IAINews — Tak terasa kita telah melewati bulan Ramadan dan kini memasuki Idul Fitri, atau yang biasa disebut Lebaran. Momen Lebaran adalah peristiwa ketika kita berkumpul bersama sanak keluarga dan menjadi hari kemenangan bagi umat Muslim yang telah berhasil berpuasa serta beribadah selama satu bulan penuh di bulan Ramadan.
Lebaran tidak hanya identik dengan baju baru, kumpul keluarga, silaturahmi, THR, halal bihalal, mudik, dan menikmati berbagai hidangan khas. Namun, Lebaran juga berkaitan dengan diksi positif dalam kesehatan. Berikut tujuh hubungan antara Lebaran dan diksi positif dalam kesembuhan:
Pertama, Lebaran sebagai momen “kembali fitri” yang bermakna penguatan komitmen untuk sehat.
Saat Lebaran, kita kembali dalam keadaan suci dan bersih. Hal ini dapat dikaitkan dengan ajakan kepada pasien dan apoteker untuk memulai kembali pola hidup sehat, seperti rutin minum obat dan menjaga kesehatan.
Kedua, silaturahmi bermakna komunikasi terapeutik yang lebih hangat.
Momen ini menjadi kesempatan bagi apoteker dan pasien untuk menggunakan bahasa yang lebih ramah, empatik, serta membangun kedekatan emosional di antara keduanya.
Ketiga, saling memaafkan bermakna menghilangkan rasa takut atau bersalah.
Mayoritas pasien merasa bersalah karena tidak patuh minum obat secara rutin. Apoteker dapat menyampaikan semangat dan diksi positif seperti, “tidak apa-apa untuk memulai kembali,” sehingga pasien tidak merasa dihakimi dan semakin termotivasi oleh kepedulian apoteker.
Keempat, berbagi kebahagiaan.
Apoteker dapat berbagi kebahagiaan dengan memberikan edukasi kesehatan yang menyenangkan. Edukasi obat dan kesehatan disampaikan dengan pendekatan yang ringan, penuh semangat positif, serta memotivasi pasien.
Kelima, kebersamaan keluarga.
Pasien memperoleh dukungan penuh dari keluarga terkait kepatuhan terapi. Momen berkumpul bersama keluarga menjadi sarana untuk saling mengingatkan agar rutin minum obat dan saling menyemangati, sehingga tercapai kesehatan bersama keluarga tercinta—sehat satu keluarga.
Keenam, hidangan Lebaran bermakna edukasi penggunaan obat dan pola makan.
Saat Lebaran identik dengan makanan tinggi lemak dan gula. Apoteker dapat memberikan edukasi dengan diksi positif seperti, “nikmati secukupnya, jaga keseimbangan,” dibandingkan larangan yang terkesan keras dan membuat pasien tidak nyaman.
Ketujuh, harapan baru setelah Lebaran sebagai motivasi untuk hidup lebih sehat.
Lebaran menjadi simbol awal untuk memulai hal baru dalam hidup, terutama dalam menjaga kesehatan diri. Momentum ini dapat memotivasi diri menjadikan Lebaran sebagai langkah awal menuju hidup yang lebih sehat dan berkualitas.
Ketujuh hubungan tersebut saling berkaitan antara Lebaran dan diksi positif yang dapat diterapkan dengan mudah dan ringan. Setelah satu bulan penuh kita dididik untuk menjaga lisan, pikiran, dan hati, kini saatnya mengaplikasikannya pasca-Lebaran dengan menjadikan diksi positif sebagai bagian dari keseharian—memotivasi diri untuk lebih sehat dan taat dalam minum obat.













