Informasi
Hubungi Redaksi IAINews melalui email : humas@iai.id
Floating Left Ads
Floating Right Ads
banner 950x90

Ismafarsi Kalimantan Sukses Gelar Webinar Entrafarma

Penulis: Dr. apt. Eka Siswanto Syamsul, M.Sc (Tim Media Nasional PP IAI/PD IAI Kalimantan Timur)Editor: apt. Dra Tresnawati
banner 120x600
banner 468x60

SAMARINDA, IAINews –  Ikatan Senat Mahasiswa Farmasi (Ismafarsi) Kalimantan sukses menyelenggarakan webinar kewirausahaan bertajuk “Entrafarma: Entrepreneurship Kefarmasian Membangun Peluang Usaha Berbasis Ilmu Kefarmasian” pada Minggu, 1 Maret 2026.

Acara yang berlangsung secara virtual melalui platform Zoom Meeting ini diikuti oleh 80 peserta mahasiswa farmasi seluruh Kalimantan.

Iklan ×

Webinar menghadirkan dua pemateri dari Pengurus Daerah Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Kaltim, yaitu Dr. apt. Eka Siswanto Syamsul, M.Sc (dosen di STIKES Samarinda, pengurus MUI Samarinda) dan apt. Ahmad Sholeh Wahyudi, S.Farm. (apoteker dan pengusaha Apotek).

Kegiatan ini dimoderatori oleh Arundina Khaisya Erzha  serta M. Arif Novriyan Nur sebagai Master of Ceremony yang turut mendukung jalannya acara.

Ketua Ismafarsi Kalimantan Andi Fatir Rahmaniar menyampaikan melalui webinar ini, Ismafarsi Kalimantan berharap dapat membekali mahasiswa farmasi dan calon wirausaha farmasi dengan pemahaman regulasi yang komprehensif, sekaligus membuka peluang kolaborasi dan networking di sektor kefarmasian.

Dalam pemaparannya, Dr. apt. Eka Siswanto Syamsul menyoroti pentingnya pemahaman regulasi bagi pelaku usaha farmasi, terutama dalam menghadapi dinamika perizinan berbasis risiko dan kewajiban sertifikasi halal.

Baca Juga  Kuliah Pakar Mobility Program Obat Apps: Dr. Eka Siswanto Syamsul Ungkap Potensi Pidada Merah di Universitas Muhammadiyah Mataram

Apt. Eka Siswanto memaparkan secara rinci tentang klasifikasi usaha obat tradisional di Indonesia, mulai dari Usaha Mikro Obat Tradisional (UMOT), Usaha Kecil Obat Tradisional (UKOT), Industri Obat Tradisional (IOT), hingga Industri Farmasi yang memproduksi Obat Herbal Terstandar (OHT) dan Fitofarmaka.

“Setiap skala usaha memiliki standar yang berbeda. UMOT hanya diperbolehkan memproduksi sediaan sederhana seperti rajangan atau rebusan, sementara IOT dan industri farmasi wajib menerapkan CPOTB secara penuh. Ini penting untuk menjamin mutu dan keamanan produk,” jelasnya.

Selanjutnya Dr. Eka menekankan peran strategis apoteker dalam mendukung sertifikasi halal, terutama dengan akan diberlakukannya kewajiban sertifikasi halal penuh untuk produk farmasi mulai 17 Oktober 2026 berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2024.

“Apoteker dapat berperan sebagai pendamping bagi usaha mikro dan kecil (UMK) dalam memverifikasi kehalalan produk melalui skema self-declare. Selain itu, apoteker juga bisa menjadi penyelia halal di perusahaannya, atau bahkan auditor halal yang bekerja sama dengan BPJPH, LPH, dan MUI,” ujar Dr. Eka.

Baca Juga  Seminar Nasional Farmasi STIKSAM: Era Kosmetik yang Aman dan Berkelanjutan

Ia menegaskan bahwa sertifikasi halal tidak hanya menjamin aspek spiritual, tetapi juga meningkatkan daya saing produk di pasar domestik dan global, terutama di negara dengan mayoritas penduduk muslim.

Sesi kedua oleh apt. Ahmad Sholeh Wahyudi, S.Farm. menyampaikan materi bertajuk ‘Mindset Entrepreneur Farmasis, Strategi Pemasaran Digital dan Branding Produk’, ia menekankan bahwa apoteker tidak hanya dituntut kompeten di bidang kefarmasian, tetapi juga harus memiliki jiwa kewirausahaan untuk melihat dan memanfaatkan peluang bisnis.

Menurutnya, mindset entrepreneur menjadi fondasi utama bagi farmasis yang ingin sukses di era industri 4.0, di mana inovasi dan keberanian mengambil risiko menjadi kunci diferensiasi di tengah persaingan yang semakin ketat.

Lebih lanjut, apt. Ahmad Sholeh memaparkan pentingnya strategi pemasaran digital dalam membangun branding produk kefarmasian.

Ia menjelaskan bahwa di era serba digital, pemanfaatan media sosial, marketplace, dan konten edukatif dapat menjadi sarana efektif untuk menjangkau konsumen secara luas.

Baca Juga  Lembaga Dakwah Kampus As-Syifa STIKSAM Adakan Kegiatan Kajian Mentoring

“Farmasis harus melek teknologi. Branding produk tidak cukup hanya dengan logo menarik, tetapi juga bagaimana kita membangun kepercayaan masyarakat melalui konten yang informatif dan komunikatif,” ujarnya.

Apt. Ahmad Sholeh juga menyoroti peran jejaring atau networking sebagai aset berharga dalam mengembangkan usaha, karena kolaborasi dengan sesama profesional dan pelaku industri dapat membuka akses pasar dan sumber daya baru.

Di akhir sesi, apt. Ahmad Sholeh mengajak peserta untuk tidak takut memulai usaha meski dari skala kecil, asalkan dibekali dengan ilmu yang tepat dan kemauan untuk terus belajar.

Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan seputar tantangan praktik pemasaran digital di bidang farmasi serta tips membangun personal branding sebagai apoteker entrepreneur.

Melalui pemaparan ini, peserta webinar dibekali wawasan aplikatif yang diharapkan mampu mendorong lahirnya wirausaha-wirausaha farmasi muda yang inovatif dan berdaya saing tinggi di kancah nasional.***

banner 325x300
```

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

banner 950x90