PERNAH nggak sih kamu merasa perut tiba-tiba kembung, sakit, atau bolak-balik ke kamar mandi tanpa alasan jelas? Kalau iya, bisa jadi itu bukan sekadar “masuk angin” biasa, tapi ada kemungkinan kamu mengalami IBS alias Irritable Bowel Syndrome.
IBS ini cukup umum. Menurut data, sekitar 7 – 15% populasi dunia mengalaminya. Mayoritas penderitanya adalah perempuan. Bayangkan, artinya hampir 1 dari 10 orang dewasa bisa kena kondisi ini.
Masalahnya, IBS bukan sekadar soal perut rewel. Gejala seperti nyeri perut, kembung, diare, atau malah konstipasi bisa bikin kualitas hidup menurun drastis.
Banyak orang jadi kurang produktif, gampang stres, bahkan merasa hidupnya nggak nyaman.
Obat, Langkah Awal yang Bikin IBS Lebih Terkendali
Kalau ngomongin IBS, biasanya langkah pertama yang dipilih dokter adalah obat. Kenapa? Karena obat bisa membantu meredakan gejala yang bikin hidup nggak nyaman, seperti kram, nyeri perut, konstipasi, atau malah diare yang bolak-balik.
Ada obat untuk mengurangi kram, ada juga yang membantu melancarkan buang air besar (BAB), bahkan ada yang bikin diare lebih terkendali. Ditambah lagi, probiotik bisa bantu menyeimbangkan bakteri baik di usus.
Tapi perlu diingat, obat ini sifatnya hanya sementara. Gejala memang bisa mereda, tapi bukan berarti IBS langsung sembuh total.
Diet Rendah FODMAP, Trik Jitu Biar Perut Nggak Drama
Selain obat, ada satu strategi yang makin banyak dipakai penderita IBS, yaitu diet rendah FODMAP.
FODMAP sendiri adalah jenis karbohidrat yang susah dicerna dan sering bikin perut gampang ‘ngambek’.
FODMAP diet adalah pola makan yang berfokus untuk menghindari sumber makanan karbohidrat dengan struktur kimia yang pendek. FODMAP adalah singkatan dari fermentable oligosaccharides, disaccharides, monosaccharides, dan polyol yang merupakan jenis-jenis karbohidrat yang harus dihindari. Berikut uraian selengkapnya.
Fermentable: Makanan yang dapat difermentasi oleh usus untuk diubah menjadi gas.
Oligosaccharides: Oligosakarida merupakan karbohidrat dengan rantai terpanjang dan dapat ditemukan pada gandum, polong-polongan, kacang-kacangan, bawang merah, dan bawang putih. Jenis karbohidrat ini sulit diabsorbsi karena tidak ada enzim yang mampu memecahnya.
Disaccharides: Gula yang terbentuk ketika dua monosakarida tergabung, yaitu sukrosa, laktosa dan maltosa. Perlu diketahui, laktosa dapat ditemukan dalam ASI dan susu.
Monosaccharides: Yang termasuk dalam kelompok monosakarida adalah fruktosa, yaitu karbohidrat dengan rantai terpendek, dikenal juga sebagai gula yang terdapat dalam buah (apel, pir, semangka, mangga, madu). Namun, tidak semua buah mengandung fruktosa.
Polyol: Gula alkohol yang biasanya dibuat untuk pemanis buatan. Poliol juga dapat ditemukan pada buah, seperti apel dan pir.
Jenis-jenis karbohidrat tersebut sangat sulit dicerna oleh orang yang mengalami gangguan usus karena dapat menghasilkan gas, seperti hidrogen, karbondioksida, serta metana yang bisa menyebabkan perut kembung, sakit perut, sering kentut, hingga diare.
Menariknya, penelitian menunjukkan sekitar 70% orang dengan IBS merasa gejalanya jauh lebih ringan setelah mencoba diet ini.
Prosesnya dilakukan bertahap, mulai dari menghindari makanan tinggi FODMAP, lalu pelan-pelan mencoba lagi makanan tertentu untuk lihat reaksi tubuh, hingga akhirnya bikin pola makan khusus yang pas buat masing-masing orang.
Jadi, kalau obat biasanya dipakai untuk gejala yang akut, diet FODMAP lebih cocok sebagai cara sehari-hari untuk menjaga perut tetap tenang.
Jadi, Apa yang Harus Kita Ingat?
IBS memang sering disebut penyakit “drama perut”. Tapi kabar baiknya, ada banyak cara untuk mengendalikannya.
Ada pasien yang cocok dengan obat, ada juga yang lebih terbantu dengan diet, dan banyak yang butuh kombinasi keduanya.
Yang jelas, jangan pernah menyepelekan gejala IBS. Konsultasi dengan tenaga kesehatan, terutama apoteker, bisa sangat membantu.
Kenapa apoteker? Karena apoteker bukan hanya ahli soal obat, tapi juga bisa jadi teman diskusi buat mencari tahu apakah obatmu bisa berjalan beriringan dengan diet rendah FODMAP atau perlu strategi lain.
Oleh karena itu, kalau kamu atau orang terdekatmu punya gejala IBS, jangan bingung sendiri. Ingat, ada obat, ada diet, dan ada apoteker yang siap membantu.
Jadi, sebelum mengambil keputusan soal terapi, selalu #TanyaDuluKeApoteker. Karena dengan informasi yang tepat, hidup bisa lebih tenang, dan perut pun berhenti drama.***













