Informasi
Hubungi Redaksi IAINews melalui email : humas@iai.id
Floating Left Ads
Floating Right Ads
banner 950x90

Hari Kontrasepsi Sedunia: Langkah Positif untuk Kesehatan, Kesetaraan, dan Masa Depan

Penulis: apt. Yuri Pratiwi Utami., S.Farm.,M.Si.,C.Herbs (Tim Media Nasional IAI/PD IAI Sulsel)Editor: apt. Erie Gusnellyanti, S.Si, MKM
banner 120x600
banner 468x60

HARI Kontrasepsi Sedunia atau World Contraception Day (WCD) menjadi momentum global untuk mendorong kesehatan reproduksi, kesetaraan gender, dan masa depan yang lebih baik. Diperingati pada 26 September setiap tahun, Hari Kontrasepsi Sedunia dimulai tahun 2007. Pertama kali digagas oleh sepuluh organisasi keluarga berencana internasional yang memiliki visi bersama untuk mewujudkan setiap kehamilan sebagai kehamilan yang direncanakan dan diinginkan.

Tujuan utamanya untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya kontrasepsi, memberikan informasi yang akurat dan lengkap mengenai berbagai metode kontrasepsi, memberdayakan kaum muda dan pasangan untuk membuat pilihan yang tepat dan sadar mengenai kesehatan seksual dan reproduksi mereka, termasuk perencanaan keluarga.

Iklan ×

Hari Kontrasepsi Sedunia

Kini Hari Kontrasepsi Sedunia didukung oleh koalisi Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) internasional, organisasi pemerintah, serta komunitas ilmiah dan medis di seluruh dunia. Peringatan Hari Kontrasepsi Sedunia memiliki opini yang sangat positif dan krusial secara global, terutama karena fungsinya sebagai platform untuk advokasi hak dan kesehatan reproduksi.

Secara umum, opini publik dan lembaga kesehatan internasional melihat Hari Kontrasepsi Sedunia sebagai momentum penting karena alasan-alasan berikut:

Penegasan Hak Asasi Manusia dan Otonomi Tubuh

Opini yang paling kuat adalah bahwa peringatan Hari Kontrasepsi Sedunia merupakan penegasan bahwa akses terhadap kontrasepsi adalah hak asasi manusia yang mendasar.

  • Kehamilan Terencana: kontrasepsi memungkinkan individu dan pasangan untuk membuat pilihan yang sadar dan terinformasi mengenai kapan dan berapa banyak anak yang mereka inginkan. Ini selaras dengan ungkapan terkenal dari Dr. Nafis Sadik, mantan Direktur Eksekutif United Nations Population Fund (UNFPA), “Keluarga yang sehat dibentuk oleh pilihan, bukan oleh kebetulan.”
  • Pemberdayaan Perempuan: kontrasepsi memberi perempuan kendali atas tubuh dan masa depan mereka, yang berdampak langsung pada pendidikan, karier, dan kemandirian ekonomi.
Baca Juga  World Contraception Day (WCD) 26 September, Strategi Komunikasi Tepat Hadapi Opini dan Tantangan

Manfaat Kesehatan Publik dan Pembangunan

Hari Kontrasepsi Sedunia menggarisbawahi bahwa perencanaan keluarga adalah investasi strategis bagi negara, bukan sekadar urusan pribadi.

  • Penurunan Angka Kematian: kontrasepsi dapat mengurangi risiko kehamilan yang terlalu sering atau terlalu dekat jaraknya, sehingga menurunkan angka kematian ibu dan bayi secara signifikan.
  • Peningkatan Kualitas Hidup: dengan merencanakan kelahiran, keluarga dapat mengalokasikan sumber daya (gizi, pendidikan, kesehatan) secara optimal, yang menjadi fondasi untuk menghasilkan generasi yang sehat dan berkualitas, misalnya, upaya menekan stunting. Di Indonesia, ini dilihat sebagai kunci untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045.

Menghapus Stigma dan Melawan Misinformasi

Opini umum melihat peringatan Hari Kontrasepsi Sedunia sebagai alat yang efektif untuk mengatasi tantangan sosial dan budaya:

  • Edukasi Komprehensif: acara dan kampanye pada Hari Kontrasepsi Sedunia berfungsi untuk menyebarkan fakta yang akurat dan komprehensif, khususnya kepada kaum muda dan remaja, melalui program seperti GenRe di Indonesia, yang seringkali minim pengetahuan atau terpapar misinformasi seputar efek samping kontrasepsi.
  • Keterlibatan Laki-laki: peringatan ini berupaya mengubah mindset bahwa kontrasepsi hanya menjadi urusan perempuan. Kampanye terus mendorong keterlibatan dan tanggung jawab laki-laki dalam perencanaan keluarga.
  • Mengatasi Hambatan Akses: peringatan ini menjadi pengingat bagi pemerintah dan organisasi kesehatan untuk memastikan ketersediaan layanan dan pilihan kontrasepsi yang aman, terjangkau, dan mudah diakses, terutama di daerah terpencil.

