Site icon IAI NEWS

Inovasi Lilin Aromaterapi Sereh dan Kayu Putih, Upaya Pencegahan Malaria dan Pemberdayaan Ekonomi Kader di Jayapura

Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang didanai melalui platform BIMA (Basis Informasi Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat) oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek)

Jayapura, IAINews – Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Cenderawasih menghadirkan inovasi berbasis bahan alami untuk mendukung upaya pencegahan malaria di Kampung Yahim, Kabupaten Jayapura. Melalui pemanfaatan minyak sereh dan kayu putih, warga dibekali keterampilan membuat lilin aromaterapi pengusir nyamuk yang berpotensi menjadi peluang usaha baru.

Program bertajuk “Inovasi Pembuatan Lilin Aromaterapi sebagai Solusi Pengusir Nyamuk Malaria dan Meningkatkan Peluang Usaha pada Kader Malaria di Kampung Yahim Jayapura” ini berhasil memperoleh hibah Program PkM BIMA Tahun Anggaran 2026 dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia.

Ketua Tim PkM, apt. Juniarto Mende, S.Farm., M.Clin.Pharm., menjelaskan bahwa program ini diinisiasi untuk merespons ketergantungan warga terhadap obat nyamuk berbahan kimia yang dinilai berisiko menimbulkan polusi udara dalam ruangan serta gangguan pernapasan jangka panjang.

“Kami menghadirkan solusi berbahan dasar lokal seperti minyak sereh dan kayu putih yang diolah menjadi lilin aromaterapi. Produk ini tidak hanya memberikan perlindungan efektif dan nyaman dari gigitan nyamuk tanpa rasa panas, tetapi juga aman bagi pernapasan warga,” ujar apt. Juniarto.

Kegiatan yang merupakan perwujudan Tri Dharma Perguruan Tinggi ini dilaksanakan melalui lima tahapan berkelanjutan, mulai dari sosialisasi, pelatihan teknis, dan penerapan teknologi hingga pendampingan serta evaluasi.

Selain apt. Juniarto Mende, tim dosen terdiri atas Sri Nur Damayana, M.H.Kes., dan Rizka Cintya Edwar, S.E., M.M. Program ini juga melibatkan dua mahasiswa Program Studi Farmasi, yaitu Olivia Sarid Taudufu dan Punda Cahya Khirani Anorraga.

Untuk mendukung keberlanjutan program dan kemandirian ekonomi, para kader malaria juga mendapatkan pelatihan manajemen bisnis sederhana serta strategi pemasaran melalui media sosial. Upaya ini diharapkan dapat membantu mendukung arus kas (cash flow) operasional kegiatan pencegahan malaria di kampung tersebut.

Inovasi ini disambut antusias oleh masyarakat setempat. Nowela, salah satu Mama Kader, mengungkapkan kegembiraannya atas pengetahuan baru yang diperoleh melalui pelatihan tersebut.

“Mama kader baru tahu kalau sereh ada minyaknya yang bisa digunakan untuk mengusir nyamuk. Selama ini mama kader hanya tahu sereh dipakai untuk bumbu masakan,” ungkapnya.

Dukungan juga disampaikan oleh Denny Monim, Kepala Kampung Yahim, yang mengapresiasi kemitraan antara masyarakat dan Universitas Cenderawasih.

“Kegiatan ini sangat bermanfaat dan kami bersyukur menerima pelatihan ini. Kami berharap tim pendamping terus mendampingi warga hingga tahap pemasaran,” tuturnya.

Melalui sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah kampung, program ini diharapkan dapat mendorong masyarakat memanfaatkan produk pelindung diri berbahan alami sekaligus membuka peluang usaha baru berbasis potensi lokal.

Exit mobile version