<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ritual &#8211; IAI NEWS</title>
	<atom:link href="https://iainews.net/tag/ritual/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://iainews.net</link>
	<description>Portal Berita Ikatan Apoteker Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Thu, 12 Mar 2026 08:27:41 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.8.5</generator>

<image>
	<url>https://iainews.net/wp-content/uploads/2025/03/cropped-Untitled-1-32x32.jpg</url>
	<title>ritual &#8211; IAI NEWS</title>
	<link>https://iainews.net</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Puasa Ramadan Ditinjau dari Sains: Autofagi, Metabolisme, dan Mikrobiota Usus</title>
		<link>https://iainews.net/puasa-ramadan-ditinjau-dari-sains-autofagi-metabolisme-dan-mikrobiota-usus/</link>
					<comments>https://iainews.net/puasa-ramadan-ditinjau-dari-sains-autofagi-metabolisme-dan-mikrobiota-usus/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[apt Tresnawati Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Mar 2026 08:27:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Apoteker Menulis]]></category>
		<category><![CDATA[Aulia Yahya]]></category>
		<category><![CDATA[autofagi]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal internasional]]></category>
		<category><![CDATA[mikrobiota]]></category>
		<category><![CDATA[neurotropik]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[reset fisiologis]]></category>
		<category><![CDATA[ritual]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://iainews.net/?p=12183</guid>

					<description><![CDATA[BAGI ilmuwan gizi dan biologi sel, puasa Ramadan adalah contoh dry fasting unik: tidak makan...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>BAGI ilmuwan gizi dan biologi sel, puasa Ramadan adalah contoh dry fasting unik: tidak makan dan minum sejak subuh hingga magrib.</p>
<p>Selama satu dekade terakhir, penelitian global mencatat pola ini memicu rangkaian mekanisme biologis yang mensupport kesehatan seluler, metabolik, dan mental.</p>
<p>Ketika puasa berlangsung 12–16 jam, sel mengaktifkan autofagi—proses ‘memakan’ komponen rusak dan protein beracun. Yoshinori Ohsumi memenangkan Nobel Kedokteran 2016 untuk riset ini.</p>
<p><img data-dominant-color="eb6861" data-has-transparency="false" style="--dominant-color: #eb6861;" fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-12184 not-transparent" src="https://iainews.net/wp-content/uploads/2026/03/manfaat-puasa-Aulia-Yahya.jpg" alt="" width="930" height="857" /></p>
<p>Jurnal Cell Metabolism mencatat autofagi terpicu puasa berkala terkait pencegahan penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer dan Parkinson.</p>
<p>Studi di Journal of Applied Physiology melaporkan peningkatan sensitivitas reseptor insulin selama puasa, membantu menurunkan risiko diabetes tipe 2.</p>
<p>Data klinis Ramadan menunjukkan penurunan HbA1c dan resistensi insulin setelah 30 hari. Meta-analisis Journal of the American Heart Association menambahkan manfaat lipid: LDL dan trigliserida turun, HDL naik, serta tekanan darah sistolik-diastolik berkurang akibat asupan garam dan aktivitas simpatis yang menurun.</p>
<p>Nature Communications memuat temuan bahwa puasa Ramadan mengubah mikrobiota usus—meningkatkan bakteri baik Akkermansia muciniphila yang mendukung metabolisme sehat.</p>
<p>Penanda inflamasi C-Reactive Protein turut menurun, memungkinkan sistem imun fokus pada patogen eksternal.</p>
<p>Otak Ikut Mendapat ‘Pupuk’</p>
<p>Peneliti mencatat kenaikan BDNF (Brain-Derived Neurotrophic Factor) saat puasa; protein ini merangsang pertumbuhan neuron dan diduga berperan dalam perbaikan suasana hati serta penurunan kecemasan—sejalan dengan ketenangan spiritual Ramadan.</p>
<p>Intinya, puasa Ramadan bukan sekadar ritual. Ia menggabungkan disiplin waktu makan dengan efek biologis: autofagi, perbaikan metabolik, restrukturisasi mikrobiota, dan dukungan neurotropik.</p>
<p>Para ahli mengingatkan hasilnya optimal bila buka-dan sahur tetap bergizi seimbang, bukan berlebihan gula atau lemak.</p>
<p>Dengan pola itu, Ramadan bisa menjadi momentum tahunan &#8216;reset&#8217; fisiologis yang dibuktikan jurnal internasional.***</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://iainews.net/puasa-ramadan-ditinjau-dari-sains-autofagi-metabolisme-dan-mikrobiota-usus/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