Isu Kritik/Tantangan

Meskipun didukung secara luas, Hari Kontrasepsi Sedunia juga menghadapi tantangan dan kritik, terutama dari kelompok konservatif atau agama tertentu yang menentang metode kontrasepsi buatan.

Baca Juga  Khamr dan Ditegurnya Sholat Ali

Kritik tersebut umumnya berkisar pada pandangan bahwa kontrasepsi dianggap:

  • Melawan nilai-nilai keagamaan atau moral.
  • Mendorong perilaku seksual yang tidak bertanggung jawab, terutama di kalangan remaja.

Namun, koalisi WCD dan pendukungnya menegaskan bahwa tujuan utama mereka adalah mengedukasi dan memberi pilihan demi kesehatan dan kesejahteraan. Mereka menekankan bahwa penggunaan kontrasepsi adalah hak, bukan kewajiban, dan harus dilakukan atas dasar persetujuan dan konsultasi yang matang dengan tenaga kesehatan.

Konsep bahwa penggunaan kontrasepsi adalah hak, bukan kewajiban, dan harus didasarkan pada persetujuan dan konsultasi yang matang dengan tenaga kesehatan adalah prinsip fundamental dalam kesehatan reproduksi global. Prinsip ini menegaskan otonomi individu dan kualitas layanan, bukan hanya sekadar pengendalian populasi.

Kontrasepsi sebagai Hak (Bukan Kewajiban)

Kontrasepsi diposisikan sebagai hak asasi manusia karena berkaitan erat dengan hak untuk hidup, kesehatan, dan kesetaraan.

Hak untuk Memilih (Otonomi Tubuh)

Setiap individu berhak penuh untuk membuat keputusan tentang tubuh dan fungsi reproduksi mereka sendiri. Ini mencakup:

  • Hak untuk Menentukan: kapan, apakah, dan seberapa sering mereka ingin memiliki anak (atau menunda kehamilan).
  • Hak atas Kesehatan Reproduksi: menggunakan kontrasepsi adalah salah satu cara untuk menjaga kesehatan ibu dan anak dengan mencegah kehamilan yang tidak diinginkan atau kehamilan berisiko tinggi (misalnya, jarak kelahiran terlalu dekat).

Bukan Kewajiban Negara

Meskipun negara memiliki program Keluarga Berencana (KB) untuk kepentingan pembangunan, penggunaan kontrasepsi tidak boleh diwajibkan kepada warganya melalui paksaan, sanksi, atau tanpa persetujuan. Program KB harus bersifat sukarela dan berfokus pada pemberian pilihan, bukan penetapan target wajib.

Baca Juga  Peringati WPD 2024, PC IAI Pinrang Gelar Dagusibu, Senam Sehat, dan Donor Darah

Pentingnya Persetujuan (Informed Consent)

Persetujuan yang dimaksud haruslah Persetujuan Setelah Penjelasan (PSP) atau Informed Consent yang valid, yang berarti:

  • Sukarela dan Tanpa Paksaan: keputusan untuk menggunakan, memilih jenis, dan menghentikan kontrasepsi harus sepenuhnya sukarela. Tidak boleh ada tekanan dari pasangan, keluarga, atau petugas kesehatan.
  • Informasi Lengkap dan Tepat: persetujuan hanya valid jika individu telah menerima semua informasi yang relevan mengenai metode yang akan digunakan, termasuk tingkat efektivitas (seberapa manjur), cara penggunaan yang benar, potensi efek samping (jangka pendek dan jangka panjang), keuntungan dan kerugian dibandingkan metode lain. Persetujuan yang didapat tanpa informasi lengkap dan tanpa kerelaan penuh sama saja dengan pelanggaran hak reproduksi.

Peran Konsultasi Matang dengan Tenaga Kesehatan

Konsultasi dengan tenaga kesehatan (dokter, bidan, atau penyuluh KB terlatih) adalah langkah kritis yang membedakan penggunaan kontrasepsi yang aman dari penggunaan yang berisiko.

  • Memastikan Kesesuaian Metode: setiap orang memiliki kondisi kesehatan yang berbeda. Konsultasi bertujuan untuk melakukan skrining medis untuk memastikan tidak ada kontraindikasi (alasan medis untuk tidak menggunakan) metode kontrasepsi tertentu, membantu pasangan memilih metode yang paling efektif dan paling sedikit risikonya berdasarkan riwayat kesehatan dan tujuan perencanaan keluarga mereka (jangka pendek atau jangka panjang).
  • Edukasi dan Pendampingan: tenaga kesehatan berperan sebagai edukator untuk membongkar mitos dan memberikan informasi yang berbasis bukti. Mereka juga bertugas memberikan pendampingan berkelanjutan (follow-up) untuk menangani setiap efek samping yang muncul dan memberikan solusi, sehingga akseptor kontrasepsi tidak berhenti di tengah jalan.

https://www.who.int/southeastasia/news/speeches/detail/world-contraception-day-2025

banner 325x300
```

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

banner 950x90