Medan, IAINews — Banjir besar yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang selama dua pekan terakhir tidak hanya merusak infrastruktur dan mengisolasi sejumlah wilayah, tetapi juga menimbulkan persoalan serius pada aspek kesehatan masyarakat. Hingga hari ke-15 pasca banjir, sejumlah fasilitas kesehatan masih lumpuh, sementara warga mulai mengeluhkan berbagai penyakit akibat kondisi lingkungan yang belum pulih.

Di tengah situasi yang memprihatinkan ini, Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia (PP IAI), Apt. Nofendri, turun langsung ke lokasi terdampak pada Jumat, 12 Desember 2025, untuk menyalurkan bantuan sekaligus melihat lebih dekat kondisi warganya.

Layanan Kesehatan Belum Pulih
Dalam wawancara dengan IAINews, Apt. Nofendri mengungkapkan keprihatinan mendalam atas situasi yang ditemuinya. Menurutnya, pemulihan fasilitas kesehatan berjalan sangat lambat, bahkan beberapa puskesmas masih belum beroperasi sama sekali.
“Masih ada puskesmas yang belum tersentuh pembersihan dan tidak dapat beroperasi hingga hari ini. Ini berarti warga tidak memiliki akses cepat terhadap layanan kesehatan yang seharusnya menjadi prioritas pasca bencana,” tegasnya.
Keterbatasan layanan tersebut dinilai berpotensi meningkatkan risiko penyakit pasca banjir seperti infeksi kulit, diare, penyakit saluran pernapasan, hingga luka yang tidak mendapat penanganan tepat waktu.
Kebutuhan Mendesak Warga
Banjir yang menggenangi banyak permukiman selama berhari-hari membuat warga kesulitan mendapatkan kebutuhan dasar. Selain makanan dan air bersih, kondisi lingkungan yang kotor mempercepat munculnya keluhan kesehatan.

Fauzan, seorang warga Jalan Puskesmas Kotalintang, Kecamatan Kualasimpang, mengungkapkan bahwa banyak warga mulai mengalami gatal-gatal, luka terinfeksi, hingga demam.
“Kami sangat terbantu dengan bantuan IAI, terutama air bersih, makanan cepat saji, perlengkapan ibadah, dan obat-obatan. Itu semua yang paling dibutuhkan warga sekarang,” ujarnya.

Fauzan menambahkan bahwa bantuan kesehatan harus segera diperkuat, karena kondisi saat ini rawan memicu wabah penyakit.
Langkah Cepat IAI: ATB Dikerahkan
Menyadari kondisi kritis tersebut, Apt. Nofendri menginstruksikan Apoteker Tanggap Bencana (ATB) untuk segera berkoordinasi dengan pihak terkait, termasuk pemerintah daerah dan relawan lokal, guna menyiapkan Posko Kesehatan ATB.

Posko tersebut nantinya diharapkan menjadi pusat layanan kesehatan darurat yang mampu memberikan:
-
pemeriksaan kesehatan dasar,
-
penanganan luka ringan,
-
distribusi obat-obatan esensial,
-
edukasi sanitasi dan pencegahan penyakit pasca banjir.
Langkah ini diambil sebagai respons cepat atas minimnya fasilitas kesehatan yang berfungsi secara optimal.
Tantangan Pemulihan
Pengamatan langsung di lapangan menunjukkan bahwa pemulihan pasca banjir tidak hanya menyangkut pembersihan fisik, tetapi juga penataan ulang layanan dasar, terutama kesehatan.

Beberapa tantangan yang teridentifikasi antara lain:
-
kurangnya tenaga kesehatan di lokasi terdampak,
-
fasilitas kesehatan yang rusak atau tidak berfungsi,
-
keterbatasan logistik obat dan alat kesehatan,
-
kualitas air yang belum pulih dan berisiko menimbulkan penyakit,
-
minimnya edukasi kesehatan bagi warga yang tinggal di pengungsian.
Kondisi tersebut mempertegas perlunya kolaborasi berbagai pihak dalam menangani dampak banjir secara komprehensif.
Harapan untuk Penanganan yang Lebih Cepat
Di akhir kunjungannya, Apt. Nofendri menyampaikan harapan agar pemulihan layanan kesehatan dapat dipercepat dalam beberapa hari ke depan.
“Prioritas kita adalah memastikan warga mendapatkan akses layanan kesehatan dasar sesegera mungkin. Semoga dalam waktu dekat ada perubahan signifikan yang dirasakan masyarakat,” tuturnya.

Warga Aceh Tamiang pun berharap dukungan tidak berhenti pada tahap tanggap darurat saja, tetapi berlanjut hingga pemulihan lingkungan dan kesehatan masyarakat benar-benar pulih. (TMN)












