Informasi
Hubungi Redaksi IAINews melalui email : humas@iai.id
Floating Left Ads
Floating Right Ads
banner 950x90

Fenomena Penjualan Antibiotik

Penulis: apt. Aulia Rahim, M.Farm (Tim Media Nasional IAI/PD IAI Kalimantan SelatanEditor: apt. Dra Tresnawati
banner 120x600
banner 468x60

“KOK apotek milik kampus farmasi tetap menjual antibiotik tanpa resep?”, celetuk seorang teman ketika berkunjung ke salah satu kota yang memiliki beberapa kampus farmasi.

“Padahal lewat apotek milik kampus farmasi bisa digaungkan lebih kencang dan diawali sejak dini mengenai penggunaan obat antibiotik yang tepat sehingga mengurangi terjadinya resistensi antibiotik”, jelas dia tanpa ditanya

Iklan ×

Inilah kondisi yang terjadi hingga sekarang ini. Sebuah apotek tidak bisa dipungkiri ketika melakukan pelayanan kefarmasian, ada dua orientasi yang diambil atau dipilih yakni patient oriented atau product oriented.

Product oriented hanya berfokus pada penjualan dan kualitas produk (obat), sedangkan patient oriented berfokus pada keselamatan, peningkatan kualitas hidup, dan kebutuhan pasien secara keseluruhan, meliputi edukasi, konseling, dan pemantauan efek samping obat serta mengedepankan pasien sebagai pusat pelayanan, bukan hanya sekadar transaksi obat.

Baca Juga  Kekuatan Diksi Positif

Apakah orang yang datang ke apotek harus membeli obat? inilah pertanyaan yang mendasar mengenai orientasi tersebut. Sebab, tidak semua orang yang datang ke apotek harus membeli obat.

Ada satu kisah dimana orang datang ke apotek kemudian bercerita dengan apoteker mengenai permasalahan kesehatan yang dideritanya.

Sebelum apoteker memberikan saran dan arahan mengenai pengobatan ternyata orang tersebut sudah merasakan ketenangan dan kenyamanan.

Ternyata, dia hanya perlu orang yang bisa mendengarkan ceritanya. Dari kisah di tersebut kita pahami bahwa tidak semua orang ke apotek harus membeli obat.

Kembali ke penjualan antibiotik yang menjadi sangat tidak terkendali, sebab masyarakat awam memiliki pemikiran bahwa antibiotik adalah obat segala-galanya, apapun penyakitnya bisa disembuhkan dengan antibiotik dan ketika mau membeli obat ke apotek pun yang dicari antibiotik.

Baca Juga  Semarak Dies Natalis Farmasi Unpad: Fun Football Satukan Alumni dan Civitas Akademika

Perlunya ketegasan dari pemangku kebijakan baik itu pemerintah maupun organisasi profesi mengenai penggunaan antibiotik harus dengan resep dokter.

Sosialisasi pun harus lebih gencar dilakukan tenaga kesehatan agar pola pikir masyarakat terhadap obat antibiotik tidak keliru, bahwa antibiotik adalah obat untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh bakteri dan tidak semua penyakit disebabkan oleh bakteri sehingga tidak semuanya harus diobati dengan antibiotik.

“Aku maunya antibiotik sebab setelah minum antibiotik, sakit yang kualami jadi makyus tidak berapa lama langsung sembuh,” tutur seorang anggota masyarakat yang masih terpaku dengan antibiotik.

“Saya mau membeli Azitromicsin,” ucap seorang perempuan.

“Mohon maaf bu, obat itu obat antibiotik dan harus dibeli dengan resep dokter,” ucap petugas apotek

Baca Juga  Tips Sederhana Menyimpan Obat di Rumah

“Tidak bisa tanpa resep ya?,” tanya sang pembeli, “sebentar ya,” seketika sang pembeli mengeluarkan sesuatu dari dompet dan memperlihatkan sebuah kartu kepada petugas apotek.

“Baik dok,” jawab petugas apotek sambil tersenyum.

Kejadian tersebut terjadi di salah satu apotek di Yogyakarta. Daerah tersebut memang istimewa seperti namanya Daerah Istimewa Yogyakarta.

Semua apotek serempak dan kompak ketika ada orang yang membeli antibiotik tanpa resep dokter maka tidak dilayani dan tidak akan diberikan obat antibiotik.***

banner 325x300
```

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

banner 950x90