IMUNISASI telah lama menjadi pilar utama dalam perlindungan kesehatan masyarakat global. Namun di tengah manfaat besarnya, istilah ’KIPI’ atau Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi sering kali memicu kecemasan.
Munculnya demam ringan atau nyeri di area bekas suntikan sering disalahartikan sebagai tanda bahwa vaksin berbahaya, padahal kenyataannya sering kali justru sebaliknya.
KIPI itu sebenarnya apa sih?
KIPI adalah istilah untuk setiap kejadian medis yang terjadi setelah seseorang menerima imunisasi.
Penting untuk dipahami bahwa tidak semua KIPI disebabkan oleh isi dari vaksin. Secara garis besar, KIPI terbagi menjadi dua: reaksi produk vaksin dan kejadian koinsidental.
Reaksi produk vaksin adalah respon alami tubuh saat membentuk sistem kekebalan tubuh. Contohnya seperti demam, kemerahan, atau pegal-pegal.
Reaksi-reaksi tersebut muncul sebagai tanda bahwa sistem imun tubuh kita sedang berlatih untuk mengenali virus atau bakteri yang ditujukan dari penggunaan vaksin tersebut.
Hal ini serupa dengan nyeri dan rasa pegal yang sering kita rasakan setelah berolahraga, sebagai akibat dari otot yang sedang dilatih.
Sedangkan kejadian koinsidental adalah kejadian setelah imunisasi tetapi sebenarnya disebabkan oleh faktor lain, seperti kondisi kesehatan yang memang sudah ada sebelumnya.
Untuk memahaminya kita coba bayangkan, seseorang baru saja mengganti ban mobilnya di pagi hari. Sore harinya, mesin mobil tersebut mogok.
Apakah ban baru itu yang menyebabkan mesin mogok? Tentu tidak. Keduanya terjadi di hari yang sama, namun tidak memiliki hubungan sebab-akibat.
Begitu pula dengan tubuh manusia, di mana jutaan proses biologis terjadi setiap detik.
Kejadian koinsidental ini sering menjadikan imunisasi sebagai ’kambing hitam’. Sering kali seseorang telah terpapar mikroba lain (seperti virus flu atau diare) sebelum jadwal imunisasi, atau bahkan kondisi medis kronis yang tak terdeteksi, sehingga saat gejalanya muncul 1-2 hari kemudian (bertepatan dengan waktu setelah vaksin) maka vaksin dianggap sebagai pemicu kondisi tersebut.
Kondisi psikis seperti stres akibat rasa takut berlebihan terhadap jarum suntik yang dapat memicu pusing atau pingsan, juga sering dikategorikan sebagai kejadian koinsidental.
Jadi apakah vaksinasi itu aman?
Keamanan vaksin dipantau dengan sangat dekat, bahkan jauh lebih ketat dibandingkan obat-obatan biasa.
Risiko komplikasi serius akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (seperti campak, polio, meningitis, kanker serviks, atau pneumonia) jauh lebih besar dan berbahaya dibandingkan risiko KIPI itu sendiri. Sebagian besar KIPI bersifat ringan dan akan hilang dengan sendirinya dalam waktu 1-3 hari.
Banyak orang khawatir tentang kandungan di dalam vial vaksin. Penting untuk diketahui bahwa setiap tetes vaksin telah melalui uji klinis berlapis dan sangat ketat sebelum sampai ke pasien.
BPOM tidak akan mengeluarkan izin edar jika manfaatnya tidak jauh lebih besar dibandingkan risikonya.
Selain itu, bahan-bahan pendukung dalam vaksin hanya ada dalam jumlah sangat kecil.
Keamanan vaksin terus dipantau bahkan setelah diproduksi selama puluhan tahun, sama seperti obat-obatan lainnya.
Terdapat lembaga khusus pengawas KIPI, yaitu Komisi Nasional Pengkajian dan Penanggulangan KIPI (Komnas PP-KIPI), yang terus memantau setiap laporan, sehingga keamanan masyarakat tetap menjadi prioritas utama bahkan setelah program imunisasi berjalan.
Apakah KIPI bisa ditangani di rumah?
Ya, tentu bisa. Jika mengalami gejala setelah imunisasi, jangan terburu-buru panik. Langkah-langkah berikut dapat dilakukan:
- Kompres dingin dengan menggunakan kain bersih dan air dingin pada area bekas suntikan jika terasa nyeri atau bengkak.
- Istirahat dan konsumsi cairan yang cukup agar menjamin tubuh terhidrasi dengan baik.
- Gunakan obat pereda gejala jika terjadi respon tubuh berupa demam, seperti parasetamol, dengan dosis yang sesuai.
- Pantau dan laporkan segera ke fasilitas kesehatan terdekat, jika gejala memberat dan tak kunjung hilang.
Imunisasi bukan hanya pelindung diri sendiri, tetapi juga menjadi perisai bagi perlindungan komunitas.
Satu imunisasi adalah upaya yang besar dalam membentuk kekebalan suatu komunitas, perlindungan dan kepedulian bagi individu dengan gangguan kekebalan tubuh, seperti pasien HIV, pasien kanker yang sedang menjalani kemoterapi, pasien transplantasi organ, serta orang lansia, bayi yang baru lahir serta pasien penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi tak terkontrol.
Kekebalan komunitas atau kelompok, atau juga dikenal dengan istilah herd-immunity ini adalah tujuan utama dari kegiatan vaksinasi. Sebagai pagar pembatas yang melindungi kelompok rentan tersebut.
Kekhawatiran terhadap keamanan vaksin adalah hal yang sangat wajar. Karena secara alami manusia akan khawatir dan takut terhadap suatu hal yang tidak kita pahami sepenuhnya.
Oleh karena itu, jika ada pertanyaan atau kekhawatiran terhadap imunisasi, diskusikan dengan tenaga kesehatan terdekat.
Apoteker, sebagai tenaga kesehatan yang paling mudah ditemui masyarakat, siap memberikan informasi terkait vaksin dan penanganan KIPI yang tepat.***
