JAKARTA, IAINews – Penyakit saluran pernapasan akut, termasuk batuk pilek, masih menjadi keluhan kesehatan umum. Upaya pemilihan terapi dan identifikasi tanda bahaya masih menjadi tantangan. Apoteker punya peran strategis dalam mendukung praktik self-care yang aman, efektif dan berbasis bukti.
‘’Penyakit saluran pernafasan akut, masih menjadi salah satu keluhan kesehatan yang paling sering ditemui di masyarakat Indonesia,’’ tutur apt. Drs Pujianto, MM, Direktur Utama PT Pharma Tekno Solusi (PharmaQ) kepada IAINews.
Menurutnya sebagian besar kasus dapat ditangani melalui swamedikasi yang tepat, namun masih terdapat tantangan dalam pemilihan terapi dan identifikasi tanda bahaya (red flags).
‘’Masalah lain yang masih banyak dihadapi adalah pemahaman masyarakat mengenai kapan gejala dapat dikelola secara mandiri dan kapan harus dirujuk ke tenaga medis,’’ tambah apt. Pujianto.
Di sisi lain, apoteker sebagai tenaga kesehatan yang mudah diakses oleh masyarakat memiliki peran dalam memberikan rekomendasi terapi yang sesuai.
Apoteker juga berperan dalam edukasi masyarakat terkait pengenalan gejala, penggunaan obat yang rasional, seerta pentingnya rujukan pada kondisi tertentu.
‘’Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan meningkatnya kebutuhan masyarakat akan informasi kesehatan yang terpercaya, diperlukan pembaruan wawasan bagi tenaga kefarmasian mengenai tata laksana keluhan batuk dan pilek di pelayanan farmasi,’’ tandas apt. Pujianto.
‘’Di sisi lain, peningkatan literasi kesehatan masyarakat juga menjadi aspek penting untuk mendorong pengelolaan kesehatan pernapasan yang lebih baik,’’ lanjut apt. Pujianto.
Oleh karena itulah PharmaQ bekerjasama dengan Ikatan Apoteker Indonesia, Badiklat IAI, Kemenkes RI dengan dukungan dari Haleon Indonesia dan Actived menggelar seminar ‘Advancing respiratory Self-Care in Indonesia : Bridging Clinical Practice and Patient Behavior Through Evidence-Based Education’.
Seminar digelar Kamis, 1 Oktober 2026 mulai jam 10.00 – 15.00 wib di The Manor Andara, Cinere, Depok dengan menghadirkan narasumber dr. Ikhsanuddin Qoth’i yang dikenal sebagai influencer melalui akun instagramnya @ikhsanqthi, serta Dr. apt. Lusy Noviani, MM, Kepala Program Studi Profesi Apoteker Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, dengan moderator apt. Deni Krisnamurti dari Haleon Indonesia.
‘’Seminar yang akan diikuti oleh 100 peserta ini diselenggarakan sebagai sarana pembelajaran dan diskusi ilmiah untuk meningkatkan kompetensi apoteker dalam pengelolaan kasus batuk dan pilek di apotek,’’ papar apt. Pujianto.
Setelah mengikuti seminar, peserta diharapkan akan memiliki kompetensi yang makin kuat dalam memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai kesehatan pernafasan dan praktik self-care yang tepat berdasarkan bukti ilmiah terkini.
Asesmen Pasien
Di sesi pertama, Dr. apt. Lusy Noviani selama 60 menit kan membahas topik ‘Cough and Cold at the Pharmacy: Assess, Treat, or Refer?’.
‘’Di sesi ini saya akan membahas pendekatan sistematis dalam melakukan asesmen pasien dengan keluhan batuk dan pilek di apotek,’’ terang apt. Lusy Noviani.
Selain itu, apt. Lusy Noviani juga akan membahas identifikasi gejala, faktor risiko dan tanda bahaya yang memerlukan rujukan ke dokter.
‘’Apoteker juga harus memahami bagaimana mengambil keputusan berbasis bukti dalam menentukan apakah pasien dapat melakukan swamedikasi atau memerlukan evaluasi medis lebih lanjut. Akan saya bahas di sesi saya nanti,’’ lanjut apt. Lusy Noviani.
Dua sub topik lain yang akan dibahas di sesi pertama adalah pemilihan terapi yang sesuai berdasarkan karakteristik gejala dan kebutuhan pasien serta peran apoteker sebagai garda terdepan dalam mendukung praktik respiratory self-care yang aman, tepat dan bertanggungjawab.
Pengaruh Media Digital
Di sesi kedua, dr Ikhasanuddin Qoth’i akan membahas topik ‘Understanding patient Behavior in Respiratory Self-Care: From Health Information to Health Action’.
‘’Ada lima hal yang akan saya bahas dalam sesi saya tersebut, yang pertama adalah perilaku masyarakat dalam menghadapi batuk dan pilek serta pola swamedikasi yang umum dilakukan,’’ kata dr. Ikhsanuddin Qoth’i.
Dr. Ikhsanuddin Qoth’i juga akan membahas mengenai kesalahan dan miskonsepsi yang sering ditemukan dalam pengelolaa gejala pernafasan sehari-hari, serta pengaruh media digital dan sumber informasi kesehatan terhadap keputusan pasien.
Di sesi ini juga akan dibahas mengenai tantangan dalam mengubah informasi kesehatan menjadi tindakan yang tepat, serta peran apoteker dan tenaga kesehatan dalam membantun kepercayaan serta meningkatkan kepatuhan pasien terhadap rekomendasi kesehatan.***


















