JAMBI, IAINews – Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Universitas Jambi (UNJA) membawa terobosan baru dalam program pemberdayaan berbasis eco enzim di Desa Legok, Kecamatan Danau Sipin, Kota Jambi.
Selain memberikan pelatihan pembuatan berbagai produk, tim juga mengenalkan teknologi tepat guna yang membuat proses produksi lebih cepat, mudah, dan hasilnya lebih banyak.

Program ini dipimpin Apt. Yuliawati, M.Farm., bersama Fathnur Sani, M.Farm., Apt. dan Hasnaul Maritsa, S.Si., M.Si.. Kegiatan ini mendapat dukungan dari Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) Kemendikbudristek tahun 2025.
Tujuannya adalah memadukan cara tradisional membuat eco enzim dengan bantuan alat modern, sehingga hasil produksi lebih efisien dan memiliki nilai jual tinggi.

Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah mesin pencacah sampah organik. Alat ini mempercepat pembuatan pupuk kompos dari ampas fermentasi eco enzim.
Dengan mesin ini, bahan seperti daun kering, sisa sayuran, dan eceng gondok dapat dipotong halus hanya dalam beberapa menit. Proses penguraian pun menjadi lebih cepat dan hasil kompos lebih merata.
Eceng gondok sendiri adalah tanaman air yang selalu tumbuh subur di Danau Sipin sepanjang tahun. Pertumbuhannya yang sangat cepat bisa menutupi permukaan air, mengurangi oksigen, dan mengganggu kehidupan ikan.
Jika tidak diolah, tanaman ini dapat merusak ekosistem dan mempercepat pendangkalan danau. Mengubah eceng gondok menjadi kompos menjadi solusi menjaga kelestarian Danau Sipin sekaligus memberi manfaat ekonomi bagi warga.

Selain mesin pencacah, tim juga membawa mesin vakum untuk membuat bantal kompres herbal dari ampas fermentasi eco enzim. Proses vakum mengeluarkan udara dari kemasan sehingga produk lebih awet, higienis, dan mudah disimpan.

Untuk pengemasan kompos, digunakan mesin jahit karung. Alat ini memastikan kemasan tertutup rapat, aman disimpan, dan mempercepat proses pengepakan puluhan karung pupuk dalam waktu singkat.
“Kami ingin warga tidak hanya bisa membuat produk eco enzim, tapi juga memproduksinya secara cepat dan siap dijual. Teknologi sederhana ini membuat proses lebih singkat, hasil lebih banyak, dan kualitas tetap terjaga,” jelas Apt. Yuliawati, M.Farm.
Warga Desa Legok menyambut baik inovasi ini. Beberapa anggota Bank Sampah Dayung Habibah bahkan langsung mencoba mengoperasikan mesin dan memproduksi kompos dari eceng gondok menggunakan cairan eco enzim sebagai pengganti gula merah atau EM4.
Menurut Fathnur Sani, pemanfaatan teknologi tepat guna ini memberi nilai tambah besar bagi masyarakat.
“Dengan peralatan ini, warga bisa menghasilkan produk lebih banyak dengan mutu yang konsisten. Ini kunci agar produk lokal mampu bersaing di pasar,” ujarnya.
Antusiasme juga datang dari Leni Haini, Ketua Mitra Bank Sampah Dayung Habibah.
“Kami sudah tak sabar memproduksi dan memasarkan eco enzim ini. Target awal adalah para nasabah Bank Sampah. Kami berharap penjualannya berkembang pesat sehingga meningkatkan penghasilan sekaligus mengurangi masalah sampah,” ungkapnya.
“Program ini diharapkan menjadi contoh nyata pemanfaatan teknologi untuk mengolah limbah organik menjadi produk bermanfaat dan kami menantikan kegiatan pengabdian selanjutnya,” ujar Ibu Erni Dawisa Efrin selaku Ketua TP PKK Danau Sipin yang juga turut berpartisipasi dalam kegiatan
Selain membuka peluang usaha, kegiatan ini juga menciptakan sistem ekonomi yang memanfaatkan kembali bahan bekas agar tetap berguna, menjaga ekosistem Danau Sipin, dan mewujudkan lingkungan yang lebih bersih dan sehat.***



















