Informasi
Hubungi Redaksi IAINews melalui email : humas@iai.id
Floating Left Ads
Floating Right Ads
banner 950x90

Kolaborasi UPH, IAI, dan Balai POM Tangerang Berdayakan Kader Cegah Resistensi Antibiotik Penyalahgunaan Obat di Masyarakat

banner 120x600
banner 468x60

Tangerang, IAINews – Resistensi antibiotik dan penyalahgunaan Obat-Obat Tertentu (OOT) menjadi fokus kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang diselenggarakan Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker Universitas Pelita Harapan (UPH).

Melalui kegiatan bertema “Pemberdayaan Masyarakat dalam Pencegahan Resistensi Antibiotik dan Penyalahgunaan Obat-Obat Tertentu melalui Edukasi Penggunaan Obat Rasional” tersebut, kader kesehatan dibekali pengetahuan dan keterampilan untuk menyebarluaskan edukasi penggunaan obat secara rasional di lingkungan masyarakat.

Iklan ×

Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi Prodi Pendidikan Profesi Apoteker UPH, Balai POM di Tangerang, PC IAI Kabupaten Tangerang, dan HISFARSI PD IAI Banten. Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan World Pharmacists Day 2026 dengan tema “Empowering Pharmacists for Healthier Futures”.

Program PkM menyasar kelompok masyarakat nonproduktif di RW 01 Perum Harapan Kita. Kelompok sasaran tersebut terdiri atas kepala keluarga, ibu rumah tangga, remaja, lansia, kader kesehatan, dan tokoh masyarakat.

Pemberdayaan dilakukan melalui pelatihan kader kesehatan. Para kader diharapkan dapat meneruskan pesan edukasi mengenai penggunaan obat yang tepat kepada keluarga dan masyarakat di lingkungan tempat tinggal masing-masing.

Ketua Tim PkM, apt. Febbyasi Megawaty Rangka, M.Farm., menjelaskan bahwa kader kesehatan memiliki posisi strategis dalam menyampaikan informasi kesehatan. Sebagai bagian dari masyarakat yang berinteraksi langsung dengan keluarga, kader dapat membantu mengenali kebiasaan penggunaan obat yang tidak tepat sekaligus mendorong masyarakat untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Pelatihan Kader Kesehatan dilaksanakan pada Jumat, 11 September 2026, bertempat di Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan. Kegiatan ini diikuti 84 kader dari mitra sasaran, apoteker PC IAI Kabupaten Tangerang dan HISFARSI PD IAI Banten, serta mahasiswa Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker, S1 Farmasi, dan D3 Farmasi.

Selain peserta yang hadir secara luring, kegiatan tersebut juga diikuti oleh 30 peserta secara daring.

Meningkatkan Kewaspadaan terhadap Penyalahgunaan OOT

Baca Juga  Hibah BIMA Diperoleh! Kolaborasi Farmasi UNBI – Keperawatan Lahirkan "Wangi Usadha", Inovasi Herbal untuk Pencegahan Stunting di Bali

Materi pertama disampaikan oleh apt. Tumiur Gultom, S.Farm., Kepala Balai POM di Tangerang, dengan topik “Edukasi Bahaya Penyalahgunaan Obat-Obat Tertentu (OOT)”.

Dalam pemaparannya, peserta memperoleh penjelasan mengenai bahaya penyalahgunaan OOT, khususnya di kalangan generasi muda. Beberapa jenis obat yang berpotensi disalahgunakan antara lain tramadol, triheksifenidil, amitriptilin, klorpromazin, haloperidol, dekstrometorfan, dan ketamin.

Penyalahgunaan OOT dapat menimbulkan berbagai dampak kesehatan, seperti halusinasi, perubahan kesadaran, gangguan koordinasi, gangguan denyut jantung, ketergantungan, gangguan mental, perubahan perilaku, gangguan fungsi organ, hingga risiko overdosis dan kematian.

Generasi muda menjadi salah satu kelompok yang rentan terhadap penyalahgunaan obat. Kondisi tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain rasa ingin tahu, pengaruh teman sebaya, tekanan psikologis, kurangnya edukasi, serta akses terhadap obat yang relatif mudah.

Dalam upaya pencegahan, keluarga memiliki peran penting sebagai lingkungan terdekat. Keluarga diharapkan mampu mengenali obat yang digunakan, membatasi akses terhadap obat, menyimpan obat secara aman, mengawasi penggunaannya, serta memberikan edukasi sejak dini.

Selain itu, lingkungan pergaulan yang positif, pengelolaan stres, dan penerapan gaya hidup sehat juga menjadi bagian dari upaya menghindari penyalahgunaan OOT.

Membekali Kader tentang Penggunaan Antibiotik Rasional

Materi kedua disampaikan oleh apt. Tuty Sriwahyuni, M.Farm-Klin., Ketua HISFARSI PD IAI Banten, dengan topik “Edukasi Penggunaan Antibiotik Secara Rasional”.

Dalam pemaparannya, dijelaskan bahwa resistensi antimikroba atau Antimicrobial Resistance (AMR) merupakan salah satu ancaman kesehatan global. Salah satu faktor yang mendorong terjadinya resistensi adalah penggunaan antibiotik yang tidak tepat.

Bentuk penggunaan antibiotik yang tidak tepat di masyarakat antara lain membeli antibiotik tanpa resep, menggunakannya untuk penyakit yang tidak memerlukan antibiotik, serta tidak mengikuti aturan penggunaan yang telah ditetapkan.

Penggunaan antibiotik secara rasional perlu memperhatikan prinsip “5 Tepat”, yaitu tepat indikasi, tepat obat, tepat dosis, tepat cara dan lama pemberian, serta tepat pasien.

Baca Juga  Gubernur Sulsel: Apoteker Garda Depan Transformasi Layanan Kesehatan

Peserta juga diingatkan bahwa antibiotik tidak digunakan untuk mengatasi flu, batuk, atau pilek biasa yang umumnya disebabkan oleh virus. Penggunaan antibiotik harus didasarkan pada indikasi yang tepat dan mengikuti arahan tenaga kesehatan yang berwenang.

Selain itu, peserta diberikan pemahaman mengenai berbagai bentuk penyalahgunaan antibiotik yang masih ditemukan di masyarakat. Praktik tersebut meliputi membeli antibiotik tanpa resep, menghentikan penggunaan ketika gejala membaik, berbagi antibiotik dengan anggota keluarga, menyimpan sisa antibiotik untuk digunakan kembali, serta mengikuti saran dari orang yang bukan tenaga kesehatan.

Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat menyebabkan bakteri menjadi kebal sehingga infeksi lebih sulit ditangani. Dampak lainnya meliputi peningkatan risiko efek samping, kebutuhan perawatan yang lebih lama, komplikasi, serta biaya pengobatan yang lebih besar.

Sebagai pesan edukasi praktis, peserta diperkenalkan kembali pada prinsip DAGUSIBU antibiotik. Prinsip ini mencakup mendapatkan antibiotik melalui tenaga kesehatan yang berwenang, menggunakan sesuai dosis dan aturan, tidak menyimpan atau membagikan sisa obat, serta membuang obat dengan benar sesuai anjuran apoteker.

Penguatan Peran Apoteker dan Kader Kesehatan

Selain penyampaian materi mengenai antibiotik dan OOT, kegiatan ini juga menekankan pentingnya kompetensi tenaga kesehatan dan kader dalam memberikan edukasi kepada masyarakat.

apt. Gandes Winarni, M.Farm., Ketua Bidang Pengabdian Masyarakat PC IAI Kabupaten Tangerang, dalam sambutannya mewakili Ketua PC IAI Kabupaten Tangerang, menyampaikan bahwa upaya membantu masyarakat harus didasari oleh pengetahuan dan kompetensi yang memadai.

“Dalam membantu orang lain, kita juga harus memiliki ilmu. Oleh karena itu, kegiatan Penyuluhan Kader Kesehatan ini sangat kami sambut baik sebagai upaya mempersiapkan apoteker dalam menghadapi masyarakat,” ujar apt. Gandes.

Pernyataan tersebut disampaikan berdasarkan pengalamannya sebagai bagian dari Tim Darurat Medis/Emergency Medical Team Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dengan masa tugas 24 Agustus–7 September 2026.

Baca Juga  Perkembangan Ilmu Kefarmasian Dorong Inovasi Penanganan Kesehatan Reproduksi dan Estetika

Pengalaman tersebut semakin menegaskan pentingnya kesiapan, pengetahuan, dan keterampilan tenaga kesehatan dalam memberikan bantuan kepada masyarakat.

Selanjutnya, apt. Fajri Hakim, S.Farm., menyampaikan sosialisasi mengenai klaim Satuan Kredit Profesi (SKP) Pengabdian kepada Masyarakat.

Pelatihan kader ini akan ditindaklanjuti melalui praktik edukasi kepada masyarakat. Kegiatan penyuluhan dijadwalkan pada Sabtu, 3 Oktober 2026, baik bersama mitra sasaran maupun di lingkungan masing-masing peserta.

Peserta juga diarahkan untuk mendokumentasikan kegiatan edukasi melalui daftar hadir, sertifikat, dan foto kegiatan. Dokumentasi tersebut menjadi bagian dari persyaratan pengajuan SKP Pengabdian kepada Masyarakat melalui SATUSEHAT SDMK.

Tim PkM UPH turut menyiapkan sarana publikasi berupa video dan poster edukasi yang disebarluaskan melalui media sosial Instagram dan YouTube dengan nama akun Edukasi Farmasi Indonesia.

Media edukasi tersebut dikembangkan sebagai sarana penyebarluasan informasi mengenai penggunaan obat secara rasional. Selain itu, sebanyak 20 apoteker telah menyatakan komitmen untuk turut berperan dalam memberikan edukasi penggunaan obat secara rasional kepada masyarakat.

Seluruh rangkaian kegiatan akan dilanjutkan dengan pendampingan dan evaluasi pada Jumat, 6 November 2026. Evaluasi dilakukan untuk menilai pelaksanaan edukasi oleh kader sekaligus memperkuat pemahaman masyarakat mengenai bahaya resistensi antibiotik dan penyalahgunaan Obat-Obat Tertentu (OOT).

Melalui kegiatan ini, Prodi Pendidikan Profesi Apoteker UPH bersama seluruh mitra berharap dapat membentuk kader kesehatan yang mampu menjadi penggerak edukasi penggunaan obat secara rasional.

Edukasi yang dimulai dari kader diharapkan dapat menjangkau keluarga secara lebih luas serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya resistensi antibiotik dan penyalahgunaan OOT.

Kolaborasi antara institusi pendidikan, organisasi profesi, Balai POM, apoteker, dan masyarakat ini diharapkan dapat mendukung terciptanya masyarakat yang lebih sehat dan bijak dalam menggunakan obat.

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

banner 950x90