Apoteker berdiri sebagai perisai terakhir dalam ekosistem kesehatan di Indonesia. Sosok-sosok profesional ini memikul beban tanggung jawab yang sangat besar di tengah sistem yang belum ideal. Mereka sering kali terjepit di antara idealisme profesi dan realita ketidakadilan lapangan yang nyata. Fenomena antibiotik yang dijual bebas di toko kelontong menjadi pemandangan pahit yang harus mereka saksikan setiap hari. Sebagian tenaga kesehatan lain bahkan melakukan praktik dispensing ilegal seolah hal tersebut merupakan sebuah kelumrahan. Tekanan ekonomi dan kebijakan yang terasa memojokkan apotek menciptakan keresahan mendalam bagi para pejuang kemanusiaan ini.
Aksi pelayanan antibiotik tanpa resep sering kali muncul sebagai respon atas karut-marutnya sistem kesehatan.
Banyak apoteker merasa memiliki kompetensi klinis yang cukup untuk menjustifikasi kebutuhan obat pasien secara mandiri. Mereka melihat fakta lapangan di mana akses terhadap dokter sering kali sulit bagi masyarakat lapisan bawah. Perilaku ini merupakan upaya spontan untuk mengisi kekosongan peran diagnosa demi membantu pasien yang sedang menderita. Para apoteker merasa tidak adil jika seluruh beban moral resistensi hanya diletakkan di pundak apotek sementara perilaku nakes lain belum tertata dengan baik.
Allah SWT menitipkan ilmu farmasi kepada para apoteker bukan tanpa alasan yang mulia.
Kaidah ushul fiqh menempatkan Hifdzun Nafs atau menjaga jiwa sebagai salah satu tujuan utama dari syariat Islam. Menjaga efektivitas antibiotik merupakan bagian langsung dari ibadah untuk melindungi keberlangsungan hidup manusia. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang dari kalian melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan itqan atau profesional dan sempurna” (HR. Al-Baihaqi). Pengabdian di balik etalase harus senantiasa berpijak pada nilai-nilai ketuhanan dan kejujuran ilmiah yang tinggi.
Penyerahan antibiotik atas dasar perasaan mampu mendiagnosa tanpa landasan klinis yang tepat berpotensi mengaburkan batas amanah.
Tindakan sekadar memenuhi keinginan pasien dapat mengancam keselamatan jangka panjang bagi kesehatan masyarakat luas. Kita tentu tidak ingin menjadi bagian dari golongan yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai orang yang berbuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya (QS. Al-A’raf: 56). Keteguhan hati apoteker untuk tetap mengikuti prosedur medis adalah bentuk ketaqwaan nyata dalam dunia profesi. Amanah profesional ini menuntut tanggung jawab besar untuk tidak mewariskan kehancuran bagi generasi mendatang.
Resistensi antibiotik kini tumbuh menjadi ancaman global yang sangat mengerikan bagi kelangsungan hidup manusia.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan kematian langsung sebanyak 1,27 juta jiwa akibat bakteri kebal pada tahun 2019. Angka kematian ini diprediksi akan terus melonjak tajam jika pola penggunaan obat tidak segera dibenahi secara total. Kerugian ekonomi global akibat hilangnya kekuatan penyembuh dari antibiotik diperkirakan mencapai 100 triliun dolar pada tahun 2050. Pemerintah mulai memperketat aturan melalui ancaman sanksi bagi apotek demi mengerem laju kerusakan yang semakin parah di masyarakat.
Ibadah yang paling mulia adalah ibadah yang tidak menyisakan rasa merasa paling berjasa.
Gus baha menjelaskan dalam salah satu kajiannya bahwa kebenaran sejati harus tetap berjalan di atas rel prosedur yang menjamin keselamatan manusia dalam jangka panjang. Integritas seorang profesional harus tetap tegak berdiri meskipun praktik salah di sekitarnya masih merajalela. Jalaluddin Rumi mengingatkan bahwa cahaya sejati tidak membutuhkan lampu lain untuk tetap menyala terang di tengah kegelapan. Apoteker yang jujur adalah lampu yang menyinari jalan keselamatan bagi pasien meskipun mereka bekerja dalam kesunyian dan tekanan yang sangat hebat.
Generasi masa depan berhak mewarisi obat-obatan yang masih memiliki khasiat penyembuh yang ampuh.
Masyarakat akan mencatat sejarah dhalim jika kita, termasuk para apoteker mewariskan bakteri super yang tidak mempan lagi diobati kepada anak cucu kelak. Kesabaran apoteker dalam memberikan edukasi kepada pasien merupakan bentuk zakat ilmu yang nilainya sangat berharga di sisi Allah. Penolakan terhadap pemberian antibiotik yang tidak rasional adalah investasi keselamatan peradaban yang tak ternilai harganya. Cahaya kejujuran dan keteguhan ini akan membawa keberkahan hidup serta menjadi saksi kebaikan di hadapan Sang Pemilik Nyawa pada hari akhir nanti.













