JAMBI, IAINews — Tim dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Jambi menghadirkan penyuluhan bertema “Diversifikasi Produk Herbal Berbasis Kearifan Lokal sebagai Upaya Pencegahan Stunting”.
Kegiatan yang berlangsung di Posyandu Cempaka 3, RT 02 Desa Olak Kemang, pada Selasa, 12 Agustus 2025 ini memadukan edukasi gizi dengan inspirasi kuliner sehat berbahan dasar daun kelor.

Pengabdian kepada masyarakat ini diketuai oleh Fathnur Sani K., S.Farm., M.Farm., Apt. Kegiatan tersebut turut melibatkan tim dosen yang terdiri dari Dr. Indri Maharini, S.Far., M.Sc., Apt., Apt. Maimum, M.Sc., Dr. Fitrianingsih, S.Farm., Apt., Apt. Vina Neldi, S.Farm., M.Farm.Klin., Apt. Novia Tri Astuti, S.Farm., M.Pharm.Sci., dan Apt. Santi Perawati, S.Farm., M.Farm.
Ketua pengabdian menegaskan bahwa keluarga memiliki peran besar dalam pencegahan stunting. “Pangan lokal yang kaya gizi adalah solusi yang mudah, murah, dan bisa kita tanam sendiri di pekarangan. Kalau dimulai dari rumah, dampaknya akan terasa sampai ke masa depan anak-anak kita,” ujar Fathnur Sani dalam sambutannya.
Berkat dukungan dana PNBP Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Jambi, kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik. Tim pengabdian pun menyampaikan apresiasi mendalam, karena dukungan tersebut menjadi jembatan hadirnya inovasi bermanfaat yang langsung dirasakan masyarakat.
Materi pertama disampaikan oleh Silvia Mawarti Perdana, S.Gz., M.Si., yang memaparkan bahwa stunting adalah kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Ia menekankan bahwa masalah ini bukan sekadar soal tinggi badan.
“Stunting bisa memengaruhi kecerdasan, metabolisme, bahkan peluang anak untuk hidup produktif saat dewasa,” jelasnya.
Silvia juga mengingatkan adanya faktor risiko yang sering terabaikan, seperti menikah terlalu muda, jarak kelahiran yang terlalu dekat, jumlah anak yang banyak, serta kurangnya sanitasi dan air bersih.
“Intervensi pencegahan harus dimulai sedini mungkin, bahkan sebelum kehamilan. Kita harus memastikan generasi mendatang tumbuh optimal sejak dari rahim,” tambahnya.

Sesi kedua diisi oleh apt. Santi Perawati, M.Farm., yang membahas beragam tumbuhan bergizi tinggi yang mudah dijumpai di sekitar rumah. Ia menyebut daun kelor, jagung, labu kuning, tempe, kacang hijau, ubi jalar ungu, bayam, dan daun singkong sebagai contoh pangan lokal yang kaya vitamin, mineral, dan serat.
“Kalau kita kreatif, bahan-bahan ini bisa menjadi menu lezat yang disukai anak-anak,” katanya.
Apt. Santi memberikan tips praktis untuk menjaga kandungan gizi saat mengolah bahan pangan nabati, seperti tidak memasak terlalu lama, membuat variasi menu, dan mengombinasikannya dengan protein hewani seperti telur atau ikan.
Ia mencontohkan olahan daun kelor menjadi puding kelor dan Choco Mori (cokelat kelor). “Kelor itu superfood kita. Kalau diolah jadi puding atau cokelat, anak-anak tidak akan sadar sedang makan makanan super sehat,” ujarnya sambil tersenyum.
Sebagai bentuk apresiasi dan contoh nyata, tim pengabdian menyiapkan puding kelor dan Choco Mori yang telah dibuat sebelumnya untuk dibagikan kepada seluruh peserta. Bingkisan ini diharapkan dapat memotivasi warga mencoba resep tersebut di rumah, sehingga edukasi yang diperoleh dapat langsung dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui kegiatan ini, warga Desa Olak Kemang diharapkan semakin percaya diri mengolah bahan pangan lokal menjadi hidangan sehat dan menarik. Edukasi yang disampaikan tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga mendorong kebiasaan baru yang lebih sehat.
Langkah sederhana di Posyandu Cempaka 3 ini diyakini menjadi pijakan penting menuju generasi yang tumbuh sehat, cerdas, dan bebas stunting.***



















