SAMARINDA, IAI News — Program Studi Diploma III Farmasi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Samarinda menggelar kuliah praktisi bertajuk “Produksi Bahan Alam di Industri Farmasi” pada Sabtu (16/5/2025). Kegiatan ini dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting mulai pukul 09.00 hingga 12.00 WITA.
Kegiatan diawali dengan sambutan Ketua Panitia yang juga Ketua Program Studi DIII Farmasi STIKES Samarinda, Siti Jubaidah. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi serta rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan yang dinilai penting dalam mendukung pembelajaran mahasiswa.
“Kami ingin mahasiswa tidak hanya memahami teori di kelas, tetapi juga melihat secara nyata bagaimana proses produksi bahan alam di industri farmasi. Kuliah praktisi ini menjadi jembatan antara dunia akademik dan dunia kerja. Saya berharap mahasiswa dapat memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya untuk bertanya, berdiskusi, dan menggali wawasan dari narasumber yang berpengalaman,” ujar Siti Jubaidah.
Acara kemudian secara resmi dibuka oleh Ketua STIKES Samarinda, Supomo. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya penguatan kompetensi mahasiswa di bidang bahan alam, mengingat Indonesia memiliki kekayaan hayati yang sangat besar.
“Indonesia merupakan negara megabiodiversity dengan ribuan jenis tumbuhan berkhasiat obat. STIKES Samarinda berkomitmen untuk terus mendukung pembelajaran yang berbasis kearifan lokal dan kebutuhan industri. Kuliah praktisi ini merupakan salah satu wujud nyata dari komitmen tersebut,” tutur Supomo.

Memasuki sesi inti, peserta mendapatkan materi dari narasumber Agus Santosa, owner sekaligus apoteker penanggung jawab CV. Herbal Indo Utama (HIU) Group. Agus Santosa juga aktif di berbagai organisasi profesi, di antaranya Himpunan Apoteker Seminat Obat Tradisional (HIMASTRA) PP IAI, GP Jamu, Perkosmi, serta GAPMMI.
Dalam paparannya, Agus Santosa menyoroti besarnya potensi kekayaan hayati Indonesia sebagai sumber bahan baku industri farmasi. Indonesia diketahui memiliki lebih dari 30.000 jenis tumbuhan, dengan sekitar 9.600 spesies memiliki manfaat dan 300 jenis digunakan sebagai bahan baku obat maupun obat tradisional. Dari sektor kelautan, Indonesia juga memiliki sekitar 8.500 spesies ikan, 950 spesies biota terumbu karang, serta 555 spesies rumput laut.
Ia menjelaskan bahwa berbagai bagian tumbuhan dapat dimanfaatkan sebagai bahan obat alam, mulai dari bunga seperti cengkeh, daun seperti katuk, buah seperti mengkudu, kulit buah manggis, biji pala, batang brotowali, kulit batang kayu manis, herba pegagan, rimpang jahe, hingga umbi bawang.
“Selain tumbuhan, bahan alam juga dapat berasal dari mineral seperti belerang dan seng, serta hewan seperti ikan, teripang, sarang walet, dan cacing tanah,” ujar Agus Santosa.
Lebih lanjut, narasumber memaparkan sejumlah karakteristik bahan baku alam. Meski relatif mudah diperoleh di dalam negeri, bahan alam memiliki tantangan tersendiri, seperti sulit distandardisasi dan rentan terhadap cemaran. Namun, bahan alam juga memiliki keunggulan karena relatif lebih aman, memiliki efek terapi yang beragam, serta bekerja secara konstruktif menuju sumber penyakit, meskipun dukungan data ilmiah dan uji klinis pada beberapa produk masih terbatas.
Materi kuliah juga mencakup tahapan pengembangan produk bahan alam, mulai dari ide awal, konsep produk, studi kelayakan, formulasi, skala pilot, pengujian, registrasi, komersialisasi, hingga evaluasi produk. Peserta turut dibekali pemahaman mengenai proses ekstraksi, yaitu pemisahan senyawa aktif dari simplisia nabati maupun hewani.

Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan pemahaman mahasiswa mengenai peran tenaga farmasi dalam proses produksi bahan alam di industri farmasi, mulai dari hulu hingga hilir.
“Proses ekstraksi merupakan tahap penting dalam bidang farmasi untuk memperoleh senyawa aktif dari bahan alam. Oleh karena itu, tenaga farmasi diharapkan mampu memahami prinsip, metode, serta faktor-faktor yang memengaruhi proses ekstraksi agar dapat menerapkannya secara tepat,” demikian salah satu pesan utama dalam kuliah praktisi tersebut.
Kegiatan ditutup dengan sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif antara peserta dan narasumber, menandai antusiasme tinggi mahasiswa dalam memperdalam wawasan mengenai pengembangan bahan alam di industri farmasi.













