Site icon IAI NEWS

Tetap Bertahan dengan Diksi Positif

BAYANGKAN kita sedang berusaha sembuh dari sakit yang sudah lama diderita. Setiap hari, kita berjuang minum obat, menjaga pola makan, dan berusaha tetap semangat.

Suatu hari, kita bercerita kepada teman tentang progres kesembuhan, lalu ia merespons, “Ah, kayaknya kamu nggak bakal sembuh deh. Penyakit itu kan susah sembuhnya.”

Kata-kata itu seperti hujan deras yang tiba-tiba mengguyur ketika kita baru saja melihat matahari. Rasanya sedih, kecewa, bahkan bisa bikin semangatmu turun drastis.

Tapi di saat seperti itulah, pilihan ada di tangan kita. Apakah kita akan ikut larut dalam kata-kata negatif itu, atau tetap bertahan dengan diksi positif untuk diri sendiri?

Diksi positif bukan hanya soal berbicara hal-hal yang manis dan menyenangkan. Lebih dari itu, ia adalah cara untuk menjaga pikiran dan hati agar tetap kuat. Kata-kata yang kita ucapkan bisa memengaruhi cara otak bekerja.

Ketika kita berkata pada diri sendiri, “Aku sedang dalam proses sembuh. Aku kuat dan mampu melewati ini,” tubuh kita ikut merespons. Kita jadi lebih semangat menjalani pengobatan, lebih telaten minum obat, dan lebih sabar dengan proses kesembuhan. Sebaliknya, kalau kita mulai ikut-ikutan berkata negatif, semangat kita bisa runtuh. Rasanya seperti kehilangan arah, dan itu bisa membuat proses kesembuhan jadi terasa lebih berat. Tidak semua orang bisa memahami perjuangan kita. Ada yang mungkin tanpa sadar memberikan komentar yang menjatuhkan. Misalnya, “Percuma aja minum obat kalau nggak sembuh-sembuh,” atau, “Mending pasrah aja deh.”

Kata-kata seperti ini memang menyakitkan, tapi ingat, sering kali komentar itu muncul dari ketidaktahuan, bukan dari niat jahat. Mereka mungkin tidak benar-benar paham tentang penyakit, atau tidak tahu bagaimana mendukung dengan cara yang tepat.

Maka dari itu, jangan biarkan komentar negatif itu merusak semangat. Kita tetap punya kendali atas apa yang kita ucapkan dan pikirkan. Tetaplah gunakan diksi positif dengan cara, antara lain:

Pertama, berikan batas pada diri. Kalau ada orang yang sering berkata negatif, batasi waktu bersamanya. Kita berhak melindungi kesehatan mental. Kedua, balas dengan diksi positif. Misalnya saat ada yang berkata, “Kayaknya penyakitmu susah sembuh,” kita jawab, “Aku percaya aku bisa sembuh, dan aku sedang berusaha sebaik mungkin.”

Ketiga, ulangi afirmasi diksi positif setiap hari. Setiap bangun tidur atau sebelum tidur, katakan hal-hal yang menenangkan dirimu. Seperti, “Aku semakin sehat setiap hari,” atau, “Aku kuat dan berharga.” Keempat, cari dukungan yang benar. Berbicaralah dengan orang-orang yang benar-benar mendukung, seperti keluarga yang memahami, sahabat, atau tenaga kesehatan yang peduli.

Kesembuhan bukan hanya tentang obat yang diminum, tapi juga tentang kondisi hati dan pikiran. Diksi positif bisa jadi “obat” yang membantu kita lebih kuat menghadapi rasa sakit, bahkan ketika orang lain tidak mendukung.

Ingat, kata-kata itu seperti benih. Kalau kita menanam kata-kata positif di pikiran, kita akan menuai kekuatan dan harapan. Tapi kalau kita membiarkan kata-kata negatif menguasai diri yang tumbuh adalah rasa putus asa. Pada akhirnya, kesembuhan adalah perjalanan yang unik untuk setiap orang.

Tidak semua orang akan mengerti apa yang kita rasakan. Tapi kita bisa memilih untuk tetap memelihara diri sendiri dengan kata-kata yang penuh semangat. Jadi, walau ada suara-suara negatif di luar sana, tetaplah gunakan diksi positif. Karena kadang, satu-satunya dukungan yang kita butuhkan, adalah kata-kata baik yang diucapkan untuk diri sendiri.***

Exit mobile version