<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>penyakit &#8211; IAI NEWS</title>
	<atom:link href="https://iainews.net/tag/penyakit/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://iainews.net</link>
	<description>Portal Berita Ikatan Apoteker Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Wed, 25 Feb 2026 05:21:46 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.8.6</generator>

<image>
	<url>https://iainews.net/wp-content/uploads/2025/03/cropped-Untitled-1-32x32.jpg</url>
	<title>penyakit &#8211; IAI NEWS</title>
	<link>https://iainews.net</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Membiasakan Diksi Positif: Langkah Menuju Kesembuhan di Bulan Ramadan</title>
		<link>https://iainews.net/membiasakan-diksi-positif-langkah-menuju-kesembuhan-di-bulan-ramadan/</link>
					<comments>https://iainews.net/membiasakan-diksi-positif-langkah-menuju-kesembuhan-di-bulan-ramadan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[apt Tresnawati Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 25 Feb 2026 05:21:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Apoteker Menulis]]></category>
		<category><![CDATA[aulia rahim]]></category>
		<category><![CDATA[berkata positif]]></category>
		<category><![CDATA[dampak]]></category>
		<category><![CDATA[diksi positif]]></category>
		<category><![CDATA[kata-kata]]></category>
		<category><![CDATA[kesembuhan]]></category>
		<category><![CDATA[obat]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://iainews.net/?p=11655</guid>

					<description><![CDATA[DI sebuah desa yang damai, terdapat seorang wanita bernama Fatimah. Dia menjalani proses penyembuhan dari...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>DI sebuah desa yang damai, terdapat seorang wanita bernama Fatimah. Dia menjalani proses penyembuhan dari penyakit yang membuatnya merasa lelah dan putus asa.</p>
<p>Namun, di bulan suci Ramadan tahun ini, dia merasa ada harapan baru. Ia menjumpai seorang sahabat lama, Siti, yang menceritakan tentang kekuatan diksi positif dan dampaknya pada kesehatan mental dan emosional.</p>
<p>Pada suatu sore, setelah shalat maghrib, Fatimah dan Siti duduk di halaman rumah. Di bawah langit yang dihiasi cahaya bintang, Siti berkata, “Fatimah, kamu tahu tidak? Kata-kata yang kita pilih bisa mempengaruhi cara kita merasa. Cobalah untuk selalu menggunakan diksi positif. Ini bisa membantu proses kesembuhanmu”.</p>
<p><img data-dominant-color="848079" data-has-transparency="false" style="--dominant-color: #848079;" fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-11656 not-transparent" src="https://iainews.net/wp-content/uploads/2026/02/Membiasakan-2-Aulia-Rahim-Channel.jpg" alt="" width="1000" height="667" /></p>
<p>Fatimah merasa penasaran. “Bagaimana bisa kata-kata mempengaruhi kesembuhan?” tanyanya. Siti pun menjelaskan bahwa menggunakan diksi positif membantu membangun pola pikir yang optimis dan penuh harapan. Dalam perjalanan hidup, banyak orang yang merasakan bahwa dengan berpikir positif, mereka mampu menghadapi tantangan dan melewati masa sulit.</p>
<p>Motivasi Siti menginspirasi Fatimah untuk mencoba. Ia pun mulai membiasakan diri menggunakan ungkapan-ungkapan positif dalam setiap aspek kehidupannya.</p>
<p>Setiap pagi, ketika bangun dari tidur, Fatimah berubah dari ucapan “Aku rasa hari ini akan sulit” menjadi “Hari ini adalah kesempatan baru untuk merasa lebih baik.” Dengan mengalihkan pikiran ke arah yang positif, ia mulai merasakan semangat yang baru.</p>
<p>Selama bulan Ramadan, Fatimah juga menggunakan momen-momen suci ini untuk memperbanyak doanya. Ia mengganti kalimat-kalimat negatif dalam doanya dengan yang lebih positif.</p>
<p>Bukannya berkata “Semoga penyakit ini segera pergi,” ia mulai berdoa, “Aku percaya bahwa kesembuhanku sudah dekat, dan aku berusaha dengan penuh keyakinan.”</p>
