IMUNODEFISIENSI atau Imunokompromais adalah satu kondisi melemahnya sistem imun yang ditandai dengan defek kuantitatif maupun kualitatif pada sistem imun seluler, humoral, atau gabungan keduanya.

Imunodefisiensi sendiri dibagi dua macam. Imunodefisiensi primer dan Imunodefisiensi sekunder. Imunodefisiensi primer bersifat genetik, seperti X-linked agammaglobulinemia dan chronic granulomatous disease.
Adapun Imunodefisiensi sekunder akibat suatu penyakit atau tata laksana terkait manajemen suatu penyakit, seperti keganasan sistem hematopoietik, mendapatkan terapi radiasi atau obat imunosupresan, asplenia, dan penyakit ginjal kronis dan penderita Human Immunodeficiency Virus (HIV).
Perihal Imunitas Tubuh
Ada dua macam imunitas yang dimiliki oleh tubuh manusia, yaitu imunitas innate dan imunitas adaptif. Imunitas innate adalah imunitas alami yang berperan sebagai sistem pertahanan tubuh yang masuk ke dalam tubuh.
Sedang imunitas adaptif merupakan sistem pertahanan tubuh yang lebih spesifik yang muncul akibat keberadaan rangsangan patogen tertentu semisal pheumonia, flu dan lainnya.
Menjaga asupan nutrisi, melakukan aktivitas fisik dan olah raga yang teratur serta mengelola stres dengan benar, merupakan faktor-faktor lainnya yang diyakini dapat menentukan tingkat imunitas seseorang.
Terkait soal stres, jika seseorang yang mengalami stres, maka tubuh akan mengeluarkan hormon guna meredakan stres.
Semakin tinggi kadar stres, maka semakin banyak pula cadangan hormon yang dikeluarkan. Namun di sisi lain akan berimbas pada imunitas tubuh yang semakin menurun.
Berkah Puasa
Berdasarkan teori, bagi orang yang sedang berpuasa maka akan memaksa tubuh untuk menggunakan simpanan gula dan juga lemak.
Dalam rangka penghematan energi inilah kemudian tubuh secara otomatis akan banyak mendaur ulang sel imun yang sudah tua dan rusak, termasuk sel darah putih yang akan tergantikan dengan sel darah putih baru yang lebih cepat serta efisien guna melawan inveksi virus, bakteri dan penyakit lainnya.
Bagi pasien Imunodefisiensi seperti yang dialami oleh ODHIV (orang dengan HIV) dapat menjalankan puasa selama dalam keadaan sehat.
Sehat dalam artian tidak mengalami penyakit atau infeksi oportunistik yang berat seperti meningitis atau radang selaput otak yang bisa disebabkan jamur atau TBC, dan pneumocystis jiroveci (PCP).
Biasanya bagi ODHIV dengan stadium HIV 1 dan 2 tidak masalah karena kekebalan tubuhnya masih relatif baik di mana sel darah putihnya atau CD4 lebih dari 350 sel per mikroliter.
Adapun bagi pasien dengan HIV stadium 3 dan 4 dapat disarankan puasa dengan catatan infeksi oportunistiknya sudah tertangani dan sudah minum obat Anti Retroviral (ARV) minimal 6 bulan hingga satu tahun dan keadaan fisiknya sehat yang ditentukan atas dasar pemeriksaan dokter.
Khusus bagi ODHA yang meminum obat ARV tiap 12 jam per hari, waktu minum obatnya digeser menjadi saat berbuka dan sahur. Setelah bulan puasa waktu minumnya kembali ke jam semula.
Bahagianya Orang Berpuasa
Orang yang berpuasa sudah barang tentu pola hidupnya akan lebih teratur. Puasa yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dapat membuat kondisi psikologis dan spiritual lebih baik.
Oleh karenanya perasaan akan lebih tenang dan terhindar dari stres. Ini disebabkan karena hadirnya perasaan positif yang dimotori oleh ‘hormon hormon bahagia’.
Hormon-hormon tersebut adalah dopamin, serotonin, oksitosin, dan endorfin. Dalam kondisi yang demikian, otomatis akan berpengaruh pada meningkatnya imunitas tubuh.
Lebih lanjut, penulis yakin, orang-orang yang berpuasa adalah orang-orang yang berbahagia. Dasarnya sebagaimana yang telah diuraikan gamblang dalam satu redaksi hadits riwayat Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda : “bagi orang yang berpuasa itu ada dua kebahagiaan, ia berbahagia ketika berbukanya dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabbnya”.
Sekaitan dengan paparan sebelumnya, maka orang yang berpuasa akan memiliki potensi untuk meningkatkan sistem imun tubuhnya.
Sistem imunitas dan daya tahan tubuh yang baik tentu memiliki peran penting dalam menjaga kualitas kesehatan dan kualitas hidup seseorang karena tidak mudah terserang penyakit atau mempermudah proses penyembuhan sejumlah penyakit.
Alhasil, puasa sebulan penuh, dengan sebenar-benarnya puasa, adalah panen raya imunitas tubuh.***













