Informasi
Hubungi Redaksi IAINews melalui email : humas@iai.id
Floating Left Ads
Floating Right Ads
banner 950x90

Edukasi Swamedikasi Pasca Banjir di Desa Legok: Peran Apoteker untuk Masyarakat Sehat

Penulis: apt. Yuliawati, M.Farm (Tim Media Nasional/PD IAI Jambi)Editor: apt. Dra Tresnawati
banner 120x600
banner 468x60

JAMBI, IAINews – Tim pengabdian Farmasi Universitas Jambi menggelar kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk “Strategi Pengobatan Penyakit Pasca Banjir” di Desa Legok, Sabtu, 13 Seotember 2025. Desa yang rutin dilanda banjir ini setiap tahunnya menghadapi ancaman penyakit seperti diare, ISPA, penyakit kulit, hingga leptospirosis.

apt. Yuliandani, S.Farm, M.Farm.Klin menyampaikan materi mengenai swamedikasi di salah satu rumah penduduk desa Legok.

Narasumber utama, apt. Yuliandani, S.Fam., M.Farm.Klin, menekankan pentingnya edukasi mengenai penggunaan obat secara tepat, terutama ketika akses ke fasilitas kesehatan terbatas.

Iklan ×

“Banjir tidak hanya merusak rumah dan infrastruktur, tetapi juga meningkatkan risiko penyakit serius. Banyak warga melakukan swamedikasi, tetapi tanpa panduan yang benar, ini justru bisa membahayakan,” ujarnya.

Dalam sesi edukasi, Yuliandani memberikan strategi pengobatan sederhana yang bisa diterapkan di rumah. Untuk diare, oralit dan zinc dianjurkan untuk mencegah dehidrasi dan mempercepat pemulihan.

Baca Juga  Mobility Program Obat Apps Pelatihan Jurnalistik untuk Mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Mataram

Sedangkan untuk ISPA ringan, paracetamol, obat batuk sesuai gejala, dan vitamin C dapat membantu meringankan keluhan. Ia menekankan, “Hindari penggunaan antibiotik tanpa resep dokter.”

Tak hanya pengobatan medis, warga juga diajak memahami langkah non-farmakologis. Konsumsi air matang, menjaga kebersihan tubuh dan luka, menjemur alas tidur, memakai sabun antiseptik, dan memastikan sirkulasi udara rumah tetap baik menjadi bagian penting dari pencegahan penyakit.

Menurut Yuliandani, kombinasi pengobatan medis dan perilaku hidup bersih adalah kunci pemulihan pasca banjir.

Kegiatan ini juga membekali warga dengan panduan perlengkapan P3K yang sebaiknya tersedia di rumah.

Isinya antara lain paracetamol, obat diare, oralit, obat batuk pilek, salep antiseptik atau antijamur, serta perlengkapan dasar seperti kapas, kasa steril, dan plester. Dengan bekal ini, masyarakat diharapkan lebih sigap menghadapi kondisi darurat kesehatan.

Baca Juga  Melihat Masa Depan dari Dekat: Peserta OLSASTIFA 2025 Terpukau oleh Fasilitas STIFARM Padang

Peran apoteker menjadi sorotan utama. Yuliandani menegaskan, “Apoteker bukan sekadar penjual obat, tetapi garda terdepan dalam memberikan konsultasi, edukasi, dan memastikan obat digunakan dengan benar”.

Kehadiran tim pengabdian dari Universitas Jambi mendapat sambutan hangat dari warga. Mereka antusias mengikuti sesi diskusi dan membagikan pengalaman pribadi dalam menghadapi penyakit pasca banjir.

Leni Haini, tuan rumah kegiatan menyampaikan terimakasih atas kehadiran tim pengabdian masyarakat.

Leni Haini, salah satu peserta sekaligus tuan rumah dalam sambutannya menyampaikan “Saya sangat bersyukur dengan adanya kegiatan edukasi ini’’.

‘’Selama ini kami hanya mengandalkan pengalaman pribadi atau saran tetangga ketika sakit setelah banjir, tanpa tahu cara yang benar,’’ kata Leni Haini.

‘’Dari penjelasan yang diberikan, saya jadi paham obat apa saja yang aman digunakan sendiri. Selain itu, tips menjaga kebersihan rumah, menjemur kasur, dan menyiapkan kotak P3K di rumah sangat bermanfaat bagi kami,’’ lanjutnya.

Baca Juga  Dosen Farmasi UNJA Berikan Edukasi Swamedikasi tentang Diare dan Cacingan

‘’Kegiatan ini membuka wawasan bahwa apoteker bukan hanya menjual obat, tetapi juga menjadi tempat konsultasi dan edukasi. Semoga kegiatan seperti ini bisa rutin dilakukan agar masyarakat lebih siap menghadapi banjir dan tidak mudah sakit,” harap Leni Haini

Di akhir kegiatan, tim pengabdian menegaskan bahwa menjaga kesehatan pasca banjir adalah tanggung jawab bersama. Warga diimbau untuk segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jika keluhan tidak membaik dalam tiga hari dan menghindari menyimpan antibiotik tanpa pengawasan.

Dengan kolaborasi antara tenaga kesehatan dan masyarakat, Desa Legok diharapkan menjadi contoh bagaimana edukasi kesehatan dapat meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap ancaman penyakit pasca bencana.***

 

banner 325x300
```

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

banner 950x90