Informasi
Hubungi Redaksi IAINews melalui email : humas@iai.id
Floating Left Ads
Floating Right Ads
banner 950x90

Stevia: Hanya Tren atau Gamechanger?

Tanaman Stevia Sumber: Encyclopædia Britannica (Url: https://www.britannica.com/plant/stevia-plant#/media/1/2051432/198219)
banner 120x600
banner 468x60

IAINews – Diabetes mellitus atau yang akrab dikenal sebagai “kencing manis” dahulu identik dengan penyakit pada kelompok lanjut usia. Namun, kondisi tersebut kini berubah. Gaya hidup sedentari (sedentary lifestyle) dan kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi kalori turut memicu peningkatan kasus obesitas yang berujung pada diabetes mellitus.

Data International Diabetes Federation menunjukkan bahwa pada 2024, lebih dari 20 juta penduduk Indonesia berusia 20–79 tahun terdiagnosis diabetes. Secara global, prevalensi diabetes tipe 2, yang berkaitan dengan resistansi insulin, obesitas, dan riwayat kesehatan keluarga, meningkat dari 2,8% pada 2000 menjadi 9,3% pada 2019. Angka tersebut diperkirakan mencapai 11,2% pada 2030. Kondisi ini menunjukkan bahwa upaya pengendalian diabetes semakin mendesak.

Iklan ×

Sayangnya, mengurangi asupan gula menjadi tantangan tersendiri di tengah masyarakat modern. Di satu sisi, aplikasi ojek online membuat makanan manis mudah diperoleh hanya dengan sentuhan jari. Di sisi lain, Indonesia memiliki budaya “nongkrong” yang kuat. Akibatnya, asupan gula harian dapat meningkat. Di tengah dilema tersebut, stevia mulai dikenal sebagai alternatif yang menarik bagi masyarakat yang ingin tetap menikmati aktivitas “nongkrong dan ngopi” dengan lebih memperhatikan kesehatan.

Baca Juga  Siapa yang Berpraktik di Apotek?

Stevia, yang memiliki nama ilmiah Stevia rebaudiana Bertoni, termasuk famili tumbuhan Asteraceae. Tanaman ini berasal dari Amerika Selatan dan telah lama digunakan secara tradisional sebagai pemanis alami di wilayah tersebut.

Jepang kemudian menjadi negara pertama di luar Amerika Selatan yang memopulerkan stevia sebagai alternatif gula pada era 1970-an. Tanaman ini masuk ke Indonesia pada 1977, dibawa oleh pengusaha asal Jepang untuk dibudidayakan di sejumlah wilayah. Kini, penanaman stevia dalam skala komersial telah dilakukan di Tawangmangu, Karanganyar, dan Ciwidey, Bandung.

Menariknya, daun stevia memiliki tingkat kemanisan yang sangat tinggi, bahkan 250–300 kali lebih manis dibandingkan gula pasir biasa. Rasa manis tersebut berasal dari kandungan glikosida steviol. Dua jenis glikosida steviol utama dalam daun stevia adalah steviosida dan rebaudiosida A.

Kandungan senyawa pemanis non-gula dengan tingkat kemanisan jauh lebih tinggi daripada gula pasir menjadikan stevia sebagai salah satu alternatif pemanis. Selain itu, stevia yang berasal dari tanaman juga menarik perhatian masyarakat yang mencari alternatif pemanis lain, termasuk pemanis sintetis seperti aspartam, sakarin, sukralosa, dan neotam.

Baca Juga  STIKSAM Gelar Yudisium dan Angkat Sumpah Tenaga Vokasi Kefarmasian untuk Sarjana dan Ahli Madya Farmasi

Sebuah studi kohort besar di Prancis yang melibatkan 102.865 peserta dan dipublikasikan dalam jurnal PLOS Medicine menunjukkan adanya hubungan antara konsumsi pemanis buatan, seperti aspartam dan asesulfam-K, dengan peningkatan risiko kanker. Studi lain pada 2019 oleh Liauchonak dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa penggunaan pemanis buatan berkaitan dengan peningkatan risiko sindrom metabolik.

Temuan tersebut menjadi salah satu alasan meningkatnya perhatian terhadap stevia sebagai alternatif pemanis. Pada 2008, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) memberikan status GRAS (Generally Recognized as Safe) kepada jenis ekstrak stevia tertentu. Status ini menunjukkan bahwa bahan tersebut dinilai aman berdasarkan ketentuan dan penggunaan yang relevan.

Stevia juga dikenal sebagai pemanis dengan kontribusi kalori yang sangat rendah. Glikosida steviol tidak diserap secara utuh di saluran pencernaan bagian atas, tetapi mengalami pemrosesan lebih lanjut oleh mikroorganisme di usus besar. Berbagai penelitian juga mengeksplorasi potensi manfaat stevia, termasuk aktivitas antioksidan dan antiinflamasi serta kemungkinan pengaruhnya terhadap kadar gula darah, kolesterol, dan fungsi hati maupun ginjal.

Otoritas Keamanan Pangan Eropa (EFSA) menetapkan batas asupan harian yang dapat diterima atau Acceptable Daily Intake (ADI) untuk glikosida steviol sebesar 4 mg per kilogram berat badan per hari.

Baca Juga  Sudahkah Hari Ini Apoteker Membaca?

Di Indonesia, BPOM RI telah mengatur glikosida steviol sebagai bahan tambahan pangan (BTP) pemanis sesuai ketentuan yang berlaku. Tidak mengherankan jika hingga 2026, berbagai produk pemanis stevia, baik berbentuk bubuk maupun cair, semakin banyak dijumpai di pasar Indonesia. Sejumlah kedai kopi juga mulai menawarkan pilihan mengganti gula biasa dengan stevia.

Tren tersebut membawa harapan baru bagi masyarakat yang ingin mengurangi konsumsi gula. Di tengah meningkatnya perhatian terhadap obesitas dan diabetes, stevia dapat menjadi salah satu pilihan untuk membantu mengurangi asupan gula, selama digunakan secara tepat.

Namun, stevia bukan solusi tunggal untuk mencegah atau mengatasi diabetes. Pengendalian konsumsi gula, pola makan seimbang, aktivitas fisik yang cukup, serta penerapan gaya hidup sehat tetap menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan.

Jadi, apakah stevia hanya tren atau benar-benar gamechanger? Stevia berpotensi menjadi alternatif pemanis yang bermanfaat, tetapi efektivitasnya dalam mendukung kesehatan tetap bergantung pada cara penggunaan dan pola hidup secara keseluruhan.

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

banner 950x90