Informasi
Hubungi Redaksi IAINews melalui email : humas@iai.id
Floating Left Ads
Floating Right Ads
banner 950x90

Yuk Kenali Batuk Alergi, Dampak dan Cara Mengatasinya

Penulis: apt. Yuri Pratiwi Utami, ,S.Farm.,M.Si.,C.Herb ( Tim Media Nasional IAI /PD IAI Sulawesi Selatan)Editor: apt. Dra Tresnawati
apt. Yuri Pratiwi menyampaikan materi mengenai batuk alergi.
banner 120x600
banner 468x60

MAKASSAR, IAINews – Batuk alergi adalah batuk yang dipicu oleh paparan terhadap alergen spesifik, seperti serbuk sari, debu, bulu hewan, atau jamur pada individu yang sensitif. Tenaga kefarmasian perlu mengenali batuk alergi dengan benar, agar mampu melayani pengobatan swamedikasi dengan baik.

Hal itu disampaikan apt. Yuri Pratiwi Utami dalam webinar kefarmasian ’Peran Edukatif Tenaga Farmasi dalam Penanganan Batuk Alergi : Menjawab Tantangan Penggunaan Obat Batuk yang Tidak Tepat’.

Iklan ×

Webinar yang diselenggarakan Rabu, 26 November 2025 lalu itu diselenggarakan oleh OTC Disgest Inspirasi Keluarga dan PT Harsen Laboratory.

apt. Yuri Pratiwi menyampaikan materi mengenai batuk alergi.

Selain apt Yuri Pratiwi, hadir pula sebagai pembicara Sonya Agustine, S.K.M.

Dalam kesempatan itu apt. Yuri Pratiwi Utami membawakan materi ‘Optimalisasi Penggunaan Ekspektoran dan Antihistamin dalam Tatalaksana Batuk Alergi : Peran Strategi Tenaga Farmasi dalam Pemilihan Obat yang Rasional’.

Tenaga farmasi memiliki peran penting memahami penanganan batuk alergi, agar dapat menjawab kebutuhan swamedikasi yang aman dan tepat, karena adanya resiko penggunaan obat yang tidak tepat. Disamping peran tenaga farmasi sebagai komunikator dan edukator, agar dapat berfungsi dengan maksimal.

Tenaga farmasi perlu mengetahui sifat khusus batuk alergi yang disertai dengan dahak, perlu juga mengetahui bagaimana mekanisme batuk alergi, apaakah dibutuhkan kombinasi efek (antihistamin dan ekspektoran) dan keragaman produk yang ada dipasaran.

Kemudian tidak kalah pentingnya adalah bagaimana tenaga kefarmasian melaksanakan tanggung jawab profesi sesuai dengan standar pelayanan kefarmasian, mencegah efek samping dan interaksi obat dan keterkaitan dengan gejala penyakit lainnya.

Baca Juga  Catut Nama Apotek, Akun Online Jual Produk Ilegal

Batuk dan Fungsi Batuk

Batuk didefinisikan sebagai mekanisme refleks pelindung/pertahanan tubuh yang bersifat eksplosif dan tiba-tiba (ekspirasi paksa), udara dikeluarkan secara mendadak dari rongga dada melalui glottis dan mulut.

Batuk berfungsi sebagai mekanisme alami untuk membersihkan dan melindungi saluran pernapasan, termasuk paru-paru, dari sekresi mukus (lendir/dahak) yang berlebihan, benda asing (seperti debu, asap, serbuk sari), serta iritan atau rangsangan (baik mekanis, kimiawi, maupun suhu).

Batuk juga merupakan salah satu gejala pernapasan yang paling sering dilaporkan dan menjadi alasan utama kunjungan ke fasilitas kesehatan, terutama pasca-pandemi COVID-19.

Diskusi bersama dua narasumber.

Dampak Batuk

Batuk yang sangat kuat atau sering menimbulkan tekanan intratoraks yang tinggi, yang dapat menyebabkan cedera fisik langsung seperti  nyeri otot dan dada, patah tulang rusuk (fraktur kosta), inkoneintensia urine, muntah atau mual, pingsan (sinkop), serta perdarahan subkonjungtiva dan hernia.

Batuk juga berdampak pada kualitas hidup. Dampak batuk kronis yang paling umum dan berdampak besar pada kesejahteraan sehari-hari adalah gangguan tidur (insomnia), kelelahan kronis, dan gangguan sosial dan psikologis.

Batuk juga dapat memperburuk kondisi mendasar.  Jika batuk adalah gejala dari penyakit yang lebih serius, tidak mengatasinya dapat memperburuk penyakit tersebut seperti progresivitas penyakit paru, penyebaran infeksi, dan komplikasi pada anak.

