Site icon IAI NEWS

EPISTÈMÈ TRI HITA KARANA PADA GERBANG PROFESI: PSPA UNBI STANDARISASI MUTU APOTEKER MASA DEPAN

segenap pimpinan, narasumber dan peserta pelatihan berfoto bersama sebelum sesi pemberian materi dimulai

Denpasar, IAINews – Uji kompetensi nasional (UKOMNAS) bertindak sebagai instrumen krusial guna meminimalkan variasi capaian keterampilan sekaligus menegakkan standardisasi pendidikan Peserta Didik Profesi Apoteker (PDPA). Metode Objective Structured Clinical Examination (OSCE) hadir sebagai komponen penentu kelulusan (exit exam) yang berfokus pada penguasaan keterampilan kognitif serta psikomotorik kandidat apoteker. Program Studi Profesi Apoteker (PSPA) Universitas Bali Internasional (UNBI) memastikan hal itu dengan menggelar Workshop Pelatihan Penguji OSCE. Agenda masif hasil kerja sama dengan Asosiasi Pendidikan Tinggi Farmasi Indonesia (APTFI) ini berlangsung khidmat pada Jumat-Sabtu, 1–2 Mei 2026 di lingkungan kampus setempat.

Narasumber pelatihan, berturut-turut dari kiri ke kanan: Dr. apt Wirda Anggraini, Romo Sukir, Dr. apt Dika Pramita Destiani

Komitmen Pionir PTS Terdepan di Bali

Langkah strategis ini menandai tonggak sejarah baru bagi peta pendidikan tinggi kefarmasian di pulau dewata. Acara dibuka secara resmi oleh Dekan Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan UNBI, dr. I Gusti Ngurah Mayun, Sp.HK. Beliau menyampaikan rasa bangga yang mendalam atas status PSPA UNBI sebagai program studi profesi apoteker pertama di lingkup perguruan tinggi swasta se-Provinsi Bali. Pelatihan masif yang diikuti oleh 37 dosen ini menjadi bukti nyata komitmen dan kesiapan infrastruktur UNBI dalam pelaksanaan metode assessment ketrampilan berstandar nasional.

UKOMNAS sebuah upaya penjaminan mutu terhadap apoteker yang diluluskan oleh perguruan tinggi farmasi Indonesia

Parahyangan: Kesucian Amanah Tuhan dalam Tangan Penguji

Sudut pandang filosofis pelaksanaan pelatihan ini berakar kuat pada nilai luhur Tri Hita Karana, yang membedah peran penguji ke dalam tiga dimensi relasional. Dimensi pertama adalah Parahyangan, sebuah kesadaran spiritual tertinggi bahwa aktivitas menguji bukanlah sekadar rutinitas formalitas pengisian lembar penilaian di atas meja. Penguji memikul tanggung jawab transendental di hadapan Tuhan Yang Maha Esa saat memutuskan kelayakan kelulusan seorang kandidat. Apoteker yang dilahirkan haruslah figur yang berintegritas tinggi karena mereka akan memegang amanah suci dalam mengelola serta melayankan komoditas obat demi keselamatan nyawa manusia.

UKOMNAS terdiri dari CBT untuk menilai pengetahuan dan OSCE untuk menilai keterampilan calon apoteker Indonesia

Pawongan: Merawat Generasi Penerus Lewat Keteladanan Profesional

Dimensi kedua mengadopsi konsep Pawongan, yakni menjaga keharmonisan hubungan antardua manusia dalam ekosistem pendidikan. Para peserta pelatihan diajak untuk tidak memandang kandidat ujian semata-mata sebagai mahasiswa biasa yang sedang diuji kemampuannya. Mahasiswa profesi merupakan tunas peradaban serta generasi penerus yang berhak mendapatkan transfer ilmu, bimbingan empati, serta keteladanan karakter dari para senior. Objektivitas penilaian yang diberikan oleh seorang penguji ahli mencerminkan rasa hormat dan kasih sayang profesional guna membentuk mentalitas apoteker yang tangguh.

Pyramida Miller yang menjadi landasan dalam menyusun metode assessment dalam UKOMNAS kandidat apoteker

Palemahan: Disiplin Menjaga Ekosistem dan Struktur Stasiun Ujian

Dimensi ketiga terwujud melalui pemenuhan prinsip Palemahan, yaitu keselarasan dan keteraturan terhadap lingkungan fisik tempat manusia beraktivitas. Manifestasi poin ini diimplementasikan melalui kedisiplinan penguji dalam menjaga ritme tata tertib, pembagian sesi, perputaran round, hingga kesiapan sarana fisik sembilan stasiun ujian. Ketepatan suplai alat, bahan praktikum kefarmasian, serta konsistensi akting pemeran standar harus dipastikan berjalan sesuai dengan manual teknis nasional. Keandalan komponen lingkungan ini sangat vital agar instrumen penilaian mampu menakar keterampilan klinis mahasiswa secara adil serta tepercaya.

Arsitektur Teori Cetak Biru dan Standar Kelulusan

Sinergi keilmuan pada hari pertama diisi dengan pembekalan teori komprehensif dari para narasumber dari Asosiasi Pendidikan Tinggi Farmasi Indonesia (APTFI). Materi tentang OSCE sebagai ujian nasional kompetensi calon apoteker serta bagaimana bertindak sebagai penguji dibedah dan disampaikan oleh Romo Sukir (apt. Yulianto, M.P.H) dari Farmasi Universitas Islam Indonesia. Ibu Dr, apt Dika Pramita Destiani, M.Farm dari Fakultas Farmasi Universitas Padjajaran mengupas bluperint OSCE juga menyampaikan standart setting dalam menilai kelulusan mahasiswa dengan nilai batas lulusnya.

OSCE berfokus pada SHOW HOW untuk melihat kemampuan kandidat dalam praktik kefarmasian yang ditunjukkan dalam ujian ini

Simulasi Dua Putaran dan Refleksi Transparan

Memasuki hari kedua, dinamika pelatihan bergeser pada pembuktian praktis melalui simulasi ujian dua putaran (round) yang menyerupai atmosfer ujian nasional. Agenda krusial ini dikawal ketat oleh Dr. apt. Wirda Anggraini, M.Farm dari FKIK UIN Malik Ibrahim Malang yang bertindak sebagai Penyelia Pusat (PP). Sesi penutupan diwujudkan melalui forum refleksi mendalam yang melibatkan mahasiswa/kandidat, panitia lokal, laboran, teknisi IT, serta seluruh dosen peserta pelatihan. Evaluasi kolektif ini memutus mata rantai subjektivitas demi melahirkan sistem penjaminan mutu kelulusan apoteker UNBI yang adaptif, reflektif, berwibawa, serta membumi bagi kemanusiaan.

Exit mobile version