Site icon IAI NEWS

In Memoriam: Saleh Rustandi, “Boys Scout Pharmacist” yang Mewariskan Disiplin pada Selembar Seragam

Saleh Rustandi dengan seragam Pramuka kebanggaannya

SEBUAH nama terukir abadi di lembar cerita farmasi Indonesia: Saleh Rustandi. Kepergian beliau meninggalkan kekosongan, namun juga mewariskan sebuah filosofi kepemimpinan yang tak lekang dimakan zaman.

Beliau adalah potret langka seorang organisatoris di Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) yang juga pernah duduk sebagai Direktur Utama Kimia Farma Apotek yang membawa ruh Boys Scout (Kepanduan atau Pramuka) ke dalam korporasi, menjadikannya formula rahasia di balik kesuksesan dan ketulusan pelayanan.

Saleh Rustandi bukan hanya pemimpin, beliau adalah Pandu Apotek yang mengajarkan bahwa etika terbaik termuat dalam sepuluh janji suci Dasa Darma.

Kode Etik yang Membentuk Karakter

Saleh Rustandi, memandang bahwa kode etik apoteker memiliki akar yang kuat dalam gerakan Pramuka.

Dasa Darma adalah kompas moralnya, yang mewajibkan setiap pramuka untuk: (1) Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, (2) Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia, (3) Patriot yang sopan dan kesatria, (4) Patuh dan suka bermusyawarah, (5) Rela menolong dan tabah, (6) Rajin, terampil, dan gembira, (7) Hemat, cermat, dan bersahaja, (8) Disiplin, berani, dan setia, (9) Bertanggung jawab dan dapat dipercaya, dan (10) Suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan. Sepuluh nilai inilah yang beliau percaya dapat membentuk karakter Apoteker yang tidak hanya cerdas ilmu, tetapi juga luhur budi.

Warisan Pembangunan: Karakter di Balik Etalase

Kepemimpinan Saleh Rustandi membuktikan bahwa karakter adalah aset korporat termahal. Pada periodenya menurut laporan detikfinance.com, Kimia Farma Apotek (KFA) tidak hanya bertumbuh, tetapi melambung—sebuah cerminan dari prinsip efisiensi dan tanggung jawab ala Pramuka.

Angka-angka berbicara lantang: pada tahun 2010, KFA mencatat pendapatan Rp 1,54 triliun, meningkat 12,18% dari periode sebelumnya, dan mengontribusi hampir setengah (48,67%) dari total pendapatan induk perusahaan.

Angka ini adalah hasil nyata dari kecermatan (Dasa Darma ke-7) dan disiplin (Dasa Darma ke-8) yang beliau tanamkan.

Beliau memimpin pasar ritel farmasi dan sukses mentransformasi layanan dengan konsep franchise, menjangkau 390 cabang di seluruh Indonesia—bukti nyata kepemimpinan yang berani dan visioner.

Filosofi Sang Pandu: Dasa Darma sebagai Seragam Harian

Momen paling ikonik dalam kepemimpinan Saleh Rustandi adalah keberaniannya mengambil kebijakan yang tak biasa.

Beliau, yang juga aktif mengawal kontingen Pramuka Indonesia ke kancah internasional, menetapkan kebijakan: karyawan sesekali mengenakan seragam Pramuka saat bertugas.

Seragam itu adalah pengingat harian, bahwa di balik etalase obat yang steril, harus ada ketulusan dan kesiapan melayani.

Seragam itu mendikte: Kedisiplinan dalam mengikuti prosedur (Dasa Darma ke-8), Tanggung Jawab bahwa setiap obat adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan (Dasa Darma ke-9), dan Kesucian hati yang memagari dari godaan konflik kepentingan (Dasa Darma ke-10).

Bagi beliau, seragam Pramuka di Apotek adalah pernyataan: Pelayanan Kesehatan adalah Pengabdian, bukan Sekadar Transaksi.

Selalu tersenyum dan bugar dalam setiap perjalanan

Warisan Altruistik: Pengabdian di Puncak Organisasi

Semangat Rela menolong dan tabah (Dasa Darma ke-5) Bapak Saleh Rustandi paling bersinar dalam kontribusinya di Ikatan Apoteker Indonesia (IAI).

Beliau menjabat sebagai Wakil Ketua Umum PP IAI periode 2018-2022, membawahi bidang-bidang krusial, termasuk Hubungan Masyarakat, Pengabdian Masyarakat, Tanggap Bencana, dan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Peran ini menunjukkan tanggung jawabnya untuk memastikan Apoteker hadir dalam isu-isu penting publik, mulai dari membantu korban bencana hingga memastikan kualitas layanan JKN.

Dukungan beliau tak berhenti pada gagasan. Untuk menjamin roda pengabdian masyarakat IAI tetap berputar, beliau menunjukkan kemurahan hati yang mendalam: yang tak segan mengeluarkan dana pribadi untuk mendukung tugasnya di organisasi.

Ini adalah perwujudan tanggung jawab Apoteker (Dasa Darma ke-9) yang melampaui tugas klinis.

Beliau adalah mentor sejati, selalu getol mendukung, berbagi ilmu, dan membuka jalan bagi Apoteker Muda untuk maju.

Kisah hidup Bapak Saleh Rustandi adalah warisan yang jauh melampaui neraca keuangan korporasi.

Ia adalah peta jalan bagi Apoteker masa depan: bahwa profesi ini menuntut integritas, karakter yang ditempa oleh Dasa Darma, dan kesediaan untuk memberi tanpa batas.

Selamat jalan sosok panutan

Semoga almarhum Bapak H. Saleh Rustandi mendapat tempat terbaik di sisi-Nya. Dan semoga semangat Pandu Apotek yang beliau tinggalkan, terus membentuk Apoteker-Apoteker Indonesia menjadi pribadi-pribadi tangguh, cermat, dan berhati suci.

Exit mobile version