<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>resistensi antimikroba &#8211; IAI NEWS</title>
	<atom:link href="https://iainews.net/tag/resistensi-antimikroba/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://iainews.net</link>
	<description>Portal Berita Ikatan Apoteker Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 03 Mar 2026 13:33:33 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.8.8</generator>

<image>
	<url>https://iainews.net/wp-content/uploads/2025/03/cropped-Untitled-1-32x32.jpg</url>
	<title>resistensi antimikroba &#8211; IAI NEWS</title>
	<link>https://iainews.net</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Resistensi Antimikroba (AMR) &#8220;The Silent Pandemic&#8221;, Saat Luka Kecil Menjadi Vonis Mati.</title>
		<link>https://iainews.net/resistensi-antimikroba-amr-the-silent-pandemic-saat-luka-kecil-menjadi-vonis-mati/</link>
					<comments>https://iainews.net/resistensi-antimikroba-amr-the-silent-pandemic-saat-luka-kecil-menjadi-vonis-mati/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[apt Tresnawati Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 03 Mar 2026 13:33:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Apoteker Menulis]]></category>
		<category><![CDATA[AMR]]></category>
		<category><![CDATA[apoteker]]></category>
		<category><![CDATA[cabut gigi]]></category>
		<category><![CDATA[diagnosis]]></category>
		<category><![CDATA[infeksi ringan]]></category>
		<category><![CDATA[obat dewa]]></category>
		<category><![CDATA[resistensi antimikroba]]></category>
		<category><![CDATA[superbugs]]></category>
		<category><![CDATA[swamedikasi]]></category>
		<category><![CDATA[WHO]]></category>
		<category><![CDATA[Yuri Pratiwi]]></category>
		<category><![CDATA[Yuri Pratiwi Utami]]></category>
		<category><![CDATA[zat aktif]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://iainews.net/?p=11920</guid>

					<description><![CDATA[BAYANGKAN sebuah pagi di masa depan yang tidak terlalu jauh. Ketika seorang  anak pulang dengan...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>BAYANGKAN sebuah pagi di masa depan yang tidak terlalu jauh. Ketika seorang  anak pulang dengan lutut lecet setelah terjatuh saat bermain bola, atau Anda sendiri baru saja menjalani prosedur rutin seperti cabut gigi.</p>
<p>Sekarang ini, kita menganggap remeh kejadian-kejadian ini karena kita punya &#8220;peluru sakti&#8221; bernama antibiotik.</p>
<p>Namun, bayangkan jika di masa depan itu, dokter menatap Anda dengan wajah lesu dan berkata, &#8220;Maaf, tidak ada lagi obat yang mempan.&#8221;</p>
<p><img data-dominant-color="9d8c82" data-has-transparency="false" style="--dominant-color: #9d8c82;" fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-11921 not-transparent" src="https://iainews.net/wp-content/uploads/2026/03/Resistensi-Yuri-Pratiwi.jpg" alt="" width="942" height="1344" /></p>
<p>Apa yang dulunya hanya infeksi ringan kini berubah menjadi ancaman nyawa. Luka gores yang terinfeksi bakteri <em>Superbugs</em>—bakteri yang telah berevolusi menjadi kebal terhadap segala jenis obat—bisa memicu sepsis dan kegagalan organ dalam hitungan hari.</p>
<p>Ini bukan sekadar naskah film distopia atau fiksi ilmiah, ini adalah realitas yang sedang kita bangun secara perlahan namun pasti jika kita tidak segera berbenah.</p>
<p>Data dari seluruh dunia telah memberikan indikasi yang jelas. Resistensi antimikroba (AMR) dapat menyebabkan 10 juta kematian per tahun di seluruh dunia pada tahun 2050, menurut World Health Organization (WHO).</p>
<p>Tren ini bukan hanya angka di atas kertas di tempat kerja saya sebagai apoteker. Meskipun mereka telah menjalani satu rejimen pengobatan, pasien sering kembali dengan keluhan infeksi yang tidak sembuh.</p>
<p>Sebagai seorang apoteker yang berdiri di garis depan pelayanan kesehatan masyarakat, saya melihat langsung bagaimana &#8220;senjata&#8221; kita sedang tumpul.</p>
<p>Setiap kali seorang pasien memaksa membeli antibiotik untuk sekadar batuk-pilek biasa, atau ketika sebotol sirup antibiotik dibuang begitu saja ke saluran air karena anak sudah merasa baikan, kita sebenarnya sedang memberi panggung bagi bakteri untuk berevolusi.</p>
<p>Kita sedang mempertaruhkan efektivitas pengobatan modern demi kenyamanan sesaat.</p>
<p>Anatomi Krisis: Mengapa Senjata Kita Kini Tumpul?</p>
<p>Sebagai apoteker, saya sering kali merasa sedang menyaksikan &#8220;sabotase diri&#8221; kolektif terhadap kesehatan publik.</p>
<p>Resistensi antimikroba (Anti-Microbial Resistance/AMR) bukanlah bencana alam yang muncul begitu saja. Sebaliknya, AMR adalah krisis sistemik yang disebabkan oleh tiga kesalahan besar dalam sistem pengobatan kita.</p>
<p>Pertama : Budaya Swamedikasi yang Sesat &#8220;Obat Dewa&#8221; Tanpa Resep</p>
<p>Masalah pertama berakar pada mudahnya akses antibiotik di luar jalur resmi. Masih banyak masyarakat yang datang ke apotek atau toko obat dengan keyakinan bahwa antibiotik adalah &#8220;obat sapu jagat&#8221; untuk segala jenis demam.</p>
<p>Fenomena permintaan antibiotik tanpa resep—atau swamedikasi yang keliru—adalah hulu dari malapetaka ini.</p>
<p>Ketika antibiotik digunakan tanpa diagnosa medis yang tepat, kita tidak sedang membunuh bakteri jahat, melainkan sedang memberikan &#8220;latihan militer&#8221; bagi bakteri di dalam tubuh kita untuk mempelajari cara menangkal obat tersebut di masa depan.</p>
<p>Kedua : Ketidakpatuhan Pasien Menyisakan Musuh yang Lebih Kuat</p>
<p>Masalah kedua adalah perilaku &#8220;merasa sudah sembuh&#8221; yang menyesatkan. Banyak pasien berhenti meminum antibiotik segera setelah gejala klinis mereda, misalnya pada hari kedua atau ketiga, padahal durasi yang diresepkan adalah lima hari. Secara biologis, ini adalah tindakan yang sangat berbahaya.</p>
<p>Antibiotik bekerja secara bertahap; dosis awal biasanya hanya membunuh bakteri yang paling lemah.</p>
<p>Jika pengobatan dihentikan prematur, bakteri yang paling tangguh dan adaptif tetap hidup.</p>
<p>Mereka yang &#8220;selamat&#8221; inilah yang kemudian bermutasi, berkembang biak, dan menjadi <em>superbugs</em> yang tidak lagi mempan dengan antibiotik yang sama.</p>
<p>Kita tidak hanya gagal sembuh total, kita sedang membiarkan musuh yang lebih kuat untuk bangkit kembali.</p>
<p>Ketiga : Tekanan Psikologis dan &#8216;Overprescribing&#8217;</p>
<p>Terakhir, kita harus berani menyoroti dinamika di ruang praktik. Sering kali terjadi tekanan dari pasien kepada dokter atau klinisi untuk selalu pulang membawa &#8220;obat keras&#8221;.</p>
<p>Ada persepsi keliru bahwa kunjungan ke dokter belum lengkap jika tidak ada antibiotik dalam resepnya, meskipun diagnosanya jelas-jelas adalah infeksi virus seperti flu atau batuk pilek biasa yang tidak membutuhkan antibiotik sama sekali.</p>
<p>Tekanan psikologis ini sering kali berujung pada <em>overprescribing</em> (peresepan berlebih).</p>
<p>Antibiotik yang seharusnya menjadi &#8220;senjata pamungkas&#8221; justru digunakan sebagai &#8220;obat penenang&#8221; bagi kecemasan pasien.</p>
<p>Akibatnya, lingkungan kita dibanjiri oleh zat antimikroba yang sebenarnya tidak diperlukan, mempercepat laju evolusi bakteri menuju kekebalan total.</p>
<p>Peran Strategis Apoteker (<em>The Solution</em>)</p>
<ul>
<li>Gatekeeper &amp; Edukator: Apoteker bukan sekadar &#8220;tukang bungkus obat&#8221;, tapi penyaring terakhir yang memastikan indikasi sudah tepat.</li>
<li>Konseling Efektif: Menjelaskan pentingnya dosis, durasi, dan cara penyimpanan melalui metode <em>Three Prime Questions</em>.</li>
<li>Pengawasan Mutu: Memastikan rantai distribusi obat legal untuk menghindari antibiotik palsu atau substandar.</li>
</ul>
<p>Tantangan di Lapangan</p>
<ul>
<li>Dilema Etis vs Komersial: Tekanan ekonomi apotek vs kewajiban profesional menolak penjualan antibiotik tanpa resep.</li>
<li>Literasi Kesehatan: Tingkat pemahaman masyarakat yang masih menganggap antibiotik adalah &#8220;obat dewa&#8221; untuk segala penyakit.</li>
</ul>
<p>Rekomendasi Kebijakan &amp; Aksi</p>
<ul>
<li>Penguatan Regulasi: Penegakan hukum yang tegas terhadap peredaran antibiotik di sarana ilegal.</li>
<li>Kolaborasi Interprofesi: Sinergi antara dokter, apoteker, dan perawat (<em>One Health Approach</em>).</li>
<li>Kampanye Publik: Edukasi berkelanjutan yang tidak hanya dilakukan saat Pekan Kesadaran Antimikroba saja.</li>
</ul>
<p>Menjaga Warisan Medis: Harapan di Tengah Ancaman</p>
<p>Melawan resistensi antimikroba bukanlah peperangan yang bisa dimenangkan hanya di dalam laboratorium penelitian dengan menciptakan molekul obat baru.</p>
<p>Sejarah farmakologi telah mengajarkan kita bahwa laju penemuan antibiotik baru jauh lebih lambat dibandingkan kecepatan bakteri dalam bermutasi.</p>
<p>Jika kita hanya mengandalkan industri farmasi tanpa mengubah perilaku, kita akan terus kalah dalam perlombaan senjata biologis ini.</p>
<p>Harapan sejati justru terletak pada setiap lembar resep yang ditebus dan setiap dosis yang diminum dengan benar.</p>
<p>Langkah pertama menuju pemulihan sistem kesehatan kita dimulai dari kesadaran individu untuk menjadi <strong>&#8220;Pasien Bijak&#8221;</strong>.</p>
<p>Menjadi bijak berarti memahami bahwa tidak semua rasa sakit memerlukan antibiotik. Jadilah konsumen kesehatan yang kritis: tanyakan kepada dokter apakah antibiotik benar-benar diperlukan untuk diagnosa Anda, dan berdiskusilah dengan kami, para apoteker, mengenai cara penggunaan yang tepat.</p>
<p>Apoteker bukan sekadar penyedia obat; kami adalah mitra Anda dalam memastikan bahwa setiap miligram zat aktif yang masuk ke tubuh Anda memberikan efek terapetik maksimal tanpa menciptakan risiko resistensi di kemudian hari.</p>
<p>Kami mengajak seluruh masyarakat untuk tidak lagi memandang antibiotik sebagai komoditas biasa yang bisa dibeli bebas atau disisakan di kotak obat rumah tangga.</p>
<p>Perlakukanlah antibiotik sebagai aset berharga yang keberadaannya sangat krusial bagi keselamatan sesama.</p>
<p>Keputusan Anda untuk patuh menghabiskan dosis obat, atau keberanian Anda untuk tidak meminta antibiotik saat terkena flu, adalah kontribusi nyata bagi kesehatan global.</p>
<p>Pada akhirnya, ini bukan sekadar tentang menyembuhkan infeksi hari ini. Ini adalah tentang memastikan bahwa anak cucu kita kelak masih memiliki obat yang ampuh saat mereka membutuhkannya.</p>
<p>Kita tidak boleh membiarkan kemajuan medis selama satu abad terakhir sirna begitu saja karena kelalaian kita saat ini.</p>
<p><strong>Sebab, menjaga efektivitas antibiotik hari ini adalah satu-satunya cara kita menyelamatkan nyawa generasi masa depan.***</strong></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://iainews.net/resistensi-antimikroba-amr-the-silent-pandemic-saat-luka-kecil-menjadi-vonis-mati/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>PD IAI Lampung dan BBPOM Bandar Lampung Perkuat Sinergi Tingkatkan Kualitas Praktik Kefarmasian</title>
		<link>https://iainews.net/pd-iai-lampung-dan-bbpom-bandar-lampung-perkuat-sinergi-tingkatkan-kualitas-praktik-kefarmasian/</link>
					<comments>https://iainews.net/pd-iai-lampung-dan-bbpom-bandar-lampung-perkuat-sinergi-tingkatkan-kualitas-praktik-kefarmasian/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[apt Tresnawati Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 04 Nov 2025 04:03:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Apoteker Menulis]]></category>
		<category><![CDATA[Apotek Merah Putih]]></category>
		<category><![CDATA[apoteker]]></category>
		<category><![CDATA[Bagus Heri]]></category>
		<category><![CDATA[BBPOM Bandar Lampung]]></category>
		<category><![CDATA[fungsi pengawasan]]></category>
		<category><![CDATA[Nurma Suri]]></category>
		<category><![CDATA[pd iai lampung]]></category>
		<category><![CDATA[resistensi antimikroba]]></category>
		<category><![CDATA[Suwartini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://iainews.net/?p=9507</guid>

					<description><![CDATA[BANDAR LAMPUNG, IAINews — Dalam upaya memperkuat kolaborasi lintas lembaga dan meningkatkan mutu praktik kefarmasian di...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>BANDAR LAMPUNG, IAINews — Dalam upaya memperkuat kolaborasi lintas lembaga dan meningkatkan mutu praktik kefarmasian di wilayah Provinsi Lampung, PD IAI Lampung melaksanakan audiensi resmi dengan BBPOM di Bandar Lampung.</p>
<p>Kegiatan ini berlangsung di Aula Galaksi BBPOM (Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan) Bandar Lampung dan dihadiri oleh jajaran pimpinan kedua instansi.</p>
<p>Audiensi ini menjadi momentum penting dalam membangun sinergi antara profesi apoteker sebagai pelaksana pelayanan kefarmasian dan BBPOM sebagai lembaga pemerintah yang berwenang dalam pengawasan obat dan makanan.</p>
<p><img data-dominant-color="767069" data-has-transparency="false" style="--dominant-color: #767069;" decoding="async" class="size-medium wp-image-9509 aligncenter not-transparent" src="https://iainews.net/wp-content/uploads/2025/11/IAI-dan-BLOM-Lampung-250x190.avif" alt="" width="250" height="190" /></p>
<p>Melalui pertemuan ini, kedua pihak membahas berbagai isu strategis, termasuk implementasi Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, pendirian Apotek Merah Putih, hingga upaya bersama dalam pengendalian resistensi antimikroba di masyarakat.</p>
<p><strong>Menguatkan Sinergi dan Kolaborasi Profesi</strong></p>
<p>Pertemuan dibuka dengan sambutan dari Kepala BBPOM di Bandar Lampung, apt. Bagus Heri Purnomo, S.Si., yang menyampaikan apresiasi atas inisiatif PD IAI (Pengurus Daerah Ikatan Apoteker Indonesia) Lampung dalam menjalin komunikasi dan kerja sama yang konstruktif.</p>
<p>Dalam sambutannya, Bagus Heri menegaskan bahwa sinergi antara BBPOM dan IAI sangat diperlukan untuk memastikan mutu pelayanan kefarmasian dan pengawasan obat yang beredar di masyarakat.</p>
<p>“Kami menyambut baik langkah IAI Lampung yang datang untuk berdialog dan memperkuat koordinasi,’’ ungkap Bagus Heri.</p>
<p>‘’BBPOM memiliki fungsi pengawasan, sementara apoteker berada di garda depan pelayanan. Dengan komunikasi yang baik, kita bisa bersama-sama memastikan masyarakat memperoleh obat yang aman, bermutu, dan bermanfaat,” ujar Bagus Heri.</p>
<p>Sementara itu, Ketua PD IAI Lampung, apt. Suwartini, S.Si., M.Kes, dalam paparannya menjelaskan bahwa kegiatan audiensi ini merupakan bagian dari upaya PD IAI Lampung untuk memperluas jejaring kerja sama dengan instansi pemerintah, khususnya lembaga pengawas obat dan makanan.</p>
<p>Menurutnya, apoteker memiliki peran strategis dalam sistem kesehatan nasional, sehingga diperlukan dukungan kebijakan dan sinergi lintas sektor.</p>
<p>“Apoteker adalah bagian penting dari sistem pelayanan kesehatan. Kami ingin memastikan praktik kefarmasian di Lampung berjalan sesuai standar dan aturan yang berlaku, termasuk dalam mendukung pelaksanaan Undang-Undang Kesehatan yang baru. Untuk itu, komunikasi dengan BBPOM menjadi hal yang sangat penting,” ungkap Suwartini.</p>
<p><strong>Implementasi UU Kesehatan dan Apotek Merah Putih</strong></p>
<p>Salah satu topik utama dalam audiensi ini adalah pembahasan mengenai implementasi Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, yang membawa sejumlah perubahan mendasar dalam tata kelola pelayanan kesehatan, termasuk bidang kefarmasian.</p>
<p>UU tersebut menegaskan peran tenaga kefarmasian dalam menjamin mutu, keamanan, dan manfaat obat yang digunakan masyarakat.</p>
<p>Dalam konteks tersebut, PD IAI Lampung menekankan pentingnya kolaborasi dengan BBPOM dalam memastikan setiap apotek di wilayah Lampung mematuhi ketentuan perundang-undangan, terutama terkait distribusi obat keras dan antibiotik yang wajib menggunakan resep dokter.</p>
<p>Selain itu, dibahas pula tentang inisiatif pendirian Apotek Merah Putih, sebagai upaya pemerintah dalam memperluas akses masyarakat terhadap obat-obatan yang terjangkau dan bermutu.</p>
<p>Menurut Suwartini, pendirian Apotek Merah Putih perlu disiapkan secara matang, baik dari aspek regulasi, sumber daya manusia, maupun sistem distribusi obatnya.</p>
<p>“Kami ingin memastikan bahwa keberadaan Apotek Merah Putih nanti tidak hanya meningkatkan akses obat bagi masyarakat, tetapi juga tetap menjaga kualitas pelayanan kefarmasian yang profesional,” ujarnya.</p>
<p>Menanggapi hal tersebut, Kepala BBPOM Bagus Heri menyatakan dukungan terhadap inisiatif tersebut.</p>
<p>Ia menekankan bahwa BBPOM siap memberikan pendampingan dan pengawasan agar program Apotek Merah Putih di Lampung dapat berjalan sesuai prinsip keamanan dan kepatuhan regulasi.</p>
<p><strong>Komitmen Bersama Mengendalikan Resistensi Antimikroba</strong></p>
<p>Selain membahas kebijakan kefarmasian, pertemuan ini juga menyoroti isu resistensi antimikroba (<em>antimicrobial resistance</em>/AMR) yang semakin meningkat di Indonesia.</p>
<p>Resistensi antimikroba terjadi ketika mikroorganisme seperti bakteri menjadi kebal terhadap antibiotik, sehingga pengobatan menjadi tidak efektif dan meningkatkan risiko penyebaran penyakit infeksi yang lebih berat.</p>
<p>Kondisi ini telah menjadi perhatian serius pemerintah, yang kemudian menerbitkan Peraturan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Permenko PMK) Nomor 7 Tahun 2021 tentang Rencana Aksi Nasional Pengendalian Resistensi Antimikroba.</p>
<p>Tujuan dari kebijakan ini adalah meminimalkan munculnya mikroba resisten, memastikan ketersediaan antibiotik yang aman dan efektif, serta mendorong penggunaan antibiotik secara bijak.</p>
<p>Dalam audiensi tersebut, Bagus Heri menegaskan bahwa BBPOM memiliki tanggung jawab besar dalam pengawasan peredaran antibiotik.</p>
<p>“Kami harus memastikan tidak ada lagi penyerahan obat antibiotik tanpa resep dokter. Ini bukan sekadar aturan, tapi bentuk perlindungan terhadap keselamatan pasien dan masyarakat,” tegasnya.</p>
<p>PD IAI Lampung menyatakan siap mendukung langkah tersebut melalui edukasi kepada apoteker dan masyarakat.</p>
<p>“Kami terus mendorong para apoteker untuk berperan aktif dalam edukasi penggunaan antibiotik yang rasional. Ini bagian dari tanggung jawab profesi,” tambah Suwartini.</p>
<p><strong>Program Infokom BBPOM: Edukasi dan Pemberdayaan Masyarakat</strong></p>
<p>Sebagai bagian dari kerja sama yang lebih luas, BBPOM di Bandar Lampung juga memaparkan sejumlah program kerja bidang Informasi dan Komunikasi (Infokom) yang fokus pada pemberdayaan masyarakat.</p>
<p>Salah satu program unggulan yang akan segera dilaksanakan adalah kegiatan SUNMORFE (<em>Sunday Morning For Everyone</em>) di area <em>Car Free Day</em> (CFD) Kota Bandar Lampung.</p>
<p>Kegiatan ini mengusung tema <em>‘Pencegahan Resistensi Antibiotik dan Ayo Buang Sampah Obat (ABSO) dengan Benar’. </em></p>
<p>Program ABSO merupakan pilot project BPOM yang pertama kali diluncurkan pada tahun 2019 di beberapa provinsi di Indonesia, namun hingga saat ini belum pernah dilaksanakan di Provinsi Lampung.</p>
<p>Oleh karena itu, kegiatan ini menjadi langkah awal penting untuk memperkenalkan gerakan nasional tersebut kepada masyarakat Lampung.</p>
<p>Menurut Bagus Heri, program ABSO memiliki dua tujuan utama: melindungi lingkungan dari bahaya limbah obat, dan mencegah penyalahgunaan obat yang sudah tidak layak konsumsi.</p>
<p>“Banyak masyarakat yang belum tahu bahwa obat kadaluwarsa atau sisa antibiotik tidak boleh dibuang sembarangan. Limbah obat bisa mencemari air dan tanah, bahkan bisa disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab,” jelasnya.</p>
<p>Melalui program ini, BBPOM berencana menempatkan <em>dropbox</em> sampah obat di setiap apotek sebagai sarana masyarakat untuk membuang obat sisa atau kedaluwarsa.</p>
<p>Nantinya, obat-obatan tersebut akan dikumpulkan dan dimusnahkan secara aman melalui kerja sama dengan pihak ketiga. Pendanaan kegiatan ini akan melibatkan dana <em>Corporate Social Responsibility</em> (CSR).</p>
<p>PD IAI Lampung menyambut baik program tersebut dan menyatakan kesiapan untuk berkolaborasi dalam pelaksanaannya.</p>
<p>“Kami siap membantu sosialisasi program ABSO di jaringan apotek yang dikelola oleh anggota IAI di seluruh Lampung. Ini bagian dari komitmen kami untuk mendukung praktik kefarmasian yang beretika dan berwawasan lingkungan,” kata Suwartini.</p>
<p>Dalam kesempatan tersebut, kedua pihak menekankan pentingnya keberlanjutan kolaborasi, tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga diimplementasikan dalam kegiatan nyata di lapangan.</p>
<p>“Kita tidak boleh berhenti hanya pada pertemuan. Sinergi harus diwujudkan dalam aksi konkret agar manfaatnya dirasakan oleh masyarakat,” ujar Bagus Heri di akhir pertemuan.</p>
<p><strong>Harapan untuk Kefarmasian Lampung yang Lebih Baik</strong></p>
<p>Sebagai penutup, Ketua PD IAI Lampung, apt. Suwartini, menyampaikan apresiasi dan harapan agar sinergi antara IAI dan BBPOM terus terjalin dengan baik.</p>
<p>Ia meyakini bahwa kolaborasi lintas lembaga adalah kunci keberhasilan dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, khususnya di bidang kefarmasian.</p>
<p>“Kami berterima kasih atas sambutan dan keterbukaan BBPOM Bandar Lampung. Pertemuan ini bukan hanya ajang silaturahmi, tapi langkah strategis untuk memastikan bahwa profesi apoteker di Lampung berjalan sesuai dengan standar dan semangat pelayanan terbaik bagi masyarakat,” tutur Suwartini.</p>
<p>Apt. Suwartini menambahkan bahwa ke depan, PD IAI Lampung akan memperkuat pembinaan kepada anggotanya, baik melalui pelatihan, seminar, maupun kegiatan pengabdian masyarakat, agar apoteker di Lampung semakin siap menghadapi tantangan perubahan regulasi dan kebutuhan masyarakat yang terus berkembang.</p>
<p>Dengan audiensi ini, diharapkan kerja sama antara PD IAI Provinsi Lampung dan BBPOM Bandar Lampung semakin erat.</p>
<p>Kedua lembaga berkomitmen untuk terus berkolaborasi dalam pengawasan, edukasi, dan peningkatan mutu pelayanan kefarmasian demi terwujudnya masyarakat Lampung yang sehat, cerdas, dan sejahtera.***</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://iainews.net/pd-iai-lampung-dan-bbpom-bandar-lampung-perkuat-sinergi-tingkatkan-kualitas-praktik-kefarmasian/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Gerakan “Ayo Buang Sampah Obat” Jadi Sorotan di World Pharmacist Day 2025 Bengkulu</title>
		<link>https://iainews.net/gerakan-ayo-buang-sampah-obat-jadi-sorotan-di-bengkulu/</link>
					<comments>https://iainews.net/gerakan-ayo-buang-sampah-obat-jadi-sorotan-di-bengkulu/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Humas IAI]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 29 Sep 2025 23:40:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sajian Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Berita PD]]></category>
		<category><![CDATA[Pengabdian Masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[ABSO]]></category>
		<category><![CDATA[AMR]]></category>
		<category><![CDATA[apoteker bengkulu]]></category>
		<category><![CDATA[ayo buang sampah obat]]></category>
		<category><![CDATA[Karina Primatyas Ningrum]]></category>
		<category><![CDATA[Novri Fitriani]]></category>
		<category><![CDATA[pd iai bengkulu]]></category>
		<category><![CDATA[resistensi antimikroba]]></category>
		<category><![CDATA[sampah obat]]></category>
		<category><![CDATA[world pharmacist day 2025]]></category>
		<category><![CDATA[WPD 2025]]></category>
		<category><![CDATA[Yenni Fithriani]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://iainews.net/?p=8265</guid>

					<description><![CDATA[Bengkulu, IAINews – Kampanye Gerakan Ayo Buang Sampah Obat (ABSO) menjadi perhatian utama dari seluruh...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Bengkulu, IAINews</strong> – Kampanye <strong>Gerakan Ayo Buang Sampah Obat (ABSO) </strong>menjadi perhatian utama dari seluruh rangkaian kegiatan peringatan <em>World Pharmacist Day</em> di Sport Center Pantai Panjang Bengkulu pada Minggu (21/09/25). Masyarakat yang hadir diajak untuk membawa obat yang sudah kedaluwarsa atau tidak terpakai dari rumah masing-masing. Obat tersebut kemudian dikumpulkan melalui stand khusus BPOM yang tersedia di lokasi acara.</p>
<p><img data-dominant-color="527da9" data-has-transparency="false" style="--dominant-color: #527da9;" decoding="async" class="aligncenter wp-image-8266 size-full not-transparent" src="https://iainews.net/wp-content/uploads/2025/09/IMG_0246-Karina-Tyas-scaled.avif" alt="Kampanye Ayo Buang Sambah Obat (ABSO)" width="1707" height="2560" srcset="https://iainews.net/wp-content/uploads/2025/09/IMG_0246-Karina-Tyas-scaled.avif 1707w, https://iainews.net/wp-content/uploads/2025/09/IMG_0246-Karina-Tyas-768x1152.avif 768w, https://iainews.net/wp-content/uploads/2025/09/IMG_0246-Karina-Tyas-1024x1536.avif 1024w, https://iainews.net/wp-content/uploads/2025/09/IMG_0246-Karina-Tyas-1365x2048.avif 1365w" sizes="(max-width: 1707px) 100vw, 1707px" /></p>
<p>Acara yang dihadiri sekitar 1.000 masyarakat, apoteker, mahasiswa ini digelar oleh Pengurus Daerah Ikatan Apoteker Indonesia (PD IAI) Bengkulu bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Ikatan Senat Mahasiswa Farmasi (ISMAFARSI) wilayah Sumatera 2 dan HIMAFAS1 Universitas Bengkulu (UNIB). Berlangsung secara meriah, acara ini menghadirkan beragam kegiatan, mulai dari “Senam Obat Sehat”, layanan cek kesehatan gratis, pembagian vitamin serta obat cacing, <em>creative games</em> hingga penyuluhan kesehatan masyarakat.</p>
<p>Perwakilan BPOM Bengkulu, apt. Novri Fitriani, S.Farm dan Sivitas Akademika UNIB, apt. Karina Primatyas Ningrum, M.Pharm.Sci dalam kesempatan tersebut menyampaikan pentingnya edukasi tentang pembuangan sampah obat secara benar. “Obat kedaluwarsa tidak boleh dibuang sembarangan, apalagi dikonsumsi kembali. Melalui gerakan ini, kami ingin masyarakat lebih peduli terhadap keamanan obat sekaligus lingkungan,” ujarnya.</p>
<p><img data-dominant-color="83afe0" data-has-transparency="false" style="--dominant-color: #83afe0;" loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter wp-image-8267 size-full not-transparent" src="https://iainews.net/wp-content/uploads/2025/09/IMG_0273-Karina-Tyas-scaled.avif" alt="Ayo Buang Sampah Obat (ABSO)" width="1707" height="2560" srcset="https://iainews.net/wp-content/uploads/2025/09/IMG_0273-Karina-Tyas-scaled.avif 1707w, https://iainews.net/wp-content/uploads/2025/09/IMG_0273-Karina-Tyas-768x1152.avif 768w, https://iainews.net/wp-content/uploads/2025/09/IMG_0273-Karina-Tyas-1024x1536.avif 1024w, https://iainews.net/wp-content/uploads/2025/09/IMG_0273-Karina-Tyas-1365x2048.avif 1365w" sizes="auto, (max-width: 1707px) 100vw, 1707px" /></p>
<p>Selain kampanye ABSO, BPOM juga membawakan materi mengenai <strong><em>antimicrobial management</em> dan resistensi antimikroba (AMR)</strong>. Materi ini menekankan bahaya penggunaan antibiotik yang tidak tepat, yang dapat menyebabkan kuman menjadi kebal terhadap obat (resisten) dan sulit diatasi. BPOM mengingatkan masyarakat untuk tidak membeli antibiotik tanpa resep dokter, mengonsumsi sesuai aturan, serta tidak menyimpan atau membuang antibiotik sembarangan.</p>
<p>Untuk memudahkan masyarakat, BPOM Bengkulu telah menyediakan beberapa titik tempat pembuangan sampah obat, antara lain: Apotek Yenni; Apotek Saraan; Puskesmas Telaga Dewa; dan Puskesmas Betungan.</p>
<p><img data-dominant-color="384b4e" data-has-transparency="false" style="--dominant-color: #384b4e;" loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-8272 not-transparent" src="https://iainews.net/wp-content/uploads/2025/09/WPD-Bengkulu-banner-ABSO.avif" alt="" width="341" height="511" /></p>
<p>Selain itu, masyarakat juga diajak menerapkan <strong>Gerakan 4T</strong> dalam penggunaan obat:</p>
<ol>
<li><strong>Tepat Obat</strong> – sesuai indikasi dan kebutuhan.</li>
<li><strong>Tepat Dosis</strong> – sesuai takaran yang dianjurkan.</li>
<li><strong>Tepat Waktu</strong> – sesuai jadwal konsumsi yang ditetapkan.</li>
<li><strong>Tepat Cara</strong> – cara penggunaan yang benar sesuai aturan.</li>
</ol>
<p>Program ini semakin kuat dengan adanya dukungan Pemerintah Kota Bengkulu. Wali Kota Bengkulu, <strong>Dedi Wahyudi</strong>, yang telah mengeluarkan <strong>Surat Edaran No. 22 Tahun 2025</strong> tentang <em>Pencegahan dan Pengendalian Antimicrobial Resistance (AMR) serta Penyalahgunaan Obat-obatan Tertentu</em>. Kebijakan ini menjadi langkah nyata dalam memperkuat komitmen pemerintah daerah untuk menjaga kesehatan masyarakat dan mencegah dampak buruk resistensi antimikroba.</p>
<p>Antusiasme masyarakat terlihat dari banyaknya peserta yang membawa sampah obat untuk diserahkan di stand BPOM serta keseriusan mereka mengikuti penyuluhan. Hal ini menunjukkan meningkatnya kesadaran akan bahaya pembuangan obat yang tidak tepat dan pentingnya penggunaan obat, terutama antibiotik, secara rasional.</p>
<p><img data-dominant-color="5d7a9b" data-has-transparency="false" style="--dominant-color: #5d7a9b;" loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-8268 not-transparent" src="https://iainews.net/wp-content/uploads/2025/09/WPD-Bengkulu-ABSO-AMR-1.avif" alt="" width="690" height="460" /></p>
<p>Ketua PD IAI Bengkulu, apt. Yenni Fithriani, S.Si., MPA, menegaskan bahwa <em>World Pharmacist Day</em> bukan hanya perayaan profesi apoteker, tetapi juga momentum untuk mengedukasi masyarakat. “Sejalan dengan tema WPD 2025, <em>Think Health, Think Pharmacy</em>, kami ingin menunjukkan bahwa apoteker selalu hadir di tengah masyarakat, salah satunya melalui edukasi pembuangan sampah obat yang aman, upaya pencegahan resistensi antimikroba, serta penerapan Gerakan 4T. Dengan begitu, masyarakat tidak hanya lebih sehat, tetapi juga terlindungi dari dampak penggunaan obat yang tidak bijak,” ujarnya.</p>
<p><a href="https://iainews.net/1000-peserta-senam-obat-sehat-di-wpd-2025-bengkulu/">https://iainews.net/1000-peserta-senam-obat-sehat-di-wpd-2025-bengkulu/</a></p>
<p><a href="https://www.pom.go.id/berita/badan-pom-tumbuhkan-budaya-buang-sampah-obat-yang-benar" target="_blank" rel="noopener">https://www.pom.go.id/berita/badan-pom-tumbuhkan-budaya-buang-sampah-obat-yang-benar</a></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://iainews.net/gerakan-ayo-buang-sampah-obat-jadi-sorotan-di-bengkulu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kolaborasi Himpunan Apoteker Penyuluh PD IAI Sulawesi Selatan dan PSPPA Univeral Laksanakan Kegiatan ‘Apoteker Bertamu’</title>
		<link>https://iainews.net/kolaborasi-pd-iai-sulawesi-selatan-dan-psppa-univeral-laksanakan-kegiatan-apoteker-bertamu/</link>
					<comments>https://iainews.net/kolaborasi-pd-iai-sulawesi-selatan-dan-psppa-univeral-laksanakan-kegiatan-apoteker-bertamu/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Humas IAI]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 16 Dec 2024 12:50:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita PD]]></category>
		<category><![CDATA[Apoteker Bertamu]]></category>
		<category><![CDATA[PD IAI Sulawesi Selatan]]></category>
		<category><![CDATA[resistensi antimikroba]]></category>
		<category><![CDATA[Univeral]]></category>
		<category><![CDATA[WAAW]]></category>
		<category><![CDATA[Yuri Utami]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://berita.iai.id/?p=4665</guid>

					<description><![CDATA[MAKASSAR, IAINews -Himpunan  Apoteker Penyuluh TB  PD IAI Sulawesi Selatan bersama PSPPA Univeral (Universitas Almarisah...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>MAKASSAR, IAINews -Himpunan  Apoteker Penyuluh TB  PD IAI Sulawesi Selatan bersama PSPPA Univeral (Universitas Almarisah Madani) melaksanakan kegiatan ‘Apoteker Bertamu’ (Apoteker Berantas TB Bersamamu).</p>
<p>Kegiatan Apoteker Bertamu dilaksanakan dalam rangka <em>World Antimicrobial Awareness Week (WAAW)</em> atau Pekan Kesadaran Antimikroba yang diinisiasi oleh WHO dan dilaksanakan setiap tahun di seluruh dunia.</p>
<p>Tak ketinggalan Ikatan Apoteker Indonesia sebagai bagian dari orgnisasi tenaga kesehatan dunia turut menggugah kesadaran Masyarakat akan pentingnya pengetahuan mengenai resistensi antimikroba.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-4666" src="https://berita.iai.id/wp-content/uploads/2024/12/Bertamu-Sulsel-1.jpg" alt="" width="602" height="392" /></p>
<p>Kesadaran akan bahaya resistensi obat ini perlu terus ditingkatkan, mengingat sulitnya menemukan jenis antimikroba, terutama antibiotik baru.</p>
<p>Antibiotik terakhir ditemukan pada tahun 1975 dan hingga kini belum ada lagi penemuan antibiotik baru yang lebih adekuat untuk mengobati infeksi bakteri.</p>
<p>Kegiatan Apoteker Bertamu ini diprakarsai oleh Himpunan Apoteker Penyuluh TB PD IAI Sulawesi Selatan dengan wilayah sasaran di RW VII  Tello Baru pada Rabu, 11 Desember 2024.</p>
<p>Penyuluhan secara langsung dilakukan oleh Himpunan Apoteker Penyuluh TB  yang bertugas di Puskesmas Batua yakni apt. Irma., S.Si, Ners. Sundari., S.Kep.</p>
<p>Apt Irma Bersama Ners Sundari, S.Kep dibantu 3 mahasiswa/i yang melaksanakan Praktik Kerja Profesi Apoteker (PKPA) PSPPA (Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker) angkatan VI Universitas Almarisah Madani.</p>
<p>Apoteker Bertamu merupakan inisiatif Ikatan Apoteker Indonesia untuk membantu program pemerintah mengeliminasi tuberkulosis di Indonesia.</p>
<p>Apoteker Bertamu dirilis berkaitan dengan serangkaian perayaan   WAAW (<em>World Antimicrobial Awareness Week)</em>.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-4667" src="https://berita.iai.id/wp-content/uploads/2024/12/Bertamu-Sulsel-2.jpg" alt="" width="508" height="478" /></p>
<p>‘’Dalam kegiatan Apoteker Bertamu ini kami melakukan penyuluhan  antibiotik yakni obat-obat TB, cara minum obat dan resistensi antibiotic yang terjadi bila tidak diminum secara teratur dan sesuai anjuran dokter,’’ ungkap apt. Irma.</p>
<p>Pengetahuan yang baik mengenai penyakit Tuberkulosis (TBC) dan pencegahannya sangat penting sebagai salah satu strategi pencegahan TBC.</p>
<p>Keberhasilan pencegahan tuberkulosis terutama bila didukung dengan sikap yang baik dan sesuai maka akan menghasilkan perilaku yang positif sehingga dapat mebantu pemerintah dalam mengendalikan penularan penyakit TBC dengan maksimal.</p>
<p>“Tuberkulosis (TBC) adalah salah satu penyakit menular yang dapat menginfeksi semua kalangan mulai dari bayi, anak-anak, remaja sampai lansia,’’ jelas apt Irma.</p>
<p>‘’Tuberkulosis menimbulkan angka kesakitan dan kematian lebih dari 1 juta orang setiap tahun,’’ ungkap apt Irma lebih lanjut.</p>
<p>‘’Penyakit ini disebabkan oleh bakteri patogen yang disebut Mycobacterium tuberculosis (MTB),’’ jelas apt Irma didepan peserta penyuluhan.</p>
<p>Resistensi Antimikroba</p>
<p>Dalam kesempatan itu, apt Irma menjelaskan seputar terjadinya resistensi antimikroba/antimicrobial resistance (AMR).</p>
<p>AMR terjadi ketika bakteri, virus, jamur, dan parasit berubah dari waktu ke waktu dan tidak lagi merespons obat-obatan.</p>
<p>Hal ini membuat infeksi lebih sulit diobati dan meningkatkan risiko penyebaran penyakit, penyakit yang parah, dan bahkan kematian.</p>
<p>‘’Akibat resistensi obat, antibiotik dan obat-obatan antimikroba lainnya menjadi tidak efektif dan infeksi menjadi semakin sulit atau tidak mungkin diobati,’’ tandas apt Irma.</p>
<p>Proses disksusi setelah penyuluhan diarahkan  oleh mahasiswa PKPA PSPPA Angkatan VI Univeral.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-4668" src="https://berita.iai.id/wp-content/uploads/2024/12/Bertamu-Sulsel-3.jpg" alt="" width="602" height="326" /></p>
<p>Pekan Kesadaran Antimikroba Sedunia (WAAW) adalah kampanye global yang dirayakan setiap tahun untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang AMR.</p>
<p>WAAW juga mendorong praktik-praktik terbaik di kalangan masyarakat dan pembuat kebijakan, yang semuanya memainkan peran penting dalam mengurangi terjadinya dan penyebaran AMR.</p>
<p>Bukan hanya penyuluhan tetapi kolaborasi dengan profesi lainnya  juga sangat diperlukan. Dalam Apoteker Bertamu, apoteker PD IAI Sulawesi Selatan didampingi oleh perawat dari Puskesmas Batua.</p>
<p>‘’Dalam kegiatan Apoteker Bertamu,  kita juga melakukan pemeriksaan kesehatan berupa pemeriksaan gula darah, tekanan darah dan asam urat,’’  tutur apt Irma.</p>
<p>“Pengurus Himpunan Apoteker Penyuluh TB PD IAI Sulawesi Selatan akan melaksanakan penyuluhan ini kepada masyarakat secara berkelanjutan,’’ ungkap apt Irma.</p>
<p>‘’Saya berharap dengan hadirnya Apoteker Bertamu oleh Apoteker Penyuluh TB ini, masyarakat dapat merasakan manfaat tersebut khususnya untuk pencegahan tuberkulosis,” harap apt. Irma, yang merupakan Sekretaris Himpunan Apoteker Penyuluh TB PD IAI Sulawesi Selatan.</p>
<p>“Berbagai upaya harus terus dilakukan agar dapat memutus rantai penularan, menegakkan diagnosis cepat, mengendalikan infeksi dengan baik, dan pengobatan yang efektif merupakan hal yang sangat penting dalam memberantas TBC di masyarakat,” tutup apt Irma.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://iainews.net/kolaborasi-pd-iai-sulawesi-selatan-dan-psppa-univeral-laksanakan-kegiatan-apoteker-bertamu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Antusiasme Apoteker Samarinda Ikut Pecahkan Rekor MURI BPOM, Ikrar Pengendalian Resistensi Antimikroba</title>
		<link>https://iainews.net/antusiasme-apoteker-samarinda-ikut-pecahkan-rekor-muri-bpom-ikrar-pengendalian-resistensi-antimikroba/</link>
					<comments>https://iainews.net/antusiasme-apoteker-samarinda-ikut-pecahkan-rekor-muri-bpom-ikrar-pengendalian-resistensi-antimikroba/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Humas IAI]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Dec 2024 04:43:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sajian Utama]]></category>
		<category><![CDATA[apoteker]]></category>
		<category><![CDATA[ayo buang sampah obat]]></category>
		<category><![CDATA[Rekor MURI BPOM]]></category>
		<category><![CDATA[resistensi antimikroba]]></category>
		<category><![CDATA[Samarinda]]></category>
		<category><![CDATA[WAAW]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://berita.iai.id/?p=4528</guid>

					<description><![CDATA[SAMARINDA, IAINews — Apoteker Samarinda turut serta dalam upaya untuk memecahkan Rekor MURI BPOM ‘Ikrar...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>SAMARINDA, IAINews — Apoteker Samarinda turut serta dalam upaya untuk memecahkan Rekor MURI BPOM ‘Ikrar Pengendalian Resistensi Antimikroba’.</p>
<p>Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI berhasil memecahkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) untuk Ikrar Pengendalian Resistensi Antimikroba serentak dan terbanyak pada Jumat, 29 November 2024.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-4529" src="https://berita.iai.id/wp-content/uploads/2024/12/Kepala-BPOM-Taruna-Ikra.png" alt="" width="682" height="384" srcset="https://iainews.net/wp-content/uploads/2024/12/Kepala-BPOM-Taruna-Ikra.png 682w, https://iainews.net/wp-content/uploads/2024/12/Kepala-BPOM-Taruna-Ikra-400x225.png 400w, https://iainews.net/wp-content/uploads/2024/12/Kepala-BPOM-Taruna-Ikra-250x140.png 250w" sizes="auto, (max-width: 682px) 100vw, 682px" /></p>
<p>Kepala BPOM, Taruna Ikrar, yang hadir dalam acara tersebut, mengingatkan akan ancaman &#8220;silent pandemic&#8221; akibat resistensi antibiotik yang disebabkan oleh penggunaan antibiotik yang tidak tepat.</p>
<p>Acara ini merupakan bagian dari upaya konsisten BPOM dalam mengendalikan resistensi antimikroba, serta peringatan World AMR Awareness Week (WAAW) 2024. Kegiatan ini mencakup tiga rangkaian utama: pemecahan rekor Ikrar Pengendalian Resistensi Antimikroba, peluncuran kolaborasi &#8220;Ayo Buang Sampah Obat&#8221; (ABSO), dan talkshow dengan narasumber terkemuka.</p>
<p>Taruna Ikrar juga mengungkapkan bahwa tingkat penggunaan antibiotik tanpa resep dokter dari 2021 hingga 2023 menunjukkan angka yang sangat tinggi, yaitu 79,57%, 75,49%, dan 70,75%.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-4530" src="https://berita.iai.id/wp-content/uploads/2024/12/Muri-samarinda-1.jpg" alt="" width="1130" height="628" srcset="https://iainews.net/wp-content/uploads/2024/12/Muri-samarinda-1.jpg 1130w, https://iainews.net/wp-content/uploads/2024/12/Muri-samarinda-1-768x427.jpg 768w, https://iainews.net/wp-content/uploads/2024/12/Muri-samarinda-1-250x140.jpg 250w" sizes="auto, (max-width: 1130px) 100vw, 1130px" /></p>
<p>Selain itu, ia menekankan bahwa penggunaan antibiotik yang berlebihan dapat berdampak buruk pada lingkungan, mempercepat perkembangan resistensi di luar tubuh manusia dan hewan.</p>
<p>Deputi 1 BPOM, Rita Mahyona, menambahkan bahwa pemecahan rekor MURI ini juga dirangkai dengan peluncuran Program Ayo Buang Sampah Obat dengan Benar.</p>
<p>Dalam acara tersebut, piagam rekor MURI diserahkan oleh Andre Purwandono yang mewakili Jaya Suprana.</p>
<p>Di Samarinda kegiatan nonton bareng Semarak Aksi Nyata Pengendalian Resistensi Antimikroba dihadiri oleh sekitar 50 apoteker Samarinda yang terdiri dari apoteker Balai Besar POM di Samarinda, beberapa pengurus daerah IAI Kaltim, ketua dan pengurus cabang IAI Samarinda, apoteker di sarana distribusi (PBF) dan pelayanan kefarmasian kota Samarinda (apotek, klinik, rumah sakit, dan puskesmas), yang bertempat di Aula Balai Besar POM di Samarinda.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-4531" src="https://berita.iai.id/wp-content/uploads/2024/12/Muri-samarinda-2.jpg" alt="" width="1076" height="636" srcset="https://iainews.net/wp-content/uploads/2024/12/Muri-samarinda-2.jpg 1076w, https://iainews.net/wp-content/uploads/2024/12/Muri-samarinda-2-768x454.jpg 768w" sizes="auto, (max-width: 1076px) 100vw, 1076px" /></p>
<p>Pada kegiatan tersebut Abdul Haris Rauf yang mewakili untuk menyampaikan arahan kepala Balai Besar POM di Samarinda bahwa acara ini diharapkan menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran bersama tentang pentingnya meningkatkan kesadaran bersama tentang pentingnya pencegahan resistensi antimikroba.</p>
<p>“Saya apresiasi dan terimakasih atas kehadiran, diskusi, dan partisipasi bapak ibu apoteker semoga terus dilakukan upaya langkah konkret untuk mencegah dan mengendalikan resistensi antimikroba” tutur Abdul Haris  Rauf.***</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://iainews.net/antusiasme-apoteker-samarinda-ikut-pecahkan-rekor-muri-bpom-ikrar-pengendalian-resistensi-antimikroba/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>DESA PERTAMA DI INDONESIA YANG JADI PELOPOR PENGGUNAAN ANTIBIOTIK BIJAK</title>
		<link>https://iainews.net/desa-pertama-di-indonesia-yang-jadi-pelopor-penggunaan-antibiotik-bijak/</link>
					<comments>https://iainews.net/desa-pertama-di-indonesia-yang-jadi-pelopor-penggunaan-antibiotik-bijak/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Humas IAI]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 22 Nov 2024 03:53:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Apoteker Menulis]]></category>
		<category><![CDATA[Berita Organisasi]]></category>
		<category><![CDATA[Berita PD]]></category>
		<category><![CDATA[Kolaborasi]]></category>
		<category><![CDATA[Pengabdian Masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[Sajian Utama]]></category>
		<category><![CDATA[apoteker]]></category>
		<category><![CDATA[apoteker indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[berita apoteker]]></category>
		<category><![CDATA[berita iai]]></category>
		<category><![CDATA[Edukasi Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[farmasi klinis unbi]]></category>
		<category><![CDATA[iai news]]></category>
		<category><![CDATA[IAI PD Bali]]></category>
		<category><![CDATA[iainews]]></category>
		<category><![CDATA[IGA Rai Widowati]]></category>
		<category><![CDATA[ikatan apoteker indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan global]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan Masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[Kolaborasi Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[ohcc udayana]]></category>
		<category><![CDATA[pengabdian masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[peran apoteker]]></category>
		<category><![CDATA[pharmacist]]></category>
		<category><![CDATA[resistensi antimikroba]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Bali Internasional]]></category>
		<category><![CDATA[waaw2024]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://berita.iai.id/?p=4316</guid>

					<description><![CDATA[Tabanan, Bali @IAINews.id – Resistensi antimikroba atau antimicrobial resistance (AMR) menjadi ancaman terbesar bagi kesehatan...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Tabanan, Bali @IAINews.id</strong> – Resistensi antimikroba atau <em>antimicrobial resistance</em> (AMR) menjadi ancaman terbesar bagi kesehatan global.</p>
<p>Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) memperingatkan bahwa penyalahgunaan antibiotik yang tidak rasional dapat menyebabkan dampak yang fatal, bahkan memicu “<em>silent pandemic</em>” yang mengancam ribuan nyawa.</p>
<p>Berdasarkan data WHO, pada tahun 2019, tercatat 1,27 juta kematian global akibat AMR, dan diproyeksi akan terjadi kelonjakan menjadi 10 juta kematian per tahun pada 2050 jika penggunaan antibiotik yang tidak rasional terus dilakukan.</p>
<p>Namun, di tengah ancaman tersebut, sebuah inisiatif di Bali menjadi harapan baru.</p>
<p>Dalam rangka World Antibiotics Awareness Week (WAAW) yang jatuh pada 18-24 November setiap tahunnya, SAJAKA dilaunching.</p>
<p><strong>Apa itu SAJAKA?</strong></p>
<p>Program SAJAKA (Desa Bijak Antibiotik)  bertujuan untuk menanggulangi permasalahan AMR dengan pendekatan edukasi yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat, mulai dari ibu rumah tangga, tenaga kesehatan, peternak, hingga siswa sekolah.</p>
<p>SAJAKA diinisiasi oleh One Health Coordinating Center (OHCC) Universitas Udayana berkolaborasi dengan program studi Farmasi Klinis Universitas Bali Internasional (UNBI) dan program studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Dhyana Pura.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-4320" src="https://berita.iai.id/wp-content/uploads/2024/11/sajaka4-scaled.jpg" alt="" width="2560" height="1920" srcset="https://iainews.net/wp-content/uploads/2024/11/sajaka4-scaled.jpg 2560w, https://iainews.net/wp-content/uploads/2024/11/sajaka4-100x75.jpg 100w, https://iainews.net/wp-content/uploads/2024/11/sajaka4-768x576.jpg 768w, https://iainews.net/wp-content/uploads/2024/11/sajaka4-1536x1152.jpg 1536w, https://iainews.net/wp-content/uploads/2024/11/sajaka4-2048x1536.jpg 2048w" sizes="auto, (max-width: 2560px) 100vw, 2560px" /></p>
<p style="text-align: center;">Tim SAJAKA berfoto bersama</p>
<p>Turut juga dalam kolaborasi ini, Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Provinsi Bali, Persatuan Ahli Mikrobilogi Klinis (PAMKI) Bali, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat (IAKMI) Provinsi Bali, dan Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Bali.</p>
<p>Desa di wilayah Kecamatan Kediri, Tabanan, Bali, menjadi desa pertama di Indonesia yang mempelopori program penggunaan antibiotik secara bijak.</p>
<p>Program ini yang diluncurkan sejak Juli 2022 dimana Desa Bengkel sebagai pilot project.</p>
<p>Pada tahun 2023-2024 program ini dipeluas ke empat desa, yaitu Buwit, Nyitdah, Belalang, dan Pejaten.</p>
<p><strong>Menjangkau Ratusan Masyarakat</strong></p>
<p>Prof. Dr. Ni Nyoman Sri Budayanti, Koordinator One Health Coordinating Center (OHCC) Universitas Udayana, mengungkapkan bahwa pendekatan lintas sektoral yang digunakan telah berhasil meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya penggunaan antibiotik secara bijak.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-4319" src="https://berita.iai.id/wp-content/uploads/2024/11/sajaka3-scaled.jpg" alt="" width="2560" height="1920" srcset="https://iainews.net/wp-content/uploads/2024/11/sajaka3-scaled.jpg 2560w, https://iainews.net/wp-content/uploads/2024/11/sajaka3-100x75.jpg 100w, https://iainews.net/wp-content/uploads/2024/11/sajaka3-768x576.jpg 768w, https://iainews.net/wp-content/uploads/2024/11/sajaka3-1536x1152.jpg 1536w, https://iainews.net/wp-content/uploads/2024/11/sajaka3-2048x1536.jpg 2048w" sizes="auto, (max-width: 2560px) 100vw, 2560px" /></p>
<p style="text-align: center;">Prof. Sri Budayanti menyerahkan cinderamata kepada 4 kepala desa</p>
<p>“Kami berhasil mengedukasi sebanyak 399 ibu rumah tangga dan memperkuat peran mereka sebagai pengambil keputusan dalam kesehatan keluarga,” ujar Sri Budayanti saat diseminasi laporan program Sajaka pada 20 November 2024.</p>
<p>Program ini tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membangun kesadaran kolektif untuk mencegah penyalahgunaan antibiotik.</p>
<p>Selain itu, lebih dari 400 siswa juga dilibatkan dalam edukasi interaktif yang membahas AMR dan antibiotik, dengan menggunakan flipchart.</p>
<p>Hal ini bertujuan untuk membentuk kebiasaan penggunaan antibiotik yang tepat sejak dini. Ini melibatkan 15 edukator yang dilatih untuk memperkuat pemahaman dan praktik penggunaan antibiotik yang bertanggung jawab.</p>
<p><strong>Keterlibatan Masyarakat dan Pihak Swasta</strong></p>
<p>Tidak hanya itu, keterlibatan masyarakat dalam program ini sangat signifikan.</p>
<p>Kepala Desa Nyitdah, Drs. Dewa Putu Alit Artha, mengungkapkan bahwa mereka telah melibatkan kader posyandu dan bidan desa untuk mensosialisasikan penggunaan antibiotik yang bijak.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-4317" src="https://berita.iai.id/wp-content/uploads/2024/11/sajaka1-scaled.jpg" alt="" width="1920" height="2560" srcset="https://iainews.net/wp-content/uploads/2024/11/sajaka1-scaled.jpg 1920w, https://iainews.net/wp-content/uploads/2024/11/sajaka1-768x1024.jpg 768w, https://iainews.net/wp-content/uploads/2024/11/sajaka1-1152x1536.jpg 1152w, https://iainews.net/wp-content/uploads/2024/11/sajaka1-1536x2048.jpg 1536w" sizes="auto, (max-width: 1920px) 100vw, 1920px" /></p>
<p style="text-align: center;">Camat Kediri Tabanan menyampaikan apresiasi SAJAKA</p>
<p>“Sosialisasi ini dilakukan dalam berbagai kegiatan, mulai dari posyandu balita, ibu hamil, posyandu remaja, hingga senam lansia,” ujar Alit Artha.</p>
<p>Keterlibatan pihak swasta, seperti Pfizer Indonesia, juga memberikan dampak positif.</p>
<p>Pfizer Indonesia turut serta dalam memberikan pendanaan untuk memperluas cakupan program keempat desa tambahan, serta mendukung pelatihan untuk tenaga medis dan masyarakat.</p>
<p>Senior Manager Global Policy &amp; Public Affairs Pfizer Indonesia, Khoirul Amin, menegaskan pentingnya pencegahan AMR di semua lapisan masyarakat.</p>
<p>“Keterlibatan kami dalam program SAJAKA merupakan komitmen untuk mendukung kemajuan sektor kesehatan Indonesia,” kata Khoirul.</p>
<p><strong>Menyongsong Masa Depan yang Lebih Sehat</strong></p>
<p>Seiring dengan semakin banyaknya desa yang bergabung dalam program SAJAKA, tim berharap dapat terus meningkatkan efektivitas program ini.</p>
<p>Diharapkan, dengan edukasi yang berkelanjutan, penyalahgunaan antibiotik dapat ditekan, dan AMR dapat dicegah, sehingga dapat menyelamatkan nyawa dan mengurangi angka kematian di masa depan.</p>
<p>“Kami berkomitmen mendukung penggunaan antibiotik yang bijak dengan menghimbau seluruh anggota IAI Bali agar tidak lagi memberikan antibiotik tanpa resep”, demikian ditegaskan oleh apt. I Gede Purna Yogi Suara, S.Si., Wakil Ketua III IAI Bali yang juga pemilik jejaring apotekKu Group.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-4318" src="https://berita.iai.id/wp-content/uploads/2024/11/sajaka2.jpg" alt="" width="1332" height="1601" srcset="https://iainews.net/wp-content/uploads/2024/11/sajaka2.jpg 1332w, https://iainews.net/wp-content/uploads/2024/11/sajaka2-768x923.jpg 768w, https://iainews.net/wp-content/uploads/2024/11/sajaka2-1278x1536.jpg 1278w" sizes="auto, (max-width: 1332px) 100vw, 1332px" /></p>
<p style="text-align: center;">apt. Yogi Suara mendukung SAJAKA</p>
<p>Program ini adalah contoh nyata bagaimana upaya kolektif dari pemerintah, masyarakat, akademisi, dan sektor swasta dapat menyelesaikan masalah besar yang mengancam kesehatan global.</p>
<p>Dengan langkah-langkah yang tepat, Indonesia dapat menjadi contoh bagi dunia dalam menghadapi masalah AMR.***</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://iainews.net/desa-pertama-di-indonesia-yang-jadi-pelopor-penggunaan-antibiotik-bijak/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>KENALKAN ANTIBIOTIK SEJAK DINI! ‘KARINA’ JADI PRIMADONA PARA BOCIL</title>
		<link>https://iainews.net/kenalkan-antibiotik-sejak-dini-karina-jadi-primadona-para-bocil/</link>
					<comments>https://iainews.net/kenalkan-antibiotik-sejak-dini-karina-jadi-primadona-para-bocil/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Humas IAI]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 18 Nov 2024 06:11:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Apoteker Menulis]]></category>
		<category><![CDATA[Berita Organisasi]]></category>
		<category><![CDATA[Berita PD]]></category>
		<category><![CDATA[Kolaborasi]]></category>
		<category><![CDATA[Pengabdian Masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[Sajian Utama]]></category>
		<category><![CDATA[antimicrobial resistance]]></category>
		<category><![CDATA[berita iai]]></category>
		<category><![CDATA[Edukasi Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[farmasi klinis unbi]]></category>
		<category><![CDATA[flipchart Karina]]></category>
		<category><![CDATA[iai news]]></category>
		<category><![CDATA[IGA Rai Widowati]]></category>
		<category><![CDATA[ikatan apoteker indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan global]]></category>
		<category><![CDATA[pekan resistensi antimikroba]]></category>
		<category><![CDATA[pencegahan resistensi antibiotik]]></category>
		<category><![CDATA[pengabdian masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[Promosi Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[resistensi antimikroba]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Bali Internasional]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://berita.iai.id/?p=4259</guid>

					<description><![CDATA[Gianyar @IAINews.id &#8211; Dalam rangka memperingati Pekan Kesadaran Resistensi Antibiotik Sedunia atau World Antibiotic Awareness...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Gianyar @IAINews.id</strong> &#8211; Dalam rangka memperingati Pekan Kesadaran Resistensi Antibiotik Sedunia atau World Antibiotic Awareness Week (WAAW), terlaksana pengabdian masyarakat di Sekolah Dasar Negeri 3 Celuk, Gianyar Bali, pada Jumat 15 November 2024.</p>
<p>Tema WAAW 2024 adalah “Mendidik/<em>Educate</em>, Menganjurkan/<em>Advocate</em>, Bertindak/<em>Act Now</em>” .</p>
<p>Tema ini dipilih berdasarkan masukan dari survei <em>online</em> di antara para pemangku kepentingan di sektor kesehatan manusia, hewan, tumbuhan, dan lingkungan, yang mengumpulkan hampir 200 tanggapan secara global.</p>
<p>Tim pengabdian masyarakat terdiri dari mahasiswa program studi Farmasi Universitas Bali Internasional (UNBI) berkolaborasi dengan Rumah Sakit Ganesha Gianyar meluncurkan inovasi edukasi yang menarik dan penuh warna yaitu <em>flipchart</em> “KARINA”, sebuah alat bantu visual yang dirancang khusus untuk mendekati anak-anak (bocil) dan meningkatkan pemahaman mereka tentang penggunaan antibiotik yang bijak.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-4261" src="https://berita.iai.id/wp-content/uploads/2024/11/Karina4.jpg" alt="" width="1280" height="960" srcset="https://iainews.net/wp-content/uploads/2024/11/Karina4.jpg 1280w, https://iainews.net/wp-content/uploads/2024/11/Karina4-100x75.jpg 100w, https://iainews.net/wp-content/uploads/2024/11/Karina4-768x576.jpg 768w" sizes="auto, (max-width: 1280px) 100vw, 1280px" /></p>
<p style="text-align: center;">dr. I Wayan Agus Gede Manik Saputra bersama mahasiswa farmasi UNBI</p>
<p>Kegiatan ini bukan hanya sekadar kampanye, tetapi juga sebuah upaya nyata untuk menanamkan kesadaran sejak dini tentang bahaya penyalahgunaan antibiotik, yang semakin menjadi isu global.</p>
<p><strong>Mengapa Fokus pada Bocil?</strong></p>
<p>Anak-anak adalah generasi masa depan, oleh karena itu, mendidik mereka tentang penggunaan antibiotik yang benar sangatlah penting.</p>
<p>Penyalahgunaan antibiotik sejak usia dini dapat berisiko menyebabkan resistensi antibiotik, yang merupakan salah satu ancaman kesehatan terbesar dunia saat ini.</p>
<p>Tim pengabdian masyarakat ini menyadari bahwa, untuk mencapai perubahan yang lebih luas, edukasi yang menarik dan mudah dipahami harus disampaikan kepada anak-anak dengan cara yang menyenangkan.</p>
<div style="width: 680px;" class="wp-video"><!--[if lt IE 9]><script>document.createElement('video');</script><![endif]-->
<video class="wp-video-shortcode" id="video-4259-1" width="680" height="385" preload="metadata" controls="controls"><source type="video/mp4" src="https://berita.iai.id/wp-content/uploads/2024/11/Karina6.mp4?_=1" /><a href="https://berita.iai.id/wp-content/uploads/2024/11/Karina6.mp4" target="_blank" rel="noopener">https://berita.iai.id/wp-content/uploads/2024/11/Karina6.mp4</a></video></div>
<p><strong><em>Flipchart</em> &#8220;KARINA&#8221; hadir sebagai solusi inovatif. </strong></p>
<p>Dibuat dengan gambar-gambar lucu, karakter yang menggemaskan, dan bahasa yang sederhana, <em>flipchart</em> ini bertujuan untuk membuat anak-anak tidak hanya memahami, tetapi juga mengingat dengan baik pesan-pesan penting tentang penggunaan antibiotik yang tepat.</p>
<p>Melalui karakter &#8220;KARINA&#8221; yang selalu ceria, edukasi menjadi lebih menyenangkan dan mudah diingat oleh para bocil.</p>
<p><strong>Cerita Dibalik &#8220;KARINA&#8221;</strong></p>
<p>“KARINA” merupakan singkatan dari &#8220;Kita Atasi Resistensi Antibiotik Bersama Anak&#8221;, dikembangkan oleh dr. I Wayan Agus Gede Manik Saputra, SpKedKlin., SpMK., seorang ahli mikrobiologi klinis yang <em>concern</em> terhadap <em>antimicrobial resistance</em>.</p>
<p>Karakter “KARINA” digambarkan sebagai sosok pahlawan kecil yang siap membantu anak-anak memahami cara tepat dalam menggunakan antibiotik.</p>
<p>Setiap halaman <em>flipchart</em> berisi informasi yang dijelaskan dengan cara yang mudah dipahami oleh anak-anak.</p>
<p>Misalnya, tentang kapan antibiotik harus digunakan, mengapa tidak boleh mengkonsumsi antibiotik tanpa resep dokter, dan apa dampak dari penyalahgunaan antibiotik.</p>
<p><strong>Aktivitas Seru dengan Bocil</strong></p>
<p>Selama WAAW 2024, tim pengabdian masyarakat tidak hanya menjelaskan <em>flipchart</em> “KARINA”, tetapi juga melibatkan anak-anak dalam berbagai aktivitas seru.</p>
<p>Mereka diajak untuk berinteraksi langsung melalui permainan dan kuis.</p>
<p>Para murid yang berpartisipasi dalam kegiatan ini juga mendapatkan kesempatan untuk berkreasi, dengan bernyanyi bersama dengan lagu Dagusibu Obat, sehingga mereka mengingat bagaimana cara yang benar untuk menggunakannya.</p>
<div style="width: 480px;" class="wp-video"><video class="wp-video-shortcode" id="video-4259-2" width="480" height="848" preload="metadata" controls="controls"><source type="video/mp4" src="https://berita.iai.id/wp-content/uploads/2024/11/Karina5.mp4?_=2" /><a href="https://berita.iai.id/wp-content/uploads/2024/11/Karina5.mp4" target="_blank" rel="noopener">https://berita.iai.id/wp-content/uploads/2024/11/Karina5.mp4</a></video></div>
<p>Hasilnya? Para bocil tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan, menjawab pertanyaan tentang antibiotik.</p>
<p><strong>Membangun Kesadaran Masyarakat</strong></p>
<p>Edukasi seperti ini, meskipun menyasar anak-anak, ternyata juga memiliki dampak positif bagi orang tua.</p>
<p>Ketika anak-anak pulang ke rumah dan mulai berbicara tentang antibiotik dengan penuh percaya diri, orang tua mereka pun akan merasa terdorong untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan antibiotik.</p>
<p>Ini adalah langkah penting dalam memerangi resistensi antibiotik, karena perubahan perilaku dimulai dari keluarga, yang kemudian berdampak pada masyarakat luas.</p>
<p>Edukasi berbasis visual seperti <em>flipchart</em> “KARINA” ini terbukti efektif, karena anak-anak dapat memahami konsep yang cukup kompleks dengan cara yang menyenangkan dan penuh warna.</p>
<p>Dengan mengajak anak-anak sebagai agen perubahan (<em>agent of change</em>), diharapkan kesadaran akan pentingnya penggunaan antibiotik yang bijak bisa tersebar dengan lebih cepat.</p>
<p><strong>Harapan di Masa Depan</strong></p>
<p>Tim kolaborasi pengabdian masyarakat berharap, kegiatan ini tidak hanya berhenti pada peringatan WAAW 2024, tetapi bisa terus diperluas ke sekolah-sekolah, komunitas, dan fasilitas kesehatan lainnya.</p>
<p>Selain itu, mereka juga berencana untuk mengembangkan materi edukasi lebih lanjut, termasuk video animasi dan aplikasi <em>mobile</em>, agar pesan tentang antibiotik yang bijak bisa terus tersampaikan secara lebih luas dan efektif.</p>
<p>Dengan <em>flipchart</em> “KARINA”, hal ini membuktikan bahwa edukasi tidak harus serius dan membosankan.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-4263" src="https://berita.iai.id/wp-content/uploads/2024/11/Karina3.jpg" alt="" width="960" height="1280" srcset="https://iainews.net/wp-content/uploads/2024/11/Karina3.jpg 960w, https://iainews.net/wp-content/uploads/2024/11/Karina3-768x1024.jpg 768w" sizes="auto, (max-width: 960px) 100vw, 960px" /></p>
<p>Dengan pendekatan yang kreatif dan penuh kasih sayang, anak-anak bisa belajar tentang kesehatan dengan cara yang menyenangkan, dan membawa perubahan nyata dalam kesadaran penggunaan antibiotik di masyarakat.</p>
<p>Ingat, antibiotik itu penting, tapi hanya untuk yang membutuhkan dan sesuai resep dokter.***</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://iainews.net/kenalkan-antibiotik-sejak-dini-karina-jadi-primadona-para-bocil/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		<enclosure url="https://berita.iai.id/wp-content/uploads/2024/11/Karina6.mp4" length="3910995" type="video/mp4" />
<enclosure url="https://berita.iai.id/wp-content/uploads/2024/11/Karina5.mp4" length="7950221" type="video/mp4" />

			</item>
		<item>
		<title>Gema Cermat Puskesmas Kalideres: Mewujudkan Kesadaran Penggunaan Obat di Hari Apoteker Sedunia</title>
		<link>https://iainews.net/gema-cermat-puskesmas-kalideres-mewujudkan-kesadaran-penggunaan-obat-di-hari-apoteker-sedunia/</link>
					<comments>https://iainews.net/gema-cermat-puskesmas-kalideres-mewujudkan-kesadaran-penggunaan-obat-di-hari-apoteker-sedunia/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Humas IAI]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 31 Oct 2024 03:46:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengabdian Masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[Sajian Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Antibiotik]]></category>
		<category><![CDATA[edukasi obat]]></category>
		<category><![CDATA[gema cermat]]></category>
		<category><![CDATA[hari apoteker sedunia]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan Masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[lomba farmasi]]></category>
		<category><![CDATA[penggunaan obat]]></category>
		<category><![CDATA[Puskesmas Kalideres]]></category>
		<category><![CDATA[resistensi antimikroba]]></category>
		<category><![CDATA[World Pharmacists Day]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://berita.iai.id/?p=3986</guid>

					<description><![CDATA[Kalideres, IAINews &#8211; Dalam rangka memperingati Hari Apoteker Sedunia (World Pharmacists Day) Tahun 2024, Unit...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kalideres, IAINews &#8211;</strong> Dalam rangka memperingati Hari Apoteker Sedunia (World Pharmacists Day) Tahun 2024, Unit Farmasi Puskesmas Kalideres mengadakan kegiatan Gema Cermat (Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat) pada tanggal 18 Oktober 2024. Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh petugas farmasi dan ibu kader Puskesmas Kalideres.</p>
<p>Acara dibuka oleh Kepala Puskesmas Kalideres, dr. Linda Lidya, M. Epid. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan pentingnya peran farmasi dalam mendukung kesehatan secara global, sejalan dengan tema World Pharmacists Day yaitu &#8220;Farmasis Siap Mendukung Kebutuhan Kesehatan Menuju Jakarta Sebagai Kota Global.&#8221;</p>
<p>Acara dilanjutkan dengan penandatanganan komitmen Farmasi antara petugas dan ibu kader, serta senam peregangan yang dipandu oleh Tim Farmasi Puskesmas Kalideres dan diikuti oleh semua peserta. Selanjutnya, ada paparan tentang Pengendalian Resistensi Antimikroba yang disampaikan oleh Apoteker Penanggung Jawab Puskesmas Kalideres, apt. Popi El Adita, S. Farm.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-3989" src="https://berita.iai.id/wp-content/uploads/2024/10/image5-4-e1730346315947.jpg" alt="" width="649" height="647" /></p>
<p>Kegiatan World Pharmacists Day di Puskesmas Kalideres merupakan acara rutin tahunan yang bertujuan untuk meningkatkan kepedulian dan semangat petugas farmasi serta ibu kader dalam mewujudkan penggunaan obat dan antibiotik secara rasional.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-3988" src="https://berita.iai.id/wp-content/uploads/2024/10/image6.jpg" alt="" width="650" height="395" /></p>
<p>Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk melakukan edukasi tentang penggunaan obat dan antibiotik yang tepat di masyarakat. Komitmen ini menjadi tanggung jawab petugas farmasi dan ibu kader, di mana ibu kader berperan sebagai perpanjangan tangan petugas farmasi dalam memberikan edukasi kepada keluarga dan masyarakat.</p>
<p>Untuk meningkatkan semangat ibu kader, diadakan lomba &#8220;Clash of Champion Farmasi&#8221; di mana ibu kader diuji pengetahuannya tentang ilmu dan kegiatan farmasi yang telah didapatkan selama kegiatan Gema Cermat.</p>
<p>Salah satu peserta, Ibu Hajar, kader perwakilan dari Kelurahan Kalideres, berbagi pengalamannya setelah mengikuti kegiatan Gema Cermat World Pharmacists Day. Ia berharap ibu kader lebih memahami cara melakukan edukasi penggunaan obat yang baik sehingga masyarakat dapat lebih paham dalam penggunaan obat yang tepat.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-3990" src="https://berita.iai.id/wp-content/uploads/2024/10/image8-e1730346377842.jpg" alt="" width="649" height="435" /></p>
<p>Kegiatan ditutup dengan pemberian hadiah kepada para pemenang lomba Clash of Champion Farmasi, yang diserahkan oleh Kepala Puskesmas Kalideres.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://iainews.net/gema-cermat-puskesmas-kalideres-mewujudkan-kesadaran-penggunaan-obat-di-hari-apoteker-sedunia/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Peran Apoteker dalam Meningkatkan Akses dan Efektivitas Obat di Indonesia: Tantangan dan Solusi</title>
		<link>https://iainews.net/peran-apoteker-dalam-meningkatkan-akses-dan-efektivitas-obat-di-indonesia-tantangan-dan-solusi/</link>
					<comments>https://iainews.net/peran-apoteker-dalam-meningkatkan-akses-dan-efektivitas-obat-di-indonesia-tantangan-dan-solusi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Humas IAI]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 16 Sep 2024 04:40:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita PP]]></category>
		<category><![CDATA[Sajian Utama]]></category>
		<category><![CDATA[akses obat]]></category>
		<category><![CDATA[bpjs kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[BPOM Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[efektivitas obat]]></category>
		<category><![CDATA[efisiensi obat]]></category>
		<category><![CDATA[harga obat]]></category>
		<category><![CDATA[IAI 2024]]></category>
		<category><![CDATA[Kebijakan Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[kebijakan pembiayaan obat]]></category>
		<category><![CDATA[ketersediaan obat]]></category>
		<category><![CDATA[obat kadaluwarsa]]></category>
		<category><![CDATA[pandemi Covid-19]]></category>
		<category><![CDATA[Pelayanan Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[pengelolaan stok obat]]></category>
		<category><![CDATA[pengobatan stroke]]></category>
		<category><![CDATA[peran apoteker]]></category>
		<category><![CDATA[resistensi antibiotik]]></category>
		<category><![CDATA[resistensi antimikroba]]></category>
		<category><![CDATA[RSUD Bali Mandara]]></category>
		<category><![CDATA[RSUD Dr. M. Soewandhie Surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[RSUD Sidoarjo]]></category>
		<category><![CDATA[universitas indonesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://berita.iai.id/?p=3248</guid>

					<description><![CDATA[Mataram, IAINews &#8211; Di Pertemuan Ilmiah Tahunan Ikatan Apoteker Indonesia (IAI), yang berlangsung pada Sabtu,...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Mataram, IAINews</strong> &#8211; Di <strong>Pertemuan Ilmiah Tahunan Ikatan Apoteker Indonesia (IAI)</strong>, yang berlangsung pada Sabtu, 31 Agustus 2024, di Hotel Lombok Raya, Mataram, berbagai penelitian dipresentasikan dengan tema besar mengenai akses dan efektivitas obat di Indonesia.</p>
<p>Isu ini menjadi tantangan serius, terutama selama dan pasca-pandemi, di mana ketersediaan dan penggunaan obat yang tepat dan terjangkau sangat penting untuk mendukung pemulihan kesehatan masyarakat.</p>
<p>Penelitian-penelitian tersebut menawarkan solusi konkret untuk mengatasi masalah yang dihadapi dalam akses obat dan efektivitas penggunaannya.</p>
<p><strong>Larasati Arrum Kusumawardania</strong> dari Universitas Indonesia, dalam penelitiannya, mengeksplorasi tantangan akses obat bagi pasien Covid-19 yang menjalani isolasi mandiri di Jabodetabek.</p>
<p>Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun ada peningkatan akses di awal 2022, harga obat yang tinggi dan kurangnya informasi yang akurat masih menjadi kendala utama.</p>
<p>Hal ini menekankan perlunya kesiapsiagaan lebih baik dalam menghadapi krisis kesehatan di masa depan.</p>
<p>Mengatasi isu terkait ketersediaan obat, <strong>Eme Stepani Sitepu</strong> dari Universitas Indonesia mengkaji pengelolaan stok obat di RSUD Bali Mandara.</p>
<p>Ia menemukan bahwa meskipun stok obat terjaga dengan baik, beberapa obat kadaluwarsa dan disimpan terlalu lama. Solusi yang diusulkan adalah peningkatan efisiensi pengelolaan persediaan agar obat yang tersedia dapat segera digunakan sesuai kebutuhan tanpa terbuang sia-sia.</p>
<p><strong>Irhamahayati</strong> dari BPOM Jakarta mengangkat tantangan dalam mengendalikan resistensi antimikroba (AMR).</p>
<p>Meskipun ada program pengendalian penggunaan antibiotika, implementasinya di berbagai rumah sakit belum optimal.</p>
<p>Peneliti ini menyarankan peningkatan pengawasan dan pelatihan untuk tenaga kesehatan agar penggunaan antibiotik lebih terkontrol, sehingga efektivitas pengobatan dapat ditingkatkan.</p>
<p><strong>Dianita Rahayu Puspitasari</strong> dari RSUD Dr. M. Soewandhie Surabaya menyampaikan isu terkait kebijakan pembiayaan obat, terutama golongan statin yang tidak diklaim oleh BPJS.</p>
<p>Banyak pasien, terutama yang tidak memenuhi syarat klaim, harus menanggung biaya obat sendiri, yang menambah beban finansial.</p>
<p>Penelitian ini mendorong adanya evaluasi kebijakan agar semua pasien dapat mengakses obat yang dibutuhkan tanpa beban biaya berlebihan.</p>
<p>Terakhir, <strong>Gugus Viriantia</strong> dari RSUD Sidoarjo menyoroti perbedaan antara biaya riil dan klaim BPJS pada pengobatan stroke.</p>
<p>Penelitiannya mengungkapkan bahwa tingginya biaya obat menjadi penyebab utama selisih negatif ini. Solusi yang diajukan adalah pengawasan lebih ketat terhadap penggunaan obat, dengan mempertimbangkan faktor seperti durasi rawat inap dan komorbiditas pasien.</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong>:<br />
Penelitian-penelitian yang dipresentasikan di Pertemuan Ilmiah Tahunan IAI 2024 memberikan pandangan komprehensif mengenai tantangan yang dihadapi dalam akses dan efektivitas obat di Indonesia.</p>
<p>Dengan fokus pada efisiensi pengelolaan stok obat, pengendalian resistensi antimikroba, dan evaluasi kebijakan pembiayaan, para peneliti menawarkan langkah-langkah strategis untuk meningkatkan layanan kesehatan di masa mendatang.</p>
<p>Apoteker berperan krusial dalam mewujudkan akses obat yang lebih baik dan penggunaan yang lebih efektif, terutama dalam konteks tantangan pasca-pandemi.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://iainews.net/peran-apoteker-dalam-meningkatkan-akses-dan-efektivitas-obat-di-indonesia-tantangan-dan-solusi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Rakernas dan PIT IAI 2024: Menyatukan Apoteker Indonesia dalam Menghadapi Transformasi Kesehatan</title>
		<link>https://iainews.net/rakernas-dan-pit-iai-2024-menyatukan-apoteker-indonesia-dalam-menghadapi-transformasi-kesehatan/</link>
					<comments>https://iainews.net/rakernas-dan-pit-iai-2024-menyatukan-apoteker-indonesia-dalam-menghadapi-transformasi-kesehatan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Humas IAI]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 28 Aug 2024 11:00:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita PP]]></category>
		<category><![CDATA[Sajian Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Alat Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[apoteker indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[industri farmasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kemandirian Farmasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan Masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[Ketahanan Farmasi]]></category>
		<category><![CDATA[Omnibus Law]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan apoteker]]></category>
		<category><![CDATA[Peningkatan Kompetensi]]></category>
		<category><![CDATA[peran apoteker]]></category>
		<category><![CDATA[PIT IAI]]></category>
		<category><![CDATA[Rakernas IAI 2024]]></category>
		<category><![CDATA[resistensi antimikroba]]></category>
		<category><![CDATA[Transformasi Kesehatan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://berita.iai.id/?p=2965</guid>

					<description><![CDATA[Mataram, IAINews &#8211; Rakernas dan Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) resmi dibuka...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div class="sticky top-0 p-3 mb-1.5 flex items-center justify-between z-10 h-14 font-semibold bg-token-main-surface-primary">
<div class="flex items-center gap-0 overflow-hidden">
<div id="radix-:r4l:" class="group flex cursor-pointer items-center gap-1 rounded-lg py-1.5 px-3 text-lg font-semibold hover:bg-token-main-surface-secondary radix-state-open:bg-token-main-surface-secondary text-token-text-secondary overflow-hidden whitespace-nowrap" aria-label="" aria-haspopup="menu" aria-expanded="false" data-state="closed">
<div class="text-token-text-secondary">
<p><strong>Mataram, IAINews <i>&#8211;</i></strong> Rakernas dan Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) resmi dibuka hari Rabu, 28 Agustus 2024 di Hotel Lombok Raya, Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat.</p>
<p>Acara yang dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan dalam dunia kefarmasian ini menyoroti berbagai isu penting yang dihadapi oleh profesi apoteker, khususnya dalam meningkatkan kualitas dan akses layanan kesehatan di Indonesia.</p>
<p>Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB, Dr. dr. H. Lalu Hamzi Fikri, MM., MARS., dalam pemaparannya menekankan pentingnya ketahanan kefarmasian dan alat kesehatan di tengah tantangan pandemi COVID-19 yang telah membawa pembelajaran penting bagi pembangunan kesehatan di Indonesia.</p>
<p>Salah satu upaya yang ditekankan adalah mendorong penelitian dan pengembangan sediaan farmasi dan alat kesehatan dengan memanfaatkan produk nasional yang tersedia.</p>
<p>“Upaya pemerintah difokuskan pada peningkatan kemandirian sediaan farmasi dan alat kesehatan melalui pengembangan serta penguatan tata kelola pasokan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Pemberian prioritas insentif bagi industri sediaan farmasi dan alat kesehatan, baik fiskal maupun nonfiskal, juga menjadi langkah strategis untuk memperkuat sektor ini,” papar Dr. Lalu Hamzi.</p>
<p><strong>Omnibus Law dan Perubahan Organisasi Profesi</strong></p>
<p>Dr. Lalu Hamzi juga mengungkapkan adanya perubahan signifikan terkait regulasi dengan pencabutan 11 Undang-Undang yang kemudian digantikan oleh Omnibus Law.</p>
<p>Hal ini berimplikasi pada struktur organisasi profesi apoteker di Indonesia, dari yang sebelumnya berbentuk single bar menjadi multibar.</p>
<p>Dalam konteks ini, IAI diharapkan dapat menjadi &#8220;rumah besar&#8221; bagi seluruh apoteker, yang dapat menyatukan dan memperkuat peran profesi dalam menghadapi dinamika kebijakan dan regulasi yang baru.</p>
<p><strong>Mendorong Kemandirian Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan</strong></p>
<p>Untuk memperkuat ketahanan farmasi dan alat kesehatan, pemerintah juga mendorong hilirisasi penelitian nasional dengan membangun ekosistem penelitian yang mendukung, kemudahan perizinan penelitian, serta pengembangan sumber daya pendukung.</p>
<p>Di samping itu, untuk mitigasi risiko sediaan farmasi dan alat kesehatan dalam kondisi darurat seperti Kejadian Luar Biasa (KLB) atau wabah, pemerintah memperketat regulasi, termasuk memprioritaskan penggunaan produk dalam negeri.</p>
<p>Obat generik dengan nama International Nonproprietary Name (INN) yang dipasarkan di Indonesia, misalnya, hanya boleh diproduksi oleh industri di dalam negeri.</p>
<p>Ini merupakan langkah konkret untuk memastikan kemandirian serta keberlanjutan pasokan obat dan alat kesehatan di tanah air.</p>
<p><strong>Peran Apoteker sebagai Agent of Change dalam Edukasi Masyarakat</strong></p>
<p>Dalam konteks resistensi antimikroba (AMR) yang semakin meningkat, Dr. Lalu Hamzi menekankan pentingnya peran apoteker sebagai &#8220;Agent of Change&#8221;.</p>
<p>Apoteker diharapkan dapat lebih aktif dalam memberikan edukasi kepada masyarakat terkait penggunaan obat yang tepat dan rasional, serta berperan dalam pengendalian resistensi obat.</p>
<p>“Transformasi kesehatan menghadirkan tantangan dan peluang bagi profesi apoteker. Tantangannya termasuk adaptasi terhadap perubahan peran dan tuntutan profesional yang semakin kompleks, seperti peningkatan peran dan tanggung jawab, serta tekanan untuk meningkatkan kompetensi dan adaptasi terhadap teknologi dan sistem baru,” jelasnya.</p>
<p>Namun, lanjut Dr. Lalu Hamzi, tantangan ini juga membuka peluang bagi pengembangan karir yang lebih luas bagi apoteker, peningkatan peran dalam tim kesehatan, serta kontribusi yang lebih besar dalam meningkatkan kesehatan masyarakat.</p>
<p><strong>Unram dan Peningkatan Kompetensi Apoteker</strong></p>
<p>Dalam acara ini, turut disampaikan kabar gembira dari Universitas Mataram (Unram) yang meluluskan 100% mahasiswa profesi apoteker tahun ini.</p>
<p>Hal ini menunjukkan adanya peningkatan kompetensi sumber daya manusia di bidang kefarmasian yang siap untuk menjawab tantangan kesehatan di masa depan.</p>
<p>Rakernas dan PIT IAI 2024 diharapkan dapat menjadi momentum penting bagi apoteker di seluruh Indonesia untuk bersatu dalam menghadapi berbagai perubahan dan tantangan di era transformasi kesehatan, sekaligus memperkuat peran apoteker sebagai garda terdepan dalam menjaga kesehatan masyarakat.</p>
</div>
</div>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://iainews.net/rakernas-dan-pit-iai-2024-menyatukan-apoteker-indonesia-dalam-menghadapi-transformasi-kesehatan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
