PAYAKUMBUH, IAINews – Masalah penggunaan obat berlebihan (polifarmasi) dan munculnya masalah terkait obat (Drug Related Problems atau DRPs) pada pasien lansia menjadi fokus utama dalam penanganan penyakit kronis.
Untuk menjawab tantangan ini, Tim Pengabdian kepada Masyarakat dari Fakultas Farmasi Universitas Andalas (Unand) menggelar edukasi intensif bagi peserta Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) yang berada dibawah binaan Puskesmas Tiakar, Kota Payakumbuh.
Kegiatan yang bertajuk “Edukasi Adverse Drug Reaction (ADR) / Drug Related Problems (DRPs) pada Pasien Prolanis di Puskesmas Tiakar” ini dilaksanakan pada Jumat, 21 November 2025, di Puskesmas Tiakar, Kota Payakumbuh.
Tim pelaksana dipimpin oleh Prof. apt. Henny Lucida, PhD, bersama dua anggota tim dari mahasiswa Program Doktor Farmasi, yaitu apt. Fitri Handayani, M.Si, dan apt. Wira Wahyudi Nandayasa, M.Farm.
Acara yang diawali dengan senam sehat ini dihadiri oleh 29 peserta komunitas Prolanis dan bertujuan meningkatkan literasi kesehatan serta kualitas hidup lansia.
Kegiatan ini disambut hangat oleh pihak Puskesmas Tiakar. Kepala Puskesmas Tiakar, Irvan Firdaus, SKM, menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh terhadap inisiatif Fakultas Farmasi Unand ini.
“Kami sangat menyambut baik kegiatan pengabdian masyarakat ini. Kami berharap, dengan adanya edukasi langsung dari para apoteker, anggota Komunitas Prolanis kami dapat memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai obat yang mereka konsumsi sehari-hari,’’ ujar Irvan Firdaus.
‘’Tujuan utamanya adalah meningkatkan kepatuhan, meminimalkan efek samping yang tidak diinginkan, dan memastikan pasien dapat mencapai kualitas hidup yang lebih optimal,” jelas Irvan Firdaus, SKM.
Dukungan ini memperkuat sinergi antara akademisi, organisasi profesi (IAI), dan fasilitas kesehatan primer.
Tujuan utama pengabdian ini didasari oleh dua isu penting: tantangan klinis polifarmasi pada pasien Prolanis, dan perlunya membumikan profesi apoteker yang masih kurang dikenal oleh masyarakat luas sebagai bagian integral dari tim kesehatan.
Prof. apt. Henny Lucida, PhD, menjelaskan bahwa edukasi kefarmasian sangatlah penting bukan hanya untuk mengoptimalkan terapi obat, tetapi juga untuk membentuk pola pikir yang positif.
“Kami hadir untuk meluruskan persepsi pasien terkait penyakit dan obat. Edukasi ini juga bertujuan agar para lansia dapat hidup bersahabat dengan penyakit yang dideritanya,’’ ungkap Prof. Henny Lucida.
‘’Selain itu, kegiatan ini merupakan sarana bagi kami untuk mengenalkan dan membumikan peran profesi apoteker yang memiliki kompetensi dalam mengelola obat. Apoteker adalah sumber informasi yang berimbang dan terpercaya bagi masyarakat, terutama dalam hal deteksi ADR dan DRPs,” jelas Prof. Henny.
Tim Fakultas Farmasi Unand menekankan bahwa pemakaian obat yang sembarangan, meskipun tujuannya menyelamatkan jiwa, justru dapat meningkatkan angka kesakitan dan kematian. Oleh karena itu, edukasi berfokus pada:
- Pentingnya deteksi dini masalah terkait obat (ADR dan DRPs)
- Terapi non-farmakologi yang dapat meringankan keluhan, seperti menerapkan pola hidup sehat
- Panduan tentang cara berteman dengan penyakit kronis hingga akhir hayat untuk mencegah penurunan kualitas hidup
Kegiatan berlangsung sukses, meriah, dan interaktif, menunjukkan antusiasme tinggi dari peserta. Acara diawali dengan Senam Sehat Bersama komunitas Prolanis, yang dilanjutkan dengan santap Sarapan Bersama dalam suasana penuh keakraban.
Inti dari kegiatan ini adalah sesi presentasi dan diskusi yang fokus pada pembekalan ilmu praktis bagi lansia.
Materi yang disampaikan mencakup cara menjaga kolesterol tetap normal, strategi bertoleransi dengan hipertensi melalui kepatuhan minum obat, dan panduan memilih obat herbal yang aman.
Di sela-sela sesi diskusi, peserta secara aktif terlibat dalam pengisian kuesioner berjudul “Identifikasi ADR dan DRPs pada Komunitas PROLANIS di Puskesmas Tiakar, Payakumbuh.”
Pengisian kuesioner ini merupakan langkah krusial yang dilakukan apoteker untuk mendapatkan data tentang masalah terkait obat yang dialami pasien secara langsung, sehingga edukasi yang diberikan benar-benar relevan dan tepat sasaran.
Prof. Henny juga mengingatkan peserta untuk selalu mendapatkan obat dari fasilitas kesehatan yang legal dan mendapatkan informasi obat yang berimbang dari apoteker.
Menutup kegiatan, Prof. Henny Lucida menyampaikan harapan besar agar kegiatan komunitas Prolanis di bawah binaan Puskesmas Tiakar lebih diintensifkan untuk mendorong pasien Prolanis rutin memeriksakan Kesehatan pada fasilitas pelayanan primer.
Masyarakat perlu mengenal peran profesi Apoteker lebih baik lagi melalui pendampingan komunitas Prolanis dalam berdiskusi terkait obat dan efek samping yang dikeluhkan.
“Melalui kegiatan senam sehat dan pemeriksaan kesehatan rutin komunitas Prolanis dibawah binaan Puskesmas Tiakar, kita berharap pasien dapat memiliki persepsi yang baik terkait obat, penyakit, dan penurunan fungsi organ tubuh,’’ ucap Prof. Henny Lucida.
‘’Yang terpenting, peran Apoteker harus terus ditingkatkan agar masyarakat mampu hidup bersahabat dengan penyakit mereka dan memaksimalkan manfaat terapi. Ini adalah langkah nyata memajukan profesi Apoteker ditengah masyarakat,” tutup Prof. Henny.***



















