Bengkulu, IAINews – Kampanye Gerakan Ayo Buang Sampah Obat (ABSO) menjadi perhatian utama dari seluruh rangkaian kegiatan peringatan World Pharmacist Day di Sport Center Pantai Panjang Bengkulu pada Minggu (21/09/25). Masyarakat yang hadir diajak untuk membawa obat yang sudah kedaluwarsa atau tidak terpakai dari rumah masing-masing. Obat tersebut kemudian dikumpulkan melalui stand khusus BPOM yang tersedia di lokasi acara.

Acara yang dihadiri sekitar 1.000 masyarakat, apoteker, mahasiswa ini digelar oleh Pengurus Daerah Ikatan Apoteker Indonesia (PD IAI) Bengkulu bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Ikatan Senat Mahasiswa Farmasi (ISMAFARSI) wilayah Sumatera 2 dan HIMAFAS1 Universitas Bengkulu (UNIB). Berlangsung secara meriah, acara ini menghadirkan beragam kegiatan, mulai dari “Senam Obat Sehat”, layanan cek kesehatan gratis, pembagian vitamin serta obat cacing, creative games hingga penyuluhan kesehatan masyarakat.
Perwakilan BPOM Bengkulu, apt. Novri Fitriani, S.Farm dan Sivitas Akademika UNIB, apt. Karina Primatyas Ningrum, M.Pharm.Sci dalam kesempatan tersebut menyampaikan pentingnya edukasi tentang pembuangan sampah obat secara benar. “Obat kedaluwarsa tidak boleh dibuang sembarangan, apalagi dikonsumsi kembali. Melalui gerakan ini, kami ingin masyarakat lebih peduli terhadap keamanan obat sekaligus lingkungan,” ujarnya.
Selain kampanye ABSO, BPOM juga membawakan materi mengenai antimicrobial management dan resistensi antimikroba (AMR). Materi ini menekankan bahaya penggunaan antibiotik yang tidak tepat, yang dapat menyebabkan kuman menjadi kebal terhadap obat (resisten) dan sulit diatasi. BPOM mengingatkan masyarakat untuk tidak membeli antibiotik tanpa resep dokter, mengonsumsi sesuai aturan, serta tidak menyimpan atau membuang antibiotik sembarangan.
Untuk memudahkan masyarakat, BPOM Bengkulu telah menyediakan beberapa titik tempat pembuangan sampah obat, antara lain: Apotek Yenni; Apotek Saraan; Puskesmas Telaga Dewa; dan Puskesmas Betungan.
Selain itu, masyarakat juga diajak menerapkan Gerakan 4T dalam penggunaan obat:
- Tepat Obat – sesuai indikasi dan kebutuhan.
- Tepat Dosis – sesuai takaran yang dianjurkan.
- Tepat Waktu – sesuai jadwal konsumsi yang ditetapkan.
- Tepat Cara – cara penggunaan yang benar sesuai aturan.
Program ini semakin kuat dengan adanya dukungan Pemerintah Kota Bengkulu. Wali Kota Bengkulu, Dedi Wahyudi, yang telah mengeluarkan Surat Edaran No. 22 Tahun 2025 tentang Pencegahan dan Pengendalian Antimicrobial Resistance (AMR) serta Penyalahgunaan Obat-obatan Tertentu. Kebijakan ini menjadi langkah nyata dalam memperkuat komitmen pemerintah daerah untuk menjaga kesehatan masyarakat dan mencegah dampak buruk resistensi antimikroba.
Antusiasme masyarakat terlihat dari banyaknya peserta yang membawa sampah obat untuk diserahkan di stand BPOM serta keseriusan mereka mengikuti penyuluhan. Hal ini menunjukkan meningkatnya kesadaran akan bahaya pembuangan obat yang tidak tepat dan pentingnya penggunaan obat, terutama antibiotik, secara rasional.
Ketua PD IAI Bengkulu, apt. Yenni Fithriani, S.Si., MPA, menegaskan bahwa World Pharmacist Day bukan hanya perayaan profesi apoteker, tetapi juga momentum untuk mengedukasi masyarakat. “Sejalan dengan tema WPD 2025, Think Health, Think Pharmacy, kami ingin menunjukkan bahwa apoteker selalu hadir di tengah masyarakat, salah satunya melalui edukasi pembuangan sampah obat yang aman, upaya pencegahan resistensi antimikroba, serta penerapan Gerakan 4T. Dengan begitu, masyarakat tidak hanya lebih sehat, tetapi juga terlindungi dari dampak penggunaan obat yang tidak bijak,” ujarnya.
https://iainews.net/1000-peserta-senam-obat-sehat-di-wpd-2025-bengkulu/
https://www.pom.go.id/berita/badan-pom-tumbuhkan-budaya-buang-sampah-obat-yang-benar