<p>Dengan cara ini, Fatimah merasa lebih dekat dengan harapan dan ketenangan. Selain itu, Fatimah juga mulai berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya.</p>
<p>Ia berusaha untuk berbicara dengan penuh semangat dan positif. Ketika bertemu tetangga yang bertanya bagaimana kabarnya, alih-alih berkata “Aku masih sakit,” ia menjawab, “Aku merasa lebih baik dan semakin kuat setiap harinya” Dengan mengubah cara berbicaranya, Fatimah menemukan dukungan emosional dari orang-orang di sekelilingnya.</p>
<p>Tak hanya untuk dirinya sendiri, Fatimah juga berusaha menularkan semangat ini kepada anggota keluarganya. Ia mengajak suami dan anak-anaknya untuk menciptakan lingkungan yang positif di rumah.</p>
<p>Menggunakan diksi positif dan saling mendukung, mereka bisa melalui berbuka puasa dengan penuh keceriaan dan rasa syukur.</p>
<p>Di akhir bulan Ramadan, Fatimah sangat bersyukur. Dengan membiasakan diri menggunakan diksi positif, ia merasa lebih baik secara fisik dan mental.</p>
<p>Proses penyembuhannya pun terasa lebih ringan. Fatimah menyadari bahwa kata-kata memiliki kekuatan. Dalam mengarungi hidup, terutama di masa sulit, berpikir dan berbicara positif bisa menjadi penguat semangat dan harapan.</p>
<p>Bulan Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga waktu untuk merawat jiwa dan pikiran. Kita semua diajak untuk menyadari bahwa kebiasaan baik, termasuk menggunakan diksi positif, dapat membawa perubahan yang signifikan dalam hidup.</p>
<p>Ketika kita memberikan diri kesempatan untuk berfikir dan berkata positif, kita membangun jembatan menuju kesembuhan dan kebahagiaan.</p>
<p>Jadi, mari kita sambut Ramadan dengan semangat baru, dengan penuh harapan dan kata-kata positif. Dengan cara itu, kita menjaga kesehatan fisik, mental dan emosional.</p>
<p>Seperti Fatimah, kita bisa belajar bahwa perubahan kecil dalam cara kita berbicara bisa menciptakan dampak yang besar dalam hidup kita, gunakanlah diksi positif.***</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://iainews.net/membiasakan-diksi-positif-langkah-menuju-kesembuhan-di-bulan-ramadan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ketika Divonis Suatu Penyakit</title>
		<link>https://iainews.net/ketika-divonis-suatu-penyakit/</link>
					<comments>https://iainews.net/ketika-divonis-suatu-penyakit/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[apt Tresnawati Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 04 Aug 2025 14:05:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Apoteker Menulis]]></category>
		<category><![CDATA[aulia rahim]]></category>
		<category><![CDATA[berpikir positif]]></category>
		<category><![CDATA[kesembuhan]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[pikiran]]></category>
		<category><![CDATA[semakin terpuruk]]></category>
		<category><![CDATA[vonis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://iainews.net/?p=6572</guid>

					<description><![CDATA[‘KITA tidak bisa mengubah arah angin, tetapi kita bisa menyesuaikan layar kita untuk selalu menuju...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>‘KITA tidak bisa mengubah arah angin, tetapi kita bisa menyesuaikan layar kita untuk selalu menuju tujuan kita’ (Jimmy Dean)</p>
<p>Ungkapan di atas mengisyaratkan bahwa kita harus fokus pada hal-hal yang bisa kita kendalikan dan beradaptasi dengan kondisi yang dialami.</p>
<p>Ungkapan di atas mengisyaratkan bahwa kita harus fokus pada hal-hal yang bisa kita kendalikan dan beradaptasi dengan kondisi yang dialami. Begitu pula ketika kita divonis suatu penyakit.</p>
<p><img data-dominant-color="7c7370" data-has-transparency="false" style="--dominant-color: #7c7370;" decoding="async" class="size-medium wp-image-6573 aligncenter not-transparent" src="https://iainews.net/wp-content/uploads/2025/08/Ketika-Divonis-Suatu-Penyakit-Aulia-Rahim-Channel-250x190.avif" alt="" width="250" height="190" /></p>
