JAMBI-IAINews- Setiap tanggal 1 Agustus, dunia sejenak berhenti untuk mengingat satu hal paling sederhana namun paling penting dalam hidup: Air Susu Ibu (ASI).
Tanggal ini bukan sekadar penanda awal bulan. Ia adalah simbol peringatan internasional—Hari ASI Sedunia, sebuah momen untuk merayakan kekuatan cinta seorang ibu, yang mengalir dalam bentuk cairan bening namun luar biasa kuat: ASI.
Jauh di tahun 1990, di sebuah kota tua bernama Florence, Italia, perwakilan negara-negara dunia bersama WHO dan UNICEF menandatangani Innocenti Declaration. Deklarasi ini menegaskan bahwa menyusui adalah hak dasar bayi dan harus dilindungi.

Dua tahun kemudian, tanggal 1 Agustus resmi ditetapkan sebagai awal Pekan Menyusui Dunia. Hingga kini, lebih dari 170 negara memperingatinya. Namun di luar semua seremoni, menyusui tetaplah tentang satu hal: cinta yang diberikan tanpa syarat.
Bagi sebagian orang, menyusui mungkin terlihat seperti hal yang biasa. Tapi jika kita menyelaminya lebih dalam, ada keajaiban yang menakjubkan. ASI bukan hanya makanan pertama bagi bayi—ia adalah pelindung pertama, obat pertama, bahkan pelukan pertama.
ASI, Perlindungan Pertama Seumur Hidup
Dalam satu tetes ASI, terdapat antibodi, sel darah putih, enzim, lemak baik, vitamin, dan hormon yang semuanya dirancang sempurna oleh tubuh ibu. Menurut penelitian terbaru, pemberian ASI eksklusif dapat menyelamatkan lebih dari 800 ribu nyawa bayi setiap tahun.
Bayi yang disusui secara eksklusif selama enam bulan terbukti lebih tahan terhadap infeksi, tidak mudah sakit, dan memiliki risiko lebih rendah terkena penyakit kronis seperti obesitas dan diabetes di masa depan.
Riset menyebutkan bahwa anak yang disusui cenderung memiliki tingkat kecerdasan kognitif lebih tinggi. Tapi manfaat ASI tidak hanya berbicara tentang tubuh. Ia juga menyentuh hal-hal yang tidak kasat mata: perasaan, emosi, dan hubungan batin.
Ada Ketenangan di Balik Sentuhan,
Menyusui adalah proses dua arah. Saat bayi menyusu, tubuh ibu mengeluarkan hormon oksitosin, yang memberi rasa tenang, nyaman, dan bahagia. Hormon ini bukan hanya membantu keluarnya ASI, tapi juga menciptakan perasaan kedekatan yang dalam antara ibu dan anak.
Bayi yang disusui langsung cenderung merasa lebih aman dan lebih tenang. Ia mengenali bau ibunya, merasakan sentuhan hangatnya, dan belajar percaya bahwa dunia ini adalah tempat yang bisa diandalkan. Inilah fondasi psikologis pertama dalam hidup seorang manusia. Tak hanya bermanfaat bagi bayi, juga banyak manfaat untuk ibu.

Tantangan Itu Nyata, Tapi Bisa Dihadapi
Sayangnya, menyusui bukan selalu perjalanan yang mudah. Ada ibu yang kesulitan karena ASI seret, puting nyeri, bayi sulit menempel, hingga tekanan mental dari orang sekitar yang kurang memahami. Banyak ibu merasa gagal hanya karena tidak bisa langsung menyusui dengan lancar.
Padahal menyusui adalah proses belajar—baik bagi ibu maupun bayi. Yang dibutuhkan bukan penghakiman, tapi dukungan.
Agar Menyusui Lebih Lancar: Tips yang Perlu Diingat
- Mulailah dengan Inisiasi Menyusu Dini segera setelah bayi lahir.
- Susui bayi sesuai kebutuhan, jangan terpaku pada jam.
- Pastikan posisi dan pelekatan bayi benar agar ibu tidak nyeri dan ASI keluar efektif.
- Cukupi minum air dan istirahat, karena kelelahan dan dehidrasi bisa menghambat produksi ASI.
- Tenangkan pikiran. Suasana hati ibu sangat berpengaruh pada kelancaran ASI.
Kembali ke Alam: Pelancar ASI dari Tanaman Sekitar
Alam menyediakan banyak tanaman yang dipercaya bisa membantu memperlancar ASI:
- Daun katuk: sudah turun-temurun dikenal sebagai sayur wajib ibu menyusui.
- Daun kelor: kecil daunnya, tapi kaya nutrisi dan sangat baik untuk stamina ibu.
- Pare: pahit rasanya, tapi dipercaya bisa merangsang hormon laktasi.
- Daun bangun-bangun: tanaman khas Batak ini biasa diolah jadi sayur untuk ibu baru melahirkan.
- Jinten hitam: sering dikonsumsi sebagai kapsul, mendukung sistem imun dan ASI.
Tapi perlu diingat, meski alami, penggunaannya tetap sebaiknya dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan.
Peran Semua Pihak: Menyusui Bukan Tugas Ibu Saja
Mendukung ibu menyusui bukan cuma tugas rumah sakit atau petugas kesehatan. Ini adalah tanggung jawab semua orang: suami yang menemani, keluarga yang menguatkan, atasan yang memberi waktu, dan masyarakat yang tidak menghakimi.
Karena pada akhirnya, setiap tetes ASI adalah benih kehidupan, cinta, dan masa depan. Hari ASI Sedunia bukan hanya perayaan, tapi pengingat—bahwa di dada seorang ibu, ada sumber kehidupan yang tak tergantikan.***



