Batuk Alergi dan Gejalanya

Batuk alergi adalah batuk yang dipicu oleh paparan terhadap alergen spesifik (seperti serbuk sari, debu, bulu hewan, atau jamur) pada individu yang sensitif.

Baca Juga  Pemilihan Kontrasepsi Berbasis Progestin Aman untuk Ibu Menyusui, Optimalkan Peran Apoteker

Batuk alergi umumnya adalah batuk kering (non-produktif). Intensitas yang sering kali berupa batuk ringan hingga sedang yang terasa gatal di tenggorokan, bukan batuk yang dalam dan menyakitkan seperti pada pneumonia. Durasi yang cenderung bersifat kronis atau berulang (bermusim), tergantung pada kapan paparan alergen terjadi.

Tatalaksana Batuk Alergi

Penghindaran Alergen  (Langkah Paling Awal) : Mengidentifikasi dan membatasi paparan terhadap alergen spesifik adalah langkah pertama dan terpenting.

Terapi Farmakologi (Obat-obatan). Obat-obatan digunakan untuk meredakan gejala (batuk, bersin, dan lendir) dengan menargetkan reaksi alergi dan postnasal drip. Jenis obat dengan menggunakan antihistamin, kortikosteroid, dekongestan, antagonis resptor lekokotrien (LTRA) dan pencuci hidung saline (Nasal Lavage).

Immunoterapi Alergen  (Desensitisasi). pengobatan yang dapat memberikan solusi jangka panjang, bukan hanya meredakan gejala. Direkomendasikan jika batuk alergi bersifat kronis, parah, atau tidak terkontrol dengan obat-obatan dan penghindaran alergen.

Tatalaksana Batuk (Simptomatik). Pengobatan langsung untuk batuk (bukan alergi yang mendasarinya), menggunakan supresan batuk (antitusif). Obat seperti Dextromethorphan dapat digunakan untuk meredakan batuk kering yang mengganggu tidur, namun biasanya hanya diperlukan sementara.

Ekspektoran : dapat digunakan mengencerkan dan menfasilitasi pengeluaran dahak.  Minuman Hangat dan Pelembap Udara: Membantu menenangkan tenggorokan yang teriritasi dan menjaga kelembaban saluran napas.

Mekanisme Kerja Ekspektoran dan Antihistamin  Meredahkan Batuk Alergi

Kombinasi ekspektoran dan antihistamin menjadi perawatan optimal untuk batuk yang dipicu atau diperburuk oleh alergi. Kombinasi ini dibutuhkan ketika batuk alergi tidak hanya disebabkan oleh iritasi (yang diatasi oleh antihistamin), tetapi juga oleh masalah pengeluaran lendir (yang diatasi oleh ekspektoran).

Baca Juga  Meraih Berkah Ramadhan Bersama Apoteker (RABA): Edukasi Kesehatan dan Kebaikan Berbagi

Ekspektoran adalah terapi simptomatik tambahan yang tidak menargetkan alergi, melainkan mengatasi dahak kental yang mungkin dihasilkan dari reaksi alergi (PND) atau komplikasi pernapasan lainnya. Antihistamin Adalah terapi lini pertama untuk batuk yang dipicu oleh alergi karena menargetkan akar masalah histamin.

Peran Tenaga Farmasi dalam Merekomendasikan Obat Batuk yang rasional kepada pasien dengan batuk alergi

Identifikasi dan Klasifikasi Batuk (Skrining) : tanyakan gejala khas dengan konfirmasi adanya gejala rhinitis alergi seperti batuk kering, batuk berulang, dan postnasal drip. Identifikasi pemicu  dan skrining red flags.

Rekomendasi Terapi yang Ditargetkan (Rasional) : Setelah batuk diklasifikasikan sebagai alergi, farmasis merekomendasikan obat yang menargetkan inflamasi alergi, bukan hanya supresan batuk.

Edukasi dan Konseling Pasien : Edukasi adalah komponen penting untuk memastikan kepatuhan pasien dan keberhasilan terapi jangka panjang. Edukasi penghindaran alergen, penggunaan obat, dosis dan durasi serta peringatan efek samping.

Pendekatan Non-Farmakologi (Terapi Suportif) dengan Irigasi Saline: Merekomendasikan penggunaan larutan saline atau alat pencuci hidung (neti pot) untuk membersihkan alergen dan lendir dari saluran hidung. Asupan Cairan: Menganjurkan minum banyak air hangat atau madu untuk menenangkan tenggorokan yang teriritasi.

Tugas utama Tenaga Kefarmasian adalah mengarahkan pasien dari pengobatan simtomatik yang tidak rasional menuju terapi yang berfokus pada etiologi (penyebab) menggunakan antihistamin dan kontrol alergen.***

banner 325x300
```

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

banner 950x90