<p>Hal pertama yang bisa kita lakukan yakni menerimanya. Menerima dengan lapang dada bahwa diri ini mengidap suatu penyakit, tetapi yakinlah kelak suatu hari penyakit ini akan sembuh.</p>
<p>Setelah menerima, kita harus bisa berpikir positif dengan kondisi yang ada sekarang ini. Barang kali kita diminta untuk hidup lebih sehat lagi, menjaga kesehatan lebih diperketat, dan mengatur kembali pola hidup sehari-hari.</p>
<p>Ketika kita berpikir positif, maka hal-hal negatif tidak akan menghampiri. Terlebih hal-hal negatif yang membuat kita semakin terpuruk dengan vonis penyakit yang ada. Kita tidak bisa mengendalikan penyakit saat kita sudah divonis, tapi kita bisa mengendalikan pikiran agar bisa berpikir positif di setiap kejadian yang dialami.</p>
<p>Berpikir positif ini pula yang akan membuat diri kita lebih terkendali. Kita akan lebih fokus pada penyembuhan bukan pada penyakit yang ada sekarang ini.</p>
<p>Berpikir positif bahwa kita akan sembuh adalah jalan terbaik yang bisa ditempuh untuk menuju kesembuhan. Langkah awal yang semakin mendekatkan pada kesembuhan yang bisa dilakukan saat pertama kali divonis suatu penyakit yakni berpikir positif.</p>
<p>Kita akan menjalani tahapan demi tahapan pemeriksaan ataupun pengobatan untuk menuju pada kesembuhan. Pikiran kitalah yang mampu kita kendalikan disaat penyakit tidak bisa dikendalikan.</p>
<p>Apabila kita juga tidak bisa mengendalikan pikiran maka penyakit pun semakin tidak terkendali dan kita pun semakin terpuruk pada keadaan yang dialami.</p>
<p>Vonis suatu penyakit apalagi penyakit berat itu memang menyakitkan, tapi sakitnya itu ada di ‘pukulan pertama’ saat mendengarkan kabar bahwa kita menderita suatu penyakit yang berat. Sesudahnya itu, kita bisa kendalikan dengan berpikir positif. Memikirkan langkah-langkah solutif apa yang bisa dilakukan untuk kesembuhan.</p>
<p>Asalkan kita mau menjalankan dan mematuhi berbagai saran dan larangan dari dokter terkait penyakit yang diderita dan patuh pada pengobatan, maka kesembuhan yang diharapkan akan semakin mendekat.</p>
<p>Tetaplah berpikir positif apapun vonis penyakit yang diterima. Kendalikan pikiran kita agar tetap berpikir positif. Kita harus yakin bahwa diri kita kelak akan sembuh. Bagaimana kesembuhan itu akan datang jika diri sendiri saja tidak yakin akan hadirnya kesembuhan?</p>
<p>Vonis suatu penyakit itu tidak mengerikan. Lebih mengerikan ketika kita tidak bisa menghadapinya dan malah terbawa arus semakin membuat diri ambruk bahkan kehilangan arah tak tahu harus berbuat apa.</p>
<p>Hadapi vonis suatu penyakit dengan pikiran yang positif agar mudah muncul sesuatu yang solutif, memberikan solusi kesembuhan bukan malah menambah permasalahan atau bahkan keterpurukan.***</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://iainews.net/ketika-divonis-suatu-penyakit/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Diksi Positif di dalam Doa</title>
		<link>https://iainews.net/diksi-positif-di-dalam-doa/</link>
					<comments>https://iainews.net/diksi-positif-di-dalam-doa/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[apt Tresnawati Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 24 Jul 2025 00:43:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Apoteker Menulis]]></category>
		<category><![CDATA[bersemangat]]></category>
		<category><![CDATA[diksi positif di dalam doa]]></category>
		<category><![CDATA[dokter]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[lekas sembuh]]></category>
		<category><![CDATA[mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[pasien]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[wajah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://iainews.net/?p=6342</guid>

