Informasi
Hubungi Redaksi IAINews melalui email : humas@iai.id
Floating Left Ads
Floating Right Ads
banner 950x90

Langkah Nyata Sehat Di Zaman Milenial: Nutrisi Herbal Untuk Mencegah Penyakit Degeneratif

Penulis: apt. Nurma Suri, S.Farm (Prodi Farmasi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung)Editor: apt. Dra Tresnawati
banner 120x600
banner 468x60

LAMPUNG SELATAN, IAINews – Di tengah meningkatnya prevalensi penyakit degeneratif di Indonesia, masyarakat dituntut untuk lebih peduli pada kesehatan diri dan keluarga.

Perubahan gaya hidup, pola makan tidak sehat, kurangnya aktivitas fisik, dan tingginya paparan stres menjadi faktor pemicu yang semakin sulit dihindari di era modern.

Iklan ×

Melihat fenomena ini, Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Langkah Nyata Sehat di Zaman Milenial: Nutrisi Herbal dan Penyakit Degeneratif”.

Kegiatan dilaksanakan di Desa Umbul Natar, Kelurahan Jatimulyo, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan, pada Minggu, 20 Juli 2025.

Kegiatan ini menjadi salah satu implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pengabdian kepada masyarakat, dengan fokus memberikan edukasi kesehatan berbasis ilmu pengetahuan.

Sebanyak 20 ibu rumah tangga menjadi peserta utama, didampingi Ketua Tani sebagai perwakilan warga desa.

Penyakit degeneratif adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh penurunan fungsi organ tubuh secara bertahap.

Kondisi ini sering dikaitkan dengan proses penuaan, namun dalam beberapa dekade terakhir, penyakit degeneratif juga banyak ditemukan pada usia muda.

Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), prevalensi penyakit seperti hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung koroner, dan kanker meningkat signifikan pada kelompok usia produktif.

Perubahan pola konsumsi, meningkatnya asupan makanan olahan tinggi gula, garam, dan lemak, serta rendahnya aktivitas fisik, menjadi penyebab utama fenomena ini.

“Penyakit degeneratif tidak hanya menyerang lansia, tetapi kini juga mengintai anak muda, bahkan usia 30-an,” ujar Apt. Muhammad Iqbal, S.Farm., M.Sc (Ketua Tim Pengabdian), saat memulai penyuluhan.

Baca Juga  Pamer Jersey Baru, Apoteker FC Palembang Tidak Hanya Bermain Bola

Upaya pencegahan perlu dilakukan sejak dini melalui pola hidup sehat, pemeriksaan kesehatan berkala, serta pemanfaatan sumber daya lokal seperti tanaman herbal yang telah terbukti memiliki manfaat kesehatan.

Desa Umbul Natar, yang berada di Kecamatan Jati Agung, Lampung Selatan, memiliki karakter masyarakat pedesaan dengan potensi pertanian yang melimpah.

Sebagian besar warganya berprofesi sebagai petani dan ibu rumah tangga. Ketersediaan lahan pekarangan membuat masyarakat berpotensi untuk mengembangkan dan memanfaatkan tanaman herbal.

Menurut Ketua Tani Desa Umbul Natar, Sudardi, meski banyak tanaman herbal tumbuh di sekitar rumah warga, pengetahuan tentang cara mengolahnya secara benar dan aman masih terbatas.

“Kami punya kunyit, jahe, daun salam, bahkan pegagan, tetapi banyak warga belum tahu manfaatnya secara ilmiah,” ujarnya.

Kegiatan dibuka dengan sambutan dari Apt. Muhammad Iqbal, M.Sc. yang menegaskan pentingnya edukasi kesehatan berbasis bukti ilmiah.

Ia juga memperkenalkan anggota tim, yaitu Apt. Ramadhan Triyandi, S.Farm., M.Si; Bayu Anggileo Pramesona, S.Kep., Ns., MMR., Ph.D; dan Apt. Nurma Suri, M.Biomed.Sc., MKM, beserta mahasiswa farmasi Universitas Lampung: Ayesha Kamila, Zahra Asnifa Setyaputri, Kallista Puji Astuti, Anastasia Jessica Jasmine, dan Carisa Nabila Defri.

Sebelum penyuluhan dimulai, dilakukan skrining pengetahuan awal (pre-test) untuk mengetahui sejauh mana pemahaman peserta mengenai penyakit degeneratif dan pemanfaatan herbal.

Baca Juga  Personalized Nutrition, Strategi Modern Tangani Penyakit Kronis

Hasil awal menunjukkan bahwa sebagian besar peserta mengenal beberapa tanaman herbal, namun belum memahami kandungan aktif, dosis aman, dan cara pengolahan yang benar.

Materi penyuluhan disampaikan dengan bahasa sederhana oleh Bayu Anggileo Pramesona, S.Kep., Ms., MMR., Ph.D agar mudah dipahami.

Tim menjelaskan berbagai tanaman herbal yang memiliki kandungan nutrisi penting, antara lain:

  • Kunyit: Mengandung kurkumin yang bersifat antioksidan dan antiinflamasi, bermanfaat untuk radang sendi dan penyakit jantung.
  • Temulawak: Mengandung xanthorrhizol yang membantu fungsi hati dan memiliki efek antikanker ringan.
  • Daun Sirsak: Kaya acetogenins, berperan menangkal radikal bebas dan mendukung pengobatan kanker.
  • Jahe: Mengandung gingerol yang melancarkan peredaran darah dan mengurangi peradangan.
  • Pegagan: Mengandung asiaticoside yang menjaga kesehatan otak dan memperlambat penuaan.
  • Daun Salam: Mengandung eugenol yang membantu menurunkan kadar gula darah pada penderita diabetes.

Setiap penjelasan dilengkapi dengan cara pengolahan sederhana, misalnya kunyit yang bisa diolah menjadi minuman kunyit asam atau pegagan yang bisa diseduh menjadi teh.

Sesi tanya jawab berlangsung dinamis. Beberapa ibu bertanya mengenai dosis aman konsumsi herbal, interaksi dengan obat medis, dan cara menyimpan herbal agar tidak kehilangan khasiat.

Tim menjelaskan bahwa konsumsi herbal harus dilakukan secara bijak, tidak berlebihan, dan sebaiknya dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan, terutama bagi penderita penyakit kronis.

Selain edukasi, peserta mendapatkan pemeriksaan kesehatan gratis berupa pengecekan tekanan darah, kadar gula darah, dan berat badan.

Baca Juga  BPOM Temukan 16 Obat Bahan Alam dan 2 Suplemen Kesehatan Ilegal serta Mengandung BKO

Dari pemeriksaan ini ditemukan beberapa peserta dengan tekanan darah tinggi dan gula darah di atas batas normal. “Ini menjadi alarm untuk mulai mengubah pola hidup,” kata Apt. Nurma Suri.

Menurut Apt. Ramdhan Triyandi, kegiatan ini diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk memanfaatkan potensi tanaman herbal secara benar, mengurangi ketergantungan pada obat kimia untuk pencegahan penyakit, serta mengintegrasikan pola hidup sehat dalam aktivitas sehari-hari.

Manfaat yang diharapkan antara lain peningkatan pengetahuan tentang pencegahan penyakit degeneratif, pemanfaatan lahan pekarangan untuk menanam herbal dan kesadaran pemeriksaan kesehatan rutin di tingkat rumah tangga.

Beberapa peserta menyampaikan kesan positif. “Saya baru tahu kalau daun salam bisa menurunkan gula darah. Selama ini saya hanya pakai untuk masak,” ujar salah satu peserta.

Ketua Tani menambahkan bahwa kegiatan ini membuka peluang kerja sama lebih lanjut, seperti pelatihan budidaya herbal dan pengolahan pascapanen untuk nilai ekonomi.

Kegiatan di Desa Umbul Natar ini menjadi contoh konkret kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam meningkatkan derajat kesehatan.

Di tengah tantangan penyakit degeneratif yang kian meningkat, langkah pencegahan berbasis potensi lokal seperti pemanfaatan herbal menjadi strategi yang relevan, murah, dan berkelanjutan.

Universitas Lampung berharap kegiatan ini menjadi awal dari program berkelanjutan untuk membangun desa sehat berbasis herbal, sekaligus menginspirasi desa-desa lain di Lampung.***

 

banner 325x300
```

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

banner 950x90