penentu antara kesembuhan dan risiko bagi pasien. Kejujuran apoteker diuji saat berada di ruang peracikan yang jauh dari pandangan mata orang lain. Prinsip tauhid mengajarkan bahwa meskipun tidak ada pengawas manusia, Allah merupakan saksi atas setiap serbuk yang ditimbang dan setiap kapsul yang diisi. Apoteker yang berintegritas menyadari bahwa kehalalan rezeki bermula dari kejujuran tangan yang meracik obat.

Pelajaran dari Khalifah dan Penjual Susu.

Iklan ×

Kisah kejujuran seorang gadis penjual susu pada zaman Khalifah Umar bin Khattab memberikan ibrah yang mendalam bagi profesi apoteker. Gadis tersebut menolak permintaan ibunya untuk mencampur susu dengan air demi keuntungan pribadi, meskipun suasana malam sunyi dan tidak ada yang melihat. Kejujuran tersebut bukan karena takut kepada hukum manusia, melainkan karena kesadaran bahwa Allah tidak pernah tidur. Apoteker sering menghadapi godaan serupa, seperti mengganti bahan obat tanpa konfirmasi atau menyembunyikan efek samping demi omzet. Kejujuran apoteker merupakan bentuk ketaatan mutlak kepada perintah Allah dalam Surah Al-An’am ayat 152: “Wa awfuul kaila wal miizaana bil qisth” (Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil).

Baca Juga  Lawan Kanker, Peneliti UNJA Temukan Senyawa Antikanker Kuat dari Anggrek Dendrobium sp

Etika Profesi Sebagai Cermin Keimanan.

Standar operasional prosedur (SOP) dalam praktik kefarmasian tidak boleh dipandang hanya sebagai kewajiban administratif. Apoteker muslim melihat kepatuhan terhadap aturan tersebut sebagai wujud pengabdian kepada Tuhan. Tindakan mengurangi kualitas bahan obat atau mempercepat proses produksi dengan mengabaikan mutu merupakan bentuk pengkhianatan terhadap amanah. Nabi SAW bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim: “Man ghasysyana falaisa minna” (Barang siapa yang berbuat curang, maka ia bukan golongan kami). Integritas apoteker menjadi pembeda antara seorang pedagang obat dengan seorang penjaga umat.

Membangun Kepercayaan Melalui Edukasi yang Jujur.

Pasien meletakkan kepercayaan sepenuhnya kepada apoteker mengenai keamanan obat yang mereka konsumsi. Apoteker memiliki kewajiban moral untuk memberikan informasi yang jujur, termasuk jika suatu obat memiliki risiko yang harus diwaspadai. Kejujuran dalam memberikan informasi obat (PIO) akan menenangkan jiwa pasien dan mendatangkan keberkahan. Apoteker muslim meyakini bahwa keuntungan materiil bersifat fana, sedangkan integritas dan kepercayaan pasien merupakan investasi akhirat yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Baca Juga  Peduli ODGJ, 120 Apoteker Bekasi Tebar Cinta di Yayasan Galuh

Kemuliaan yang Tersembunyi di Ruang Racik.

Jalaluddin Rumi berpesan, “Jadilah seperti matahari untuk kebaikan dan kasih sayang.” Apoteker yang bekerja dengan jujur di ruang racik adalah matahari yang menyinari kegelapan penyakit dengan cahaya integritas. Setiap gerakan tangan yang memastikan dosis dengan akurat adalah tasbih yang nyata. Apoteker muslim yang menjaga kejujurannya senantiasa berada dalam lindungan Allah, karena ia sedang menjalankan misi kemanusiaan yang paling suci.

banner 325x300
```

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

banner 950x90