Site icon IAI NEWS

Bukan Sekadar Plester, Acne Patch Menjadi Sistem Penghantaran Zat Aktif

JAKARTA, IAINews — Jerawat kerap dianggap sebagai persoalan kulit yang sederhana. Muncul satu-dua titik merah atau komedo, lalu ditutup dengan acne patch.

Sejatinya, di balik benda kecil yang ditempelkan pada kulit itu terdapat teknologi penghantaran zat aktif yang dirancang untuk bekerja sesuai kondisi lesi.

apt. Dra. Shelly Thauresia, Ph.D

 

Karena itu, memilih acne patch tidak cukup hanya berdasarkan bentuk, merek, atau bahan yang sedang populer. Jenis jerawat, tingkat keparahan, bahan aktif, hingga mekanisme penghantarannya perlu diperhatikan.

Apt. Dra. Shelly Thauresia, Ph.D., FACP, staf pengajar Fakultas Farmasi Universitas Pancasila Jakarta memaparkan teknologi penghantaran topikal tersebut dalam webinar ‘Smart Skincare, Smarter Counseling: Acne Management & Drug Delivery Innovation in Community Pharmacy’ yang diselenggarakan hari ini, Minggu, 30 Agustus 2026.

Webinar diselenggarakan atas kerjasama PT Pharma Tekno Solusi (PharmaQ), Ikatan Apoteker Indonesia, Badiklat IAI, Kemenkes RI, PT Daewoong Indonesia serta EasyDerm juga menghadirkan narasumber dr Kardiana Purnama Dewi, Sp.DVE, FINSDV, FAADV dari RS Pondok Indah-Puri Indah, Jakarta, serta dr Primadita R Kirana dari Daewoong Indonesia.

Apt. Shelly Thauresia menjelaskan bahwa hydrocolloid patch berkembang dari sekadar penutup jerawat menjadi sistem yang dapat membawa berbagai bahan aktif, mulai dari asam salisilat, tea tree oil (TTO), niacinamide, panthenol, hyaluronic acid, epidermal growth factor (EGF), ekstrak herbal, hingga teknologi microneedle.

Pendekatan itu menjadi penting karena acne vulgaris merupakan penyakit kulit yang kompleks. Produksi sebum berlebih, keratinisasi abnormal, perubahan mikrobiota, dan inflamasi dapat berinteraksi dalam terbentuknya jerawat.

‘’Di Indonesia acne vulgaris merupakan salah satu kasus yang banyak ditemukan di fasilitas kesehatan,’’ jelas apt. Shelly Thauresia yang juga Ketua Hiaskos (Himpunan Apoteker Seminat Kosmetik) PP IAI.

‘’Sekitar 45–46 persen kasus baru di klinik dermatologi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo  merupakan kasus acne vulgaris,’’ lanjutnya.

Dari Komedo hingga Nodul

Secara sederhana, proses jerawat bermula pada unit pilosebaseus. Sebum diproduksi oleh kelenjar sebaseus dan dikeluarkan ke permukaan kulit melalui folikel rambut.

Masalah muncul ketika produksi sebum berlebihan disertai keratinisasi abnormal. Folikel kemudian dapat tersumbat dan membentuk komedo.

Komedo terbuka dikenal sebagai blackhead, sedangkan komedo tertutup disebut whitehead. Warna hitam pada komedo terbuka bukan semata-mata karena kotoran, melainkan terutama berkaitan dengan proses oksidasi komponen yang terdapat di dalam sumbatan.

Jika proses berlanjut dan terjadi inflamasi, lesi dapat berkembang menjadi papul, pustul, hingga nodul.

Mikroorganisme juga berperan dalam proses tersebut. Cutibacterium acnes, misalnya, berkaitan dengan lingkungan folikel yang kaya sebum. Metabolisme komponen sebum dapat menghasilkan asam lemak yang berkontribusi terhadap proses inflamasi.

‘’Karena mekanismenya berlapis, bahan aktif untuk mengatasi jerawat pun tidak semestinya disamaratakan,’’ tegas apt. Shelly Thauresia.

Mengapa Hydrocolloid Patch Berbeda?

Secara kasatmata, hydrocolloid patch memang menyerupai plester kecil. Namun, lapisan penyusunnya memiliki fungsi berbeda.

Bagian luar dapat menggunakan polyurethane sebagai polimer sintetis yang berfungsi memberikan perlindungan dan membantu mempertahankan kelembapan.

‘’Lapisan bagian dalam mengandung bahan seperti carboxymethyl cellulose (CMC) dan pektin,’’ jelas apt. Shelly Thauresia, yang juga aktif sebagai pengurus Perkosmi.

CMC merupakan turunan selulosa yang mampu menyerap eksudat atau cairan dari lesi. Ketika menyerap cairan, bahan ini mengalami swelling dan membentuk gel.

Mekanisme tersebut memungkinkan patch menyerap cairan sekaligus mempertahankan lingkungan yang lembap dan terkontrol.

Pendekatan ini sejalan dengan perkembangan ilmu perawatan luka yang tidak lagi semata-mata menekankan kondisi kering. Lingkungan lembap yang terkendali dapat mendukung proses penyembuhan dan reepitelisasi.

Lebih jauh, polimer dalam patch dapat berfungsi sebagai pembawa zat aktif. Sistem tersebut dirancang untuk melindungi bahan aktif, mengatur pelepasannya, dan membantu menghantarkannya secara lebih terarah ke lokasi yang dituju.

‘’Artinya, acne patch dapat menjadi sistem penghantaran obat atau bahan aktif, bukan sekadar pelindung fisik,’’ tandasnya.

Asam Salisilat untuk Komedo

Salah satu bahan aktif yang banyak dikenal adalah salicylic acid atau asam salisilat.

Bahan ini bersifat lipofilik, sehingga memiliki afinitas terhadap lingkungan yang kaya lipid. Karakter tersebut membuatnya dapat berkonsentrasi pada unit pilosebaseus.

Asam salisilat juga dapat mengganggu kohesi sel pada lapisan kulit melalui pengaruhnya terhadap struktur desmosomal, sehingga membantu proses pengelupasan sel kulit atau deskuamasi.

Karena itu, secara sederhana asam salisilat dikenal memiliki fungsi keratolitik dan komedolitik.

Sifat tersebut membuatnya relevan untuk jerawat komedonal, baik komedo terbuka maupun tertutup. Asam salisilat juga dapat menjadi terapi tambahan pada kondisi pascajerawat tertentu.

Tea Tree Oil dan Ekstrak Herbal

Lebih lanjut, apt. Shelly Thauresia menjelaskan, bahan lain yang digunakan untuk mengatasi jerawat adalah tea tree oil (TTO), yang berasal dari Melaleuca alternifolia.

Minyak esensial ini mengandung sejumlah komponen, antara lain alpha-terpinene, gamma-terpinene, dan 1,8-cineole. TTO dikenal memiliki aktivitas antimikroba dengan spektrum luas.

Mekanisme yang dijelaskan antara lain gangguan terhadap integritas membran mikroorganisme, yang dapat menyebabkan kebocoran ion dan mengganggu respirasi sel.

Ada pula ekstrak Epilobium angustifolium atau willow herb. Tanaman yang tumbuh di wilayah beriklim dingin tersebut mengandung flavonoid, senyawa fenolik, tanin, dan triterpen.

Komponen-komponen tersebut memiliki potensi antioksidan dan antiinflamasi. Salah satu mekanisme yang dibahas adalah penghambatan aktivitas enzim lipoksigenase yang terlibat dalam jalur peradangan.

Ekstrak ini juga menunjukkan aktivitas antimikroba sehingga berpotensi mendukung perawatan kulit berjerawat.

Menjaga Kulit Setelah Jerawat Mereda

Masalah tidak selalu selesai ketika jerawat menghilang. Sebagian orang justru harus menghadapi persoalan berikutnya berupa kemerahan, hiperpigmentasi, atau jaringan parut.

Di sinilah bahan seperti niacinamide, panthenol, dan hyaluronic acid menjadi relevan.

Niacinamide atau nicotinamide merupakan bentuk amida dari niasin atau vitamin B3. Selain mendukung fungsi skin barrier, niacinamide berperan dalam proses yang berkaitan dengan pigmentasi.

Menariknya, niacinamide bukan terutama bekerja dengan menghambat enzim tirosinase. Salah satu mekanisme adalah mengurangi transfer melanosom dari melanosit ke keratinosit.

Melanosit dapat diibaratkan sebagai “pabrik” melanin. Pigmen yang diproduksi kemudian dikemas dalam melanosom dan ditransfer ke keratinosit di sekitarnya.

Dengan mengurangi proses transfer tersebut, akumulasi pigmen pada lapisan epidermis dapat ditekan. Dalam penelitian yang dipaparkan, pengurangan transfer melanosom disebut berada pada kisaran 35–68 persen.

Penelitian lain yang dikutip dalam sesi tersebut menunjukkan penggunaan niacinamide dapat mengurangi area hiperpigmentasi dan meningkatkan kecerahan kulit dibandingkan placebo setelah empat minggu.

Sementara itu, panthenol atau dexpanthenol dikenal sebagai turunan vitamin B5. Dalam penggunaan topikal, bahan ini membantu meningkatkan hidrasi stratum corneum dan mengurangi transepidermal water loss (TEWL).

Dexpanthenol juga mendukung aktivitas fibroblas dan proses reepitelisasi sehingga relevan dalam pemulihan kulit. Efek antiinflamasi dan kemampuannya membantu mengurangi rasa gatal juga menjadi bagian dari manfaat yang dibahas.

Hyaluronic Acid dan Regenerasi

Hyaluronic acid memiliki peran berbeda. Polisakarida ini membantu mempertahankan kelembapan serta mendukung migrasi keratinosit dan fibroblas dalam proses penyembuhan luka.

Dalam tahapan wound healing, hyaluronic acid terlibat dalam berbagai fase, mulai dari inflamasi hingga proliferasi dan pematangan jaringan.

Pada fase proliferasi, migrasi keratinosit dan fibroblas membantu menutup area yang mengalami kerusakan. Fibroblas juga berperan dalam pembentukan kolagen baru, sedangkan angiogenesis membantu menyediakan oksigen dan nutrisi bagi jaringan yang sedang diperbaiki.

Teknologi kemudian berkembang ke bentuk dissolvable microneedle berbasis hyaluronic acid. Jarum mikro tersebut dirancang untuk larut setelah masuk ke kulit sehingga tidak meninggalkan jarum yang tertanam di jaringan.

Sistem microneedle memungkinkan penghantaran bahan aktif melewati lapisan terluar kulit dan berpotensi meningkatkan drug loading serta penghantaran senyawa hidrofilik maupun hidrofobik.

EGF dan Magnesium

Bahan aktif lainnya adalah epidermal growth factor (EGF), faktor pertumbuhan yang berperan dalam pertumbuhan, proliferasi, diferensiasi, dan kelangsungan hidup sel.

Perkembangan teknologi DNA rekombinan memungkinkan produksi recombinant human EGF (rhEGF) dalam skala besar. Dalam dermatologi, bahan tersebut diteliti untuk mendukung penyembuhan luka, reepitelisasi, dan angiogenesis.

Tantangannya adalah stabilitas molekul EGF. Teknologi penghantaran berbasis polimer maupun nanoteknologi menjadi salah satu pendekatan untuk membantu mempertahankan stabilitas dan efektivitasnya.

Sementara itu, teknologi microneedle juga dikembangkan dengan magnesium. Dalam lingkungan fisiologis, magnesium dapat mengalami korosi dan menghasilkan ion magnesium serta hidrogen.

Hidrogen molekular diketahui memiliki potensi aktivitas antioksidan dan antiinflamasi. Magnesium juga diteliti karena aktivitas antimikrobanya terhadap Cutibacterium acnes.

Dalam studi yang dipaparkan, penggunaan microneedle magnesium patch selama 12 minggu dengan pemakaian sekitar delapan jam per hari dikaitkan dengan perbaikan lesi jerawat.

Apoteker Menentukan Batas Swamedikasi

Banyaknya pilihan patch membuat peran apoteker menjadi penting, terutama di komunitas.

Sebelum merekomendasikan produk, apoteker perlu mengetahui untuk siapa produk tersebut digunakan, termasuk usia pengguna. Selanjutnya perlu digali berapa lama jerawat dialami, produk atau obat apa yang sudah digunakan, serta tindakan apa yang telah dilakukan pasien.

Tingkat keparahan juga harus menjadi pertimbangan.

Pada kasus ringan hingga sebagian kasus sedang, konseling mengenai perawatan dan pilihan produk dapat dilakukan. Namun, apabila kondisi sudah sedang hingga berat, lesi luas atau dalam, atau terdapat risiko terbentuknya jaringan parut, pasien sebaiknya dirujuk kepada dokter spesialis kulit.

Penggunaan patch juga perlu disertai edukasi. Kulit harus dibersihkan dan dikeringkan sebelum patch ditempelkan. Lama pemakaian umumnya sekitar enam hingga 12 jam sesuai petunjuk produk, kemudian dilepas secara perlahan.

Patch yang telah banyak menyerap eksudat dapat mengalami perubahan bentuk atau warna dan perlu diganti sesuai petunjuk.

Pada akhirnya, acne patch bukanlah solusi tunggal untuk semua jenis jerawat.

Asam salisilat, misalnya, lebih relevan dengan persoalan keratinisasi dan komedo. TTO memiliki aktivitas antimikroba. Niacinamide dapat diarahkan untuk mendukung skin barrier dan membantu mengatasi pigmentasi. Panthenol dan hyaluronic acid mendukung hidrasi serta pemulihan kulit. Sementara teknologi microneedle menawarkan sistem penghantaran yang berbeda untuk target tertentu.

Pesannya sederhana: jangan memilih patch hanya karena sedang populer. Kenali jenis lesi, pahami bahan aktifnya, dan sesuaikan dengan kebutuhan kulit.

Untuk jerawat moderate to severe, terlebih jika luas, dalam, berulang, atau berisiko meninggalkan bekas, konsultasi dengan dokter spesialis kulit tetap menjadi pilihan yang lebih tepat.

Sebab, di balik sebuah patch yang tampak sederhana, terdapat ilmu formulasi, farmasi, biologi kulit, dan sistem penghantaran zat aktif yang menentukan apakah produk tersebut memang sesuai dengan masalah yang hendak ditangani.

Dalam kesempatan tersebut, dr Primadita R Kirana dari PT Daewoong Indonesia menyampikan product knowledge mengenai EasyDerm yang memiliki 4 varian berbeda.

Varian EasyDerm adalah Relief untuk merawat jerawat batu, Quick Calming untuk jerawat yang belum pecah, Beauty untuk jerawat yang sudah pecah dan mengeluarkan eksudat serta Real Calming untuk fase jerawat mereda dan meninggalkan bekas.

Pengelompokan tersebut memperlihatkan satu hal: acne patch sebaiknya dipilih berdasarkan fase jerawat, bukan semata-mata karena bentuk atau popularitasnya.***

Exit mobile version