Site icon IAI NEWS

The Silent Killer Merebut Tahta Kematian Dunia: 1,23 Juta Jiwa Melayang Akibat Tuberkulosis pada 2024

IAINews — Si paling diam yang mengancam nyawa itu kembali merebut tahta sebagai penyakit menular paling mematikan di dunia. Laporan terbaru World Health Organization dalam Global Tuberculosis Report 2025 mencatat angka yang mengguncang sebanyak 1,23 juta orang meninggal dunia akibat Tuberkulosis (TBC) sepanjang tahun 2024.

Angka 1,23 juta bukan sekadar statistik. Ia adalah alarm keras bagi dunia. Lebih menyedihkan lagi, TBC sejatinya merupakan penyakit yang dapat dicegah dan disembuhkan secara tuntas apabila terdeteksi dan diobati dengan benar.

Data tahun 2024 menunjukkan, dari total 1,23 juta kematian tersebut, sekitar 150.000 kasus terjadi pada individu dengan infeksi tambahan HIV. Fakta yang lebih memprihatinkan sekitar 10,7 juta orang jatuh sakit akibat TBC pada tahun yang sama. Di sisi lain, jutaan kasus masih belum terdiagnosis, sementara resistensi obat terus meningkat menjadi ancaman serius bagi upaya pengendalian global.

Indonesia pun tidak luput dari sorotan. Berdasarkan Global Tuberculosis Report 2025, Indonesia menempati peringkat kedua dunia dengan estimasi 1,09 –1,1 juta kasus baru per tahun dan angka kematian mencapai sekitar 125.000 jiwa per tahun. Artinya, rata-rata 14 orang meninggal setiap jam akibat TBC di negeri ini.

Realitas tersebut menjadi tantangan besar bagi bangsa. Target eliminasi TBC pada 2030 bukan sekadar wacana, melainkan komitmen nasional yang membutuhkan kerja kolektif. Gerakan ini tidak akan berhasil tanpa dukungan luas dari tenaga kesehatan, lintas sektor, serta partisipasi aktif masyarakat.

Kunci utama eliminasi TBC terletak pada dua hal mendasar: menghapus stigma terhadap penderita dan memastikan kepatuhan minum obat hingga tuntas. TBC bukan penyakit kutukan, bukan pula aib sosial. Ia adalah penyakit infeksi yang bisa disembuhkan dengan terapi yang tepat dan disiplin.

Kolaborasi yang sejalan antara tenaga kesehatan dan masyarakat menjadi fondasi menuju eliminasi TBC pada 2030. Edukasi yang berkelanjutan, deteksi dini, pengobatan yang terpantau, serta penguatan sistem layanan kesehatan harus terus diperkuat.

Saatnya kita tidak lagi menganggap TBC sebagai penyakit lama yang biasa. Ia adalah silent killer yang nyata.

Mari bersama menjadi bagian dari pejuang eliminasi TBC. Satu langkah kecil hari ini dapat menjadi lompatan besar bagi dunia yang lebih sehat esok hari.

Bebas TBC bukan sekadar slogan, melainkan warisan kesehatan untuk generasi mendatang.

Exit mobile version