APA yang kamu makan hari ini mungkin tak langsung terasa dampaknya. Tapi sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa pola makan harian kita bisa memengaruhi risiko munculnya gejala depresi di masa depan.
Laporan studi oleh tim riset di Tiongkok ini baru saja diterbitkan di jurnal BMC Medicine pada pertengahan tahun 2025.
Tim peneliti yang diwakili oleh Chen Hao melakukan penelitian longitudinal dari tahun 2021 sampai 2023 terhadap 6.447 mahasiswa dari tingkat sarjana hingga doktoral di universitas di Shanghai.
Tim peneliti kemudian memantau pola makan mereka selama 2 tahun melalui aplikasi Intelligent’s Ordering System yang merekam pilihan menu mahasiswa yang makan di kantin kampus.
Selain memantau pola makan, kondisi psikis mahasiswa juga diperiksa kondisi mentalnya secara berkala.
Hasil penelitian ini menunjukkan temuan yang menarik. Ternyata mahasiswa yang mengkonsumsi makanan rendah karbohidrat dan protein memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap gejala depresi.
Makanan yang kaya karbohidrat dapat memicu respons stres pada aksis hipotalamus-hipofisis-adrenal (HPA) yang lebih rendah sehingga menunjukkan efek perlindungan konsumsi karbohidrat terhadap stres dan depresi.
Efek perlindungan terhadap gejala depresi oleh asupan protein disebabkan peran protein makanan dalam sintesis senyawa neurotransmiter, terutama melalui asam amino seperti triptofan dan tirosin.
Lebih lanjut, protein dan serat makanan mengaktifkan glukoneogenesis, yang memengaruhi prekursor hormon dan reseptor glukokortikoid, serta berdampak positif pada kecemasan dan depresi.
Sementara itu, konsumsi makanan berlemak menunjukkan hasil yang sedikit bervariasi.
Bila makanan berlemak dimakan dalam jumlah yang lebih tinggi daripada rekomendasi harian, ternyata menunjukkan efek proteksi terhadap gejala depresi.
Pola makan tinggi lemak dapat melindungi seseorang dari gejala depresi melalui jalur inflamasi dan penurunan kadar faktor neurotropik turunan dari otak.
Dari aplikasi yang sama, peneliti juga mengetahui menu apa yang dimasak dan kandungan nutrisinya, sehingga peneliti dapat memperkirakan kandungan mikronutrien dalam makanan yang dipilih.
Berdasarkan data tersebut, peneliti mengungkapkan di dalam artikel bahwa kekurangan mikronutrien seperti Zinc dan Vitamin B3 dapat meningkatkan kerentanan terhadap gejala depresi.
Defisiensi zinc dapat menyebabkan penurunan kadar zinc pada ujung syaraf yang selanjutnya berperan dalam depresi dan neurotoksisitas akibat stres.
Masih dari penelitian yang sama, kandungan natrium tinggi, seperti pada makanan tinggi garam, juga dapat memberi perlindungan terhadap kemunculan gejala depresi.
Penelitian ini mengkonfirmasi penelitian lain pada tikus yang menunjukkan bahwa konsumsi garam yang tinggi bisa memicu respons koping yang lebih aktif saat menghadapi stres berbasis rasa takut.
Mekanisme ini tampaknya meningkatkan ketahanan terhadap stres, yang pada gilirannya berpotensi memengaruhi gejala depresi.
Menariknya, studi sebelumnya pada populasi dewasa di Tiongkok menemukan pola hubungan berbentuk U antara asupan garam dan gejala depresi.
Artinya, baik konsumsi garam yang terlalu tinggi maupun terlalu rendah sama-sama dikaitkan dengan peningkatan risiko munculnya gejala depresi.
Temuan lain dalam penelitian ini menunjukkan konsumsi rendah sayuran putih juga berhubungan dengan kerentanan terhadap gejala depresi.
Sementara konsumsi sayuran hijau tidak menunjukkan hubungan yang sama.
Pada akhir artikel, tim peneliti menyatakan pentingnya hidup seimbang. Mereka mengakui bahwa meskipun penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan antara komposisi makanan seperti karbohidrat, protein, dan lemak dengan perlindungan terhadap gejala depresi, namun tidak semua konsumsi dalam kadar yang tinggi bermanfaat untuk tubuh.
Apalagi karbohidrat dan lemak yang menjadi pemicu penyakit metabolik seperti diabetes melitus atau kolesterol tinggi.
Oleh karena itu, tim peneliti juga menekankan bahwa temuan ini dapat digunakan menjadi dasar kolaborasi bagi ahli gizi dan psikiater untuk menentukan pola diet terbaik bagi pasien dengan masalah kejiwaan seperti depresi.
Hal ini penting, terutama bagi pasien-pasien yang mendapatkan obat jiwa tertentu yang meningkatkan risiko munculnya penyakit metabolik.
Dengan diskusi mendalam antara ahli gizi, psikiater, dan pasien, diharapkan pengobatan dan pengaturan pola hidup dapat berjalan optimal, sehingga pasien dapat mendapatkan manfaat terbaik dari keduanya.
Sumber: Hao, C., Yi, Z., Jie, Q., Weiqiang, Z., Jingyun, D., et.al. 2025. Association between daily dietary intake trajectory and depressive symptom onset and transition among young adults: a longitudinal study. BMC Medicine. 23: 553



















