Yogyakarta, IAINews – Perayaan Hari Kesehatan Nasional (HKN) dan hari jadi IDI ke-75 di Balai Kota semakin meriah dengan kehadiaran IAI DIY yang mengajak masyarakat Yogyakarta untuk lebih bijak dalam menggunakan antimikroba. Apoteker Yogyakarta kini mengukuhkan komitmen lewat sebuah deklarasi kolektif, ketika ancaman ‘Kuman Kebal’ makin nyata, Walikota Yogyakarta Dr. (HC) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG(K), tampil sebagai garda terdepan, langsung membubuhkan tanda tangan dukungan yang diikuti oleh seluruh organisasi profesi kesehatan!
Aksi “Gowes Apoteker Ceria untuk Jagareksa Antimikroba” yang digelar oleh Pengurus Daerah Ikatan Apoteker Indonesia (PD IAI) D.I. Yogyakarta mencapai puncaknya pada Minggu, 30 November 2025. Rombongan pesepeda yang membawa pesan WAAW (World AMR Awareness Week) ini tiba di Balai Kota Yogyakarta, lokasi pusat perayaan Hari Kesehatan Nasional (HKN) dan HUT IDI ke-75.
Di panggung utama, IAI mendapatkan kehormatan untuk menggelar mini talk show yang dipandu oleh Romo Sukir, dengan narasumber utama apt. Hendy Ristiono, M.P.H. (Ketua PD IAI DIY) dan Prof. Dr. apt. Ika Puspitasari, M.Si. (Dewan Pakar IAI DIY).
Dari Mukjizat Obat hingga Ancaman Kepunahan
Mengawali sesi, Romo Sukir memantik kesadaran publik dengan menekankan bahwa antibiotik (dan antimikroba secara luas) adalah mukjizat medis yang telah menyelamatkan jutaan nyawa.
“Sayangnya, kemanfaatan luar biasa ini kini terancam tumpul. Keampuhannya hilang perlahan akibat perilaku yang tidak benar dalam menggunakannya,” ujar Romo Sukir, menggugah para hadirin.

Antimikroba: Anugerah Tuhan yang Luar Biasa
Ketua PD IAI DIY, Apt. Hendy Ristiono, M.P.H., menjelaskan lebih dalam mengenai anugerah Tuhan yang berwujud antimikroba. Beliau memaparkan bahwa Antimikroba mencakup berbagai jenis obat yang melawan mikroorganisme spesifik:
- Antibiotik: Melawan Bakteri.
- Antivirus: Melawan Virus.
- Antijamur: Melawan Jamur.
“Obat-obatan ini pilar bagi operasi besar, transplantasi organ, dan kemoterapi. Tanpa obat yang manjur, prosedur ini menjadi sangat berisiko,” tegas Hendy Ristiono.
Peringatan Keras dari Akademisi: Kuman Kebal Bukan Sekadar Fiksi
Garis bahaya AMR diuraikan secara tajam oleh Prof. Dr. Apt. Ika Puspitasari, M.Si. Beliau menjelaskan bahwa Resistensi Antimikroba (AMR) adalah kondisi ketika kuman menjadi ‘kebal’ atau ‘super bug’ terhadap obat.
Prof. Ika menggarisbawahi dua perilaku pemicu utama yang harus dihindari masyarakat:
- Penggunaan Tidak Tepat (Misuse): Minum antibiotik untuk penyakit yang disebabkan virus (Flu, Pilek).
- Pengobatan Tidak Tuntas: Menghentikan dosis antibiotik sendiri, yang justru menyisakan kuman terkuat, mempercepat munculnya resistensi.
“Bahayanya, infeksi ringan bisa berubah fatal, perawatan makin mahal, dan AMR menyebabkan jutaan kematian secara global. Kita harus bertindak sekarang,” imbau Prof. Ika.
Apoteker Promosikan Pahlawan AMR Lewat Perilaku 3H
Menanggapi tantangan tersebut, Hendy Ristiono melanjutkan dengan menjelaskan peran yang dipromosikan PD IAI DIY agar masyarakat menjadi Pahlawan AMR:

IAI DIY mendorong masyarakat Yogyakarta mendukung Gerakan JAGAREKSA ANTIMIKROBA dengan berpegangan pada Perilaku 3H:
- Hanya dengan Resep Dokter.
- Harus Dihabiskan.
- Hindari Berbagi Antimikroba.
Dukungan Kolektif: Seluruh Tenaga Kesehatan Bersatu
Momentum krusial terjadi saat Romo Sukir mengajak semua pihak membubuhkan tanda tangan dalam “Community Deal” untuk mewujudkan Yogyakarta sebagai KOTA BIJAK ANTIMIKROBA.

Komitmen ini semakin kuat dengan hadirnya perwakilan dari berbagai stake holder (pemerintah kota Yogyakarta, Dinas Kesehatan DIY), organisasi profesi kesehatan dan perkumpulan dokter spesialis yang turut serta menandatangani deklarasi, di antaranya: IDI, IBI, PDGI, PPNI, PERSAGI, PTGI, PARI dan lainnya, serta perkumpulan dokter spesialis seperti IDAI, PERDOSSI, PDPI, PERDAMI, PERDOSKI, POGI.
Puncak dukungan terjadi ketika Walikota Yogyakarta, Dr. (HC) dr. Hasto Wardoyo Sp.OG(K), hadir secara langsung dan turut serta membubuhkan tanda tangannya di lembar komitmen. Dukungan Walikota yang berlatar belakang dokter spesialis ini memberikan legitimasi dan semangat yang luar biasa bagi seluruh tenaga kesehatan di Yogyakarta.

Aksi ini membuktikan bahwa semangat “Act Now: Protect Our Present, Secure Our Future” dari WAAW 2025 telah dijiwai dan diimplementasikan secara nyata di jantung keistimewaan Indonesia, dengan dukungan penuh dari pimpinan daerah dan seluruh pemangku kepentingan kesehatan.



















