Site icon IAI NEWS

Dosen FK Unila Sosialisasikan Cara Menyimpan Obat yang Benar kepada Warga Sekitar Kampus

BANDAR LAMPUNG, IAI News —  Tim dosen dari Program Studi Farmasi dan Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Lampung (Unila) menggelar sosialisasi mengenai cara penyimpanan obat yang benar kepada masyarakat di lingkungan sekitar Kampus FK Unila, Senin (11/5/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang bertujuan meningkatkan pemahaman warga tentang pentingnya penyimpanan obat yang tepat untuk menjaga mutu, keamanan, dan efektivitas obat di tingkat rumah tangga.

Dalam kegiatan tersebut, masyarakat diberikan edukasi mengenai berbagai kesalahan yang masih sering dilakukan dalam menyimpan obat, seperti meletakkan obat di tempat yang lembap, terpapar sinar matahari langsung, atau menyimpan seluruh obat sirup di dalam lemari pendingin tanpa memperhatikan ketentuan penyimpanannya. Padahal, cara penyimpanan yang tidak tepat dapat menurunkan stabilitas zat aktif sehingga memengaruhi khasiat obat.

Selain itu, peserta juga diajak memahami pentingnya menyimpan obat sesuai dengan suhu yang dianjurkan, menjauhkan obat dari jangkauan anak-anak, serta mempertahankan obat dalam kemasan aslinya untuk mencegah kontaminasi dan memudahkan identifikasi informasi obat.

Perwakilan tim pengabdian masyarakat, apt. Okta Puspita, M.Clin.Pharm., menegaskan bahwa penyimpanan obat bukan hanya berkaitan dengan kerapian, tetapi juga menyangkut aspek keamanan dan keselamatan pasien.

“Kesalahan yang paling sering kami temukan adalah warga menyimpan semua jenis sirup di dalam kulkas, padahal tidak semua obat membutuhkan suhu dingin. Ada juga yang meletakkannya di dekat jendela yang panas. Jika stabilitas zat aktifnya rusak, obat tersebut bisa menjadi tidak berkhasiat atau bahkan membahayakan kesehatan,” ujar apt. Okta Puspita.

Sebagai bagian dari edukasi, tim dosen juga membagikan panduan praktis mengenai penyimpanan obat di rumah. Mayoritas obat dalam bentuk tablet dan kapsul sebaiknya disimpan pada suhu ruang sekitar 15–25°C, di tempat yang kering serta terhindar dari paparan panas. Sementara itu, obat-obat tertentu seperti insulin dan beberapa jenis obat tetes mata memerlukan penyimpanan pada suhu 2–8°C di dalam lemari pendingin, namun tidak boleh ditempatkan di dalam freezer.

Tim juga mengingatkan bahwa paparan sinar matahari secara langsung dapat mempercepat proses oksidasi zat aktif obat. Selain itu, kamar mandi bukan merupakan tempat yang ideal untuk menyimpan obat karena tingkat kelembapannya yang tinggi dapat menyebabkan tablet menjadi lembek, rusak, bahkan berjamur.

Salah seorang peserta, Sumiyati (45), mengaku memperoleh pengetahuan baru melalui kegiatan tersebut. Selama ini ia mengira seluruh obat sirup harus disimpan di dalam kulkas agar lebih awet.

“Saya pikir semua obat sirup itu harus masuk kulkas supaya awet, ternyata ada yang tidak boleh karena bisa menggumpal. Selama ini saya juga menyimpan obat di rak dapur dekat kompor agar mudah diambil, padahal panas dari kompor bisa merusak kualitas obat,” ungkap Sumiyati.

Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, tim dosen FK Unila berharap masyarakat semakin memahami pentingnya penyimpanan obat yang benar sebagai bagian dari penggunaan obat yang rasional. Edukasi tersebut juga diharapkan mampu mendorong terwujudnya keluarga yang sadar obat, sehingga mutu obat tetap terjaga, efektivitas terapi dapat dipertahankan, serta risiko kerusakan dan pemborosan obat akibat penyimpanan yang tidak tepat dapat diminimalkan.

Exit mobile version