Medan, IAINews — Pasca surutnya banjir yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang, persoalan baru kini muncul dan menimbulkan kekhawatiran warga. Genangan air sisa banjir yang masih bertahan di sekitar permukiman menjadi tempat ideal bagi nyamuk untuk berkembang biak, meningkatkan risiko gangguan kesehatan bagi para korban, terutama saat malam hari.
Warga mengaku kesulitan beristirahat karena serangan nyamuk yang semakin masif. Gigitan nyamuk tidak hanya menimbulkan rasa tidak nyaman, tetapi juga memicu kekhawatiran akan potensi penyakit, khususnya pada anak-anak dan kelompok rentan.
Salah seorang warga Dusun Al Ihsan, Desa Kotalintang, Kecamatan Kualasimpang, yang enggan disebutkan namanya, menuturkan bahwa serangan nyamuk terjadi hampir sepanjang malam.
“Setiap malam nyamuk sangat banyak, kami dan anak-anak sulit tidur. Kami takut dampaknya ke kesehatan,” ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan warga lainnya, termasuk Ijan, yang secara langsung menyampaikan permohonan bantuan kepada Relawan Apoteker Tanggap Bencana (ATB). Menurutnya, kelambu menjadi kebutuhan mendesak bagi warga untuk melindungi keluarga dari gigitan nyamuk saat beristirahat.

Merespons permintaan tersebut, Tim ATB yang berjumlah enam orang, didampingi empat perwakilan Pengurus Daerah Ikatan Apoteker Indonesia (PD IAI) Sumatera Utara, bergerak cepat menyalurkan bantuan. Sebanyak 50 unit kelambu dibagikan kepada warga terdampak banjir di Dusun Al Ihsan.
Bantuan tersebut disambut antusias oleh warga. Mayoritas penerima merupakan ibu rumah tangga yang merasa sangat terbantu dengan adanya kelambu. Bahkan, di tengah proses pembagian bantuan, terdengar ungkapan spontan dari warga seperti, “Hidup apoteker, semoga murah rezekinya,” sebagai bentuk apresiasi dan rasa terima kasih.
Salah seorang relawan ATB, Apt. Zubaedah Bahri, yang akrab disapa Edha, mengungkapkan bahwa pembagian kelambu ini memang sangat dinantikan warga sejak beberapa hari terakhir.
“Antusiasme warga sangat tinggi. Antrian membludak, namun kami harus akui masih banyak warga yang belum mendapatkan kelambu karena keterbatasan stok, dan kami berjanji akan menambah lagi stok diesok hari” jelasnya.
Edha menambahkan, kondisi ini menjadi catatan penting bagi para relawan kemanusiaan dan lembaga sosial lainnya. Menurutnya, bantuan pasca-banjir tidak hanya berfokus pada makanan dan pakaian, tetapi juga pada upaya pencegahan penyakit.
“Kelambu seharusnya menjadi salah satu bantuan prioritas di wilayah pascabanjir seperti Aceh Tamiang. Ini bisa menjadi referensi bagi relawan lain yang akan menyalurkan bantuan ke sini,” pungkasnya. (TMN)