					<description><![CDATA[INI adalah sebuah contoh bagaimana diksi positif di dalam doa membantu kesembuhan pasien. Pelan tapi...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>INI adalah sebuah contoh bagaimana diksi positif di dalam doa membantu kesembuhan pasien.</p>
<p>Pelan tapi pasti beberapa orang mahasiswa pascasarjana farmasi praktik klinis di sebuah rumah sakit mengikuti langkah sang dokter spesialis penyakit dalam yang juga seorang konsultan geriatri.</p>
<p>Sang dokter melangkah menuju suatu ruangan untuk menjenguk pasien.</p>
<p><img data-dominant-color="a9746a" data-has-transparency="false" style="--dominant-color: #a9746a;" decoding="async" class="size-medium wp-image-6343 aligncenter not-transparent" src="https://iainews.net/wp-content/uploads/2025/07/Diksi-positif-dalam-doa-250x190.avif" alt="" width="250" height="190" /></p>
<p>Setiba di depan pasien. Dokter bertutur, “Mari kita doakan bersama Bapak (sambil menyebutkan nama pasien) agar lekas sembuh dan bisa beraktivitas kembali”.</p>
<p>Mahasiswa pun ikut mendoakan dan mengangkat kedua tangan. Sang dokter membaca doa yang artinya, “Ya Allah, Tuhan dari semua manusia, hilangkanlah penyakit ini, sembuhkanlah. Engkaulah Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit”.</p>
<p>“Aaamiiin”, berbarengan diucapkan oleh beberapa mahasiswa seusai sang dokter membaca doa.</p>
<p>Dilihat sekilas pada wajah sang pasien, muncul optimisme atas kesembuhan dari penyakit dan merasa tenang sebab dia menyadari bahwa orang-orang di sekelilingnya mendukung untuk sembuh dan memberikan perhatian yang lebih kepada dirinya.</p>
<p>Bukan hanya ucapan doa, diksi positif yang ditularkan oleh sang dokter saat membacakan doa tersebut membuat pasien lebih bersemangat untuk melawan penyakit dan yakin akan kesembuhannya.</p>
<p>Siapa yang tidak mau didoakan untuk kesembuhan? Kita pun saat sakit akan merasakan bahagia dan tenang saat ada orang yang mendoakan kesembuhan.</p>
<p>Diksi-diksi positif di dalam doa itulah yang mampu mengantarkan setiap pasien menuju pada kesembuhan. Ada kekuatan di luar kekuatan manusia yang sudah dengan sungguh-sungguh berusaha agar sembuh dengan melalui berobat yakni kekuatan doa, menyerahkan seluruhnya kepada Sang Pemilik Diri.</p>
<p>Diksi positif di dalam doa, mengajarkan kepada kita agar berjuang dengan sekuat tenaga untuk sembuh dan selanjutnya serahkan semuanya kepada Sang Pencipta.</p>
<p>Diksi positif di dalam doa, menuntun kita agar senantiasa yakin dan bersemangat menjalani hari-hari walaupun diri dalam kondisi belum optimal dan berangsur-angsur menuju sehat.</p>
<p>Ketika diksi positif dalam doa tidak kita dapatkan dari orang lain, maka kita ucapkan sendirilah diksi positif itu untuk kesembuhan pribadi.</p>
<p>Berdoalah! Perbanyaklah berdoa! Apalagi dalam kondisi sakit. Perbanyaklah mengucapkan diksi positif dalam doa. Mungkin selama ini kita belum sering mengucapkan diksi positif dalam keseharian. Kini, saat dalam kondisi sakit, diksi positif kita ucapkan dalam doa-doa.</p>
<p>Susahkan kita untuk mengucapkan diksi positif? Bukankah diksi positif dalam doa tersebut adalah pengharapan dan impian kita agar lekas sembuh. Mengapa kita masih enggan untuk mengucapkan diksi positif?</p>
<p>Mari kita biasakan mengucapkan diksi positif dalam doa, ketika dalam berbagai kondisi apapun. Saat sakit kita berdoa, saat sehat pun kita tetap berdoa dengan berbagai diksi positif lainnya agar tetap diberikan kesehatan dan kelancaran dalam menjalani kegiatan sehari-hari.</p>
<p>Yuk, rutinkan mengucap diksi positif di dalam doa.***</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://iainews.net/diksi-positif-di-dalam-doa/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